Monday, April 23, 2012

Guru SR Bogor Menjadi Duta Pemuda Perdamaian Unesco


Dunia yang damai dimana setiap orang bisa hidup dengan aman, damai, saling menghormati, dan cukup pangan merupakan dambaan setiap orang. Fakta menunjukan bahwa dunia yang didambakan tersebut masih jauh dari kenyataan. Di beberapa belahan dunia, perang atau konflik masih terjadi, bencana kelaparan masih melanda, bahkan penggunaan senjata nuklir yang dapat mengancam kelangsungan hidup manusia belum bisa dihentikan.

Sebagai wujud kepedulian dalam mendukung dunia yang lebih baik, guru TKB Al Fajri yaitu Muslihudin Sharbinie atau yang lebih dikenal dengan panggilan Pak Uli menjadi duta perdamaian UNESCO. Kegiatan yang diikuti yaitu workshop di Malaysia tahun 2011 dan workshops di Hiroshima, Jepang tanggal 24-31 Maret 2012. Workshops di Jepang ini adalah yang ke-empat. Berbagai hal menarik dan pengalaman berharga diperoleh selama mengikuti workshops.

Perjalanan diawali tanggal 22 Maret 2012 dengan transit ke Malaysia. Saya menginap di penginapan dengan anggaran 80 RM (atau sekitar Rp. 180.000/malam). Ke esokan harinya, tanggal 23 Maret bersama rekan lain dari Malaysia berangkat menuju Osaka. Penerbangan menuju Jepang ditempuh dalam waktu 7 jam. Kami tiba di bandara Kansai International Airport sekitar jam 11 malam. Pertama menginjakan kaki di Jepang kami disambut oleh hujan rintik dan suhu yang sangat dingin, sekitar 4 derajat Celsius. Selanjutnya kami harus naik kereta api menuju Hiroshima di mana workshops akan dilaksanakan. Ternyata, kreta bullet yang akan membawa kami ke Hiroshima sudah tidak ada. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari hotel atau penginapan. Sayangnya hotel terdekat sudah penuh, akhirnya kami memutuskan untuk menghabiskan malam keliling kota. Kesan kedua tentang Jepang adalah negara yang sangat aman, bersih dan ramah. Ditengah malam orang masih bisa keliling kota dengan rasa nyaman. Akhirnya kami menghabiskan malam keliling kota Osaka dan isirahat di sebuah restauran yang terbilang tradisional. Dengan kemampuan Bahasa Jepang yang ala kadarnya kami berkomunikasi dan bertukar pengalaman.

Keesokan harinya  kami berangkat menuju Hiroshima dengan kreta bullet yang ditemput dalam waktu 2 jam. Sedangkan kalau naik bis sekitar sembilan jam. Jam 9 pagi kami tiba di tempat menginap, yaitu Hiroshima City Mitaki Children's Nature Center Accommodation, sebuah pusat pembelajaran bagi siswa Sekolah Dasar. Wah, tempatnya sangat rapi, bersih, dan tentu saja memiliki fasiltas pembelajaran yang lengkap. Setelah selesai sarapan pagi, kami menuju Hiroshima Peace Museum (Museum Perdamaian Hiroshima) dengan naik bis yang telah disediakan panitia. 

Perjalanan menuju kota Hiroshima ditempuh dalam waktu 20 menit, jam 09.00 kami tiba di aula dengan disambut panitia. Selanjutnya kami mengikuti pembukaan workshops dan berkenalan satu sama lain. Workshop kali ini diikuti oleh 150 peserta dari 16 negara. Sebagian besar peserta adalah wajah baru, dan sisanya  sudah saya kenal ketika pelatihan di Penang, Malaysia tahin 2011. Kami bertemu dengan Professor Daryl Macer, Direktur UNESCO Bangkok yang sudah tidak asing lagi. 

Hari pertaman workshops diisi dengan materi oleh beberapa pembicara di antaranya Professor Taro Mochizuki, Osaka University, Japan (Osaka University) menjelaskan bagaimana dengan materi Philosophy on Civil Society Movement in Post-war Japan dan Prof. Peter Harteloh, Erasmus Institute for Philosophical Practice, Rotterdam, the Netherlands dengan materi tentang filosofi perang dan damai. Materi berikutnya adalah Conscience, activism and the UN  yang disampaikan oleh Dr Steve Leeper, Chair, HPCF, tentang hakekat damai dan relevansinya dengan penggunaan senjata nuklir yang dibawakan. Pemateri berikutnya adalah Profesor Darryl Macer, UNESCO Regional AdvisorRoles of civil society and UN technical agencies”. Selanjutnya kami di ajak keliling museum dipandu oleh Dr Steve. Banyak sekali yang kami pelajari selama berkeliling museum. Intinya adalah senjata nuklir merupakan senjata pemusnah yang sangat berbahaya sehingga sudah seharusnya senjata penggunaan senjata nuklir dalam bentuk apa pun harus dilarang. Pembicara terakhir adalah seorang survivor (yang selamat) pada saat bom atom dijatuhkan di Hiroshima. Paparan yang dijelaskan sangat menyentuh hati mengingatkan semua peserta untuk menolak penggunaan bom atom (nuklir) dalam segala bentuk. 

Tanggal 26 Maret lokasi pelatihan berpindah ke pulau Etajima, sebuah lokasi yang dulu digunakan sebagai tempat pelatihan militer Jepang. Perjalanan ditempuh dengan car-train, mirip kereta api tapi lebih pendek. Selang 20 menit kami tiba di Hiroshima Port, pelabuhan penyebrangan ke lokasi. Selanjutnya kami naik kappa feri selama kurang lebih 30 menit. Tiba dilokasi National Etajima Youth Friendship Center dan  disambut oleh pengelola lokasi, dan memberikan tata tertib dan fasilitas yang terdapat dilokasi. Selanjutnya kami menerima materi Stakeholder Identification and Integration dan Leadership: Diplomacy and Peace yang disampaikan oleh Alex Mejia, Director of UNITAR Regional Office. Materi terakhir adalah Action Plan Development diberikan oleh Berin McKenzie, UNITAR.

Tanggal 27-30 Maret merupakan hari-hari dimana peserta memaparkan Tanggal 27-30 Maret merupakan hari-hari dimana peserta memaparkan action plan yang telah dilakukan (bagi yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya) dan yang akan dilakukan (bagi peserta baru). Tidak kurang dari 148 action plan dipresentasikan baik yang dilakukan secara individu atau kelompok. Saya mempresentasikan action plan, “peacebuilding over Taiji’s dolphin dispute”, yaitu upaya untuk menciptakan damai pada konflik lumba-lumba di Taiji, Jepang. Seperti diketahui perburuan (atau lebih dikenal dengan pembunuhan) lumba-lumba di Taiji telah lama menarik perhatian seluruh dunia. Selama musim perburuan, September sampai Maret tidak kurang dari 20,000 lumba-lumba ditangkap baik untuk konsumsi atau untuk keperluan captivity (seperti dipelihara di aquarium). Perburuan tersebut mendapatkan respon dari kalangan pencinta lingkungan dan hewan di seluruh dunia dengan melakukan protes dalam berbagai bentuk. Protes aktivis tersebut bukan tanpa alasan, setidak-tidaknya terdapat tiga alasan penting. 

Pertama, lumba-lumba merupakan mamalia yang sangat cerdas dan perlu dilindungi. Kedua, penelitian menunjukan bahwa daging lumba-lumba mengandung racun sehingga mengkonsumsi daging tersebut memiliki resiko negatif. Ketiga, lumba-lumba yang ditangkap dan sipelihara dalam aquarium merupakan penyiksaan karena lumba-lumba akan dipisahkan dari lingkungannya, serta lumba-lumba memerlukan areal yang sangat luas untuk bergerak.
Selain sarat dengan materi workshops ini juga sarat dengan wisata dan jalan-jalan. Kami mengunjungi beberapa lokasi yang sangat menarik, seperti Miyajima, Hiroshima castle, Osaka, Kyoto, dan beberapa tempat lainnya. 

Hari terakhir diisi dengan pembagian sertifikat dan foto bersama serta beberapa pengumuman diantaranya workshops ke lima akan diadakan di Bangkok bulan Desember 2012, dank e-6 di usulkan di Yogyakarta tahun 2013. Jika tertarik bisa bergabung di group face book. Acara yang lain adalah 2nd UNESCO Youth Forum: Looking Beyond Disaster in Sendai city, Japan, 16-19 Agustus 2012,
https://www.facebook.com/events/350255841688293/. Anda pun bisa mendukung terciptanya dunia yang lebih aman. Be the change to see changes you want to see in the world.
 
Penulis M. Sharbinie
Guru TKB Mandiri Al Fajri

No comments:

Post a Comment