Minggu, 27 Mei 2012

Mengenal Mutiarani, Siswi dengan Nilai UN Tertinggi se-Indonesia

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Minggu, 27/05/2012 06:10 WIB.
Mutiarani / Angling


Semarang, Mutiarani, murid kelas XII Akuntansi 1 SMKN 2 Semarang mendapatkan nilai tertinggi dalam kelulusan tingkat SMA/SMK/MA tahun 2012. Meski hidup dalam kesederhanaan, ia tidak pernah setengah-setengah dalam menempuh pendidikan.

Siswi yang dikenal pendiam tersebut tinggal bersama Ibu dan dua kakaknya yang sudah bekerja. Ibu Mutiarani, Sutarmi bekerja sebagai penjaga rumah milik pengusaha minyak di dekat rumahnya di desa Sutak RT6 RW4, Pudak Payung, Semarang. Sementara itu ayahnya, Juwarto meninggal sejak tahun 2007 lalu akibat penyakit ginjal.

Dengan penghasilan ibunya yang hanya Rp 600 ribu/bulan, tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti pelajaran di bimbingan belajar selain sekolah. Namun demikian ia mengakali hal tersebut dengan belajar rutin mulai pukul 19.00 WIB.

"Sampai rumah biasanya pukul 15.00 WIB terus istirahat sebentar setelah itu membantu ibu. Terus pukul 19.00 WIB disempatkan belajar," kata Mutiarani di sekolahnya, jalan Dr. Cipto, Semarang, Sabtu (26/5/2012).

Sementara itu kakak Mutiarani, Tri Utami mengatakan, adiknya setiap kali belajar tidak pernah jauh dari televisi. Meski demikian pihak keluarga tidak melarangnya.

"Kalau belajar tidak pernah jauh dari televisi. Tapi kami sekeluarga percaya kalau adek (Mutiarani) bersungguh-sungguh," katanya.

Mutiarani mengaku senang menonton televisi apalagi jika ada jadwal pertandingan sepak bola. Bahkan ia mengaku rela begadang setelah belajar jika tim favoritnya yaitu Barcelona berlaga.

"Tapi waktu ujian kemarin enggak bisa nonton soalnya remote televisi disembunyikan ibu," ungkapnya sambil tersenyum.

Selain itu, meskipun jarak antara rumah dan sekolah Mutiarani yang mencapai 18 Kilometer dan harus ditempuh menggunakan angkutan kota, Mutiarani mengaku tidak pernah satu kalipun terlambat ke Sekolah.

"Saya berangkat dari rumah pukul 05.45 WIB, jadi enggak pernah terlambat," aku Mutiarani.

Mutiarani dikenal sebagai murid pendiam dan kurang menonjol di sekolahnya. Meski demikian, menurut Kepala Jurusan Akuntansi SMKN 2 Semarang, Sri Sulasmi, Mutiarani termasuk murid yang selalu mendapatkan nilai pelajaran baik.

"Anak yang tadinya diperkirakan mendapatkan prestasi malah kalah oleh Mutiarani. Tidak menyangka karena anaknya pendiam," katanya.

Mutiarani lulus dengan nilai akumulatif bahasa Indonesia 9,5 lalu nilai bahasa Inggris 9,5, Matematika 9,7 dan Kompetensi 9,6. Nilai itulah yang membuat Mutiarani memiliki nilai tertinggi ujian nasional tahun 2012.

Dara kelahiran 27 November 1994 tersebut juga mengaku terkejut dengan hasil ujian yang sangat membanggakan tersebut.

"Tidak menyangka karena saat tryout banyak yang nilainya lebih tinggi," akunya.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin mengaku akan mengawal jika ada siswa berprestasi dan jika diperlukan pihaknya juga akan membuat surat rekomendasi.

"Kami akan mengawal siswa yang berprestasi dan jika perlu kami akan membuat rekomendasi bahwa siswa tersebut berprestasi," ungkap Bunyamin.


(mpr/mpr)

Rabu, 23 Mei 2012

Mahalnya Pendidikan Masa Kini

Rabu, 23 Mei 2012, 18:22 WIB
Blogspot.com
Mahalnya Pendidikan Masa Kini
Pendidikan tinggi (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID,CIPAYUNG -- Apa sih ukuran pendidikan Indonesia? Pendidikan unggul dipandang dari sisi pengelola bila sarana belajar mengajar terbaik, materi ilmu pengetahuan diajarkan termaju, dan motivasi belajar.

Untuk mengukur keunggulan relatif suatu pendidikan formal seperti sekolah dan universitas atau pendidikan non formal seperti pelatihan dan seminar, bisa dengan mempertanyakan tiga unsur esensial yang saling berkaitan. Bangunan sekolah reyot atau alat praktek tak ada, ilmu pengetahuan diajarkan ketinggalan, atau guru sering tidak masuk mengajar, semua pasti buruk hasilnya. Karenanya ada dana operasional memperbaiki sarana sekolah dan uji kompetensi untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi.

Di Indonesia cukup banyak sekolah dan universitas masuk kriteria memiliki sarana bagus, kurikulum pelajaran mencontoh negara maju dan jumlah pengajar dengan gelar bergengsi lulusan luar negeri.
Sehingga nampaknya terlihat pendidikan Indonesia sudah unggul.

Namun dalam hal apa pun, termasuk pendidikan, ukuran keunggulan sesungguhnya adalah kualitas, bukan kuantitas. Jika hanya copy-paste ilmu pengetahuan dan teknologi dari negara atau pengajar lain kemudian diajarkan kembali, tidak mungkin unggul dibanding negara atau pengajar asalnya. Tanpa mencari sesuatu hal yang baru .

Contoh, dari hasil penelitian, tak sedikit mahasiswa yang hanya mencari gelar dengan jalan pintas seperti, membeli skripsi dengan membayar uang sebesar lima juta. Sedangkan dalam konteks pelajar SMA dalam menghadapi Ujian Nasional tak sedikit dari mereka yang bersantai-santai karena hanya mengandalkan kunci jawaban yang mereka beli dengan harga Rp 75.000 sampai Rp 100.000.

Masalah yang sering menimpa siswa-siswi di kota-kota besar yakni minat belajar. Jika di daerah-daerah pelosok siswa-siswinya mempunyai semangat yang besar untuk belajar walau dengan fasilitas minim, di kota-kota besar kebalikannya.

Di kota-kota besar mayoritas sarana pendidikannya lebih bagus, komplit serta nyaman. Akses yang bagus serta tenaga pendidik yang berkualitas. Tetapi justru dengan sarana “mewah” tersebut siswa-siswi-nya mayoritas tak memiliki minat belajar yang tinggi.

Ini bisa dilihat dari beberapa faktor, pertama siswa-siswi tersebut terlalu asik dengan kemajuan teknologi sehingga menurunkan minatnya akan belajar. Lalu dari sisi lain, terdapat siswa-siswinya yang lebih memilih membantu kedua orang tuanya mencari nafkah ketimbang untuk pergi sekolah, dikarenakan kondisi ekonomi. Tentunya hal ini sangatlah aneh, yang di daerah terpencil dengan fasilitas minim mati-matian berjuang demi pendidikan mereka tetapi yang di kota malah kurang sekali minat belajarnya.
Penulis: Dian Nugraha (SMAN 22), Steffani Agustin (SMAN 12), Lilis Uswatun Hasanah (SMAN 58), Yuliani dwi Pratiwi (SMAN 88)

Redaktur: M Irwan Ariefyanto
Sumber: SMA se Jakarta Timur

Selasa, 15 Mei 2012

Mari Peduli Pendidikan!

Hari ini, selasa pagi (15/05) kami Yayasan Sekolah Rakyat Bogor yang berlokasi di Desa Cibedug Kecamatan Ciawi Bogor mendapat kunjungan tamu yang sekaligus teman lama saya waktu di Youth Islamic Study Club (YISC) Al Azhar dulu. Namanya Yulia Astuti Owner dari Moz5 Salon Muslimah yang sukses mengembangkan usaha salonnya di berbagai daerah.

Kawan saya ini, dibilang sukses di bidang kecantikan atau usaha salon muslimahnya dengan sistem franchise. Terbukti dengan berdirinya beberapa cabang usahanya di berbagai daerah. Sebutlah misalnya di Jabodetabek (13 lokasi), Banten (2 lokasi), Jawa Barat ( 4 lokasi) , Jawa Timur (4 lokasi) , Sumatera ( 2 lokasi) dan Kalimantan
 ( 1 lokasi).

Kedatangan mbak Yuli dan crewnya di Sekolah Rakyat Bogor adalah untuk bersilaturrahmi dan ingin berbagi bersama Guru-guru dan siswa kami, dengan memberikan layanan gratis berupa perawatan kecantikan dan refleksi kepada tenaga pengajar SMP Gratis SR Bogor dengan tema: "Berbagi Kebahagiaan dari Moayu Salon Muslimah untuk Guru". Sebagaimana diungkapkan Yuli kepada saya, kegiatan ini rutin dilakukan sebagai "bentuk bakti kami kepadamu guru". Karena gurulah maka saya bisa sukses dan menjadi seperti sekarang, ucap Yuli.

Pada kegiatan ini Moz5 Salon Muslimah yang mempunyai motto: "Untuk Kecantikanmu Hari ini dan Selamanya", juga memberikan sumbangan dana untuk pembangunan ruang kelas SMA Gratis yang sedang dibangun oleh pengurus Yayasan Sekolah Rakyat Bogor. Rencananya SMA Gratis ini sengaja disiapkan untuk menampung lulusan SMP Gratis yang baru saja tamat belajar tahun ini dan tahun sebelumnya.

Hemat saya, semakin banyak orang yang peduli terhadap pendidikan anak-anak pedalaman dan miskin ini, maka semakin besar juga peluang buat mereka untuk mendapatkan akses pendidikan. Dan dengan cara ini pula dunia pendidikan kita akan bisa terangkat nilai APK (Angka Partisipasi Kasar) nya, khususnya di Kabupaten Bogor dan daerah pedalaman lainnya di seluruh Indonesia.

Kepedulian kita, akan menjadi lilin yang bisa menerangi lingkungan anak-anak Indonesia yang terabaikan nasib pendidikannya selama ini.

Senin, 14 Mei 2012

Sumber Ilmu dan Keutamaannya

Dalam tulisan sederhana ini ijinkan saya menjelaskan sedikit dari mana sumber ilmu tersebut dan keutamaan ilmu dalam Islam. Secara singkat bisa dipaparkan dengan gamblang melalui pembahasan dua hal tersebut di bawah ini:

1. Sumber Ilmu

Ketika kita membahas masalah ilmu dalam pandangan Islam, terasa belum sempurna kalau belum menyinggung dari mana asal atau sumber ilmu tersebut. Persoalan ini dianggap penting untuk dikemukakan karena Islam memiliki pandangan tersendiri mengenai dari mana ilmu itu bersumber.

Di bawah ini ada beberapa pendapat yang bisa dijadikan acuan terkait dengan sumber ilmu dalam perspektif Islam, yaitu sebagai berikut:

a. Pendapat Afzalur Rahman dalam bukunya Qur'anic Science: "Bahwa al Qur'an merupakan sumber ilmu pengetahuan, yang telah memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pendidikan kebudayaan umat manusia". Pengaruhnya itu antara lain ialah penemuan-penemuan ilmiah dan pertumbuhan ilmu pengetahuan yang sangat pesat di dunia Islam abad ke-7 sampai dengan abad ke-14 M. Demikian pula lahirnya abad kebangkitan di benua Eropa yang memperkenalkan bangsa Eropa pada unsur-unsur pokok dalam kehidupan dan kebudayaan (yaitu pengetahuan, penelitian, penalaran, dan kebebasan) sehingga memungkinkan kterciptanya penemuan-penemuan modern dalam ilmu pengetahuan.

b. Pendapat Imam Al Ghazali dalam bukunya Ihya 'Ulum al-Din: "Jika seseorang ingin memiliki pengetahuan masa lampau dan pengetahuan modern, selayaknya dia merenungkan al Qur'an," selanjutnya al Ghazali menambahkan:"Seluruh ilmu tercakupdi  dalam karya-karya dan sifat-sifat Allah, dan al Qur'an adalah penjelasan esensi sifat-sifat dan perbuatan-Nya". Di sinilah adanya indikasi pertemuan antara al Qur'an dengan ilmu-ilmu yang ada.

c. Dalam bukunya Jawahir al Qur'an ( Mutiara-mutiara al Qur'an), yang ditulis setelah Ihya, lebih jauh al Ghazali mengatakan pada bab "Munculnya ilmu-ilmu klasik dan modern dari al Qur'an" sebagai berikut: " Prinsip ilmu-ilmu ini, yang telah kami jelaskan dan yang belum kami klarifikasikan, bukanlah di luar al Qur'an, karena seluruh ilmu ini diraih dari salah satu lautan pengetahuan-Nya, yaitu lautan karya-Nya".

d. Pendapat al Suyuthi (wafat 911 H/1505 M) dalam bukunya al Itqan fi 'Ulum al Qur'an: yang memiliki pandangan yang sama, bahwa al Qur'an mencakup seluruh ilmu-ilmu. Lebih lanjut al Suyuthi mengatakan: "Kitab Allah itu mengandung segala sesuatu. Tidak ada bagian atau problem dasar suatu ilmu pun yang tidak ditunjukkan dalam al Qur'an, seseorang dapat menemukan aspek-aspek menakjubkan pada ciptaan-ciptaan dimensi spiritual langit dan bumi, apa yang ada dalam bagian-bagian teragung pada cakrawala, dan yang ada di bawah lumpur, awal mula penciptaan".

2. Keutamaan Ilmu

Hemat saya, Islam dan al Qur'an sebagai kitabnya sangat tinggi menghargai ilmu pengetahuan, mendorong untuk mencarinya, dan memuji orang-orang yang menguasainya, termasuk di dalamnya menjelaskan tentang ilmu dan pengaruhnya di dunia dan akhirat kelak. Ini menunjukkan keutamaan ilmu dibandingkan dengan kebodohan (kegelapan).

Imam al Ghazali dalam bukunya Ihya 'Ulum al Din, pada bab tentang ilmu mencoba memberikan komentar terhadap sebuah ayat dalam al Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan ilmu dan orang yang berilmu, yang bersaksi di hadapan Allah. KAta al Ghazali:" MAka lihatlah bagaimana Allah SWT memulai dengan diri-Nya, keduanya dengan malaikat dan ketiganya orang-orang ahli ilmu. Dengan ini cukuplah bagimu untuk mengetahui kemuliaan, keutamaan, kejelasan dan kelebihan ilmu serta orang-orang ahli ilmu".

Ibnu Abbas ra. berkata:" Para ulama memperoleh beberapa derajat di atas kaum mukminin dengan tujuh ratus derajat, yang mana antara dua derajat itu ditempuh dalam perjalanan lima ratus tahun lamanya".

Di bawah ini beberapa alasan yang menunjukkan keutamaan ilmu dan orang yang berilmu dari Ibnu Qayyim al Jauziyyah sebagai berikut:
Pertama, Mereka yang diminta Allah Ta'ala untuk bersaksi terhadap keesaan-Nya adalah orang-orang yang berilmu, dan bukan kelompok manusia yang lain.

Kedua, Allah mengkonjugasi (menggabungkan) kesaksian orang-orang yang berilmu dengan kesaksian-Nya.

Ketiga, Allah mengkonjugasi (menggabungkan) kesaksian orang-orang yang berilmu dengan kesaksian orang-orang yang berilmu dengan kesaksian malaikat-malaikat-Nya.

Keempat, Allah mensifati mereka sebagai orang-orang yang berilmu. Ini menunjukkan bahwa ilmu itu diperuntukkan bagi mereka dan mereka adalah pemilik ilmu dan sahabat-sahabat ilmu.

Kelima, Allah SWT meminta diri-Nya "Saksi teragung" bersaksi kemudian meminta makhluk-makhluk-Nya yang terbaik untuk bersaksi, yaitu para malaikat dan orang-orang yang berilmu di antara hamba-hamba-Nya. (mnwr)






Minggu, 13 Mei 2012

Tak Ada Sekolah, Kandang Ayam pun Jadi

Liputan oleh: Fitriani Lestari
13/05/2012 05:53
Liputan6.com, Bulukumba: Potret dunia pendidikan di negeri ini masih saja buram. Lihat saja, bertahun-tahun sudah murid-murid Sekolah Dasar Negeri 310 Nannasa, Kecamatan Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan, belajar di kolong rumah seorang warga. Yang lebih memprihatinkan, kolong rumah ini dulunya adalah kandang ayam.

Bisa ditebak, bau tak sedap kotoran pun menyengat hingga mengganggu kegiatan belajar-mengajar. Gangguan juga datang dari ayam-ayam yang masih saja berkeliaran di tempat itu. Murid-murid ini terpaksa belajar di bekas kandang ayam karena lahan sekolah mereka disegel oleh Bakasang yang mengklaim sebagai pemiliknya. Bakasang kesal karena pemerintah tak juga membayarkan ganti rugi lahan tersebut.

Karena lama tak digunakan, gedung SDN 310 Nannasa kini rusak. Banyak peralatan sekolah yang berceceran tak terurus. Ironis memang, karena pemerintah setiap tahun mengklaim menaikkan anggaran pendidikan, namun faktanya masih saja ada anak didik yang tak bisa mendapatkan tempat belajar yang layak. Lalu, siapa sebenarnya yang menikmati anggaran pendidikan yang besar itu?(ADO)