Wednesday, March 21, 2012

Kedudukan Ilmu dalam Islam


Berbicara mengenai ilmu dalam perspektif Islam, berbeda dengan syariat lain atau undang-undang dan peraturan buatan manusia. Pembahasan tentang ilmu menurut kaca mata Islam harus menyertakan tiga hal penting, yaitu ilmu itu sendiri, arang yang berilmu (‘alim) dan penuntut ilmu.
a.       Ilmu
Islam sangat memperhatikan, menghormati dan menjunjung tinggi martabat ilmu dan orang yang memiliki ilmu, sebagaimana firman Tuhan di berbagai ayat dalam al Qur’an. Salah satunya bunyi ayat surat al mujadalah:11 di bawah ini: “ Niscaya Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
Melalui ayat ini, dapat dikemukakan bahwa dalam ajaran Islam, pengertian ilmu bukan hanya didasarkan pada jumlah ilmu yang dipelajarinya. Akan tetapi ilmu yang benar adalah ilmu yang dirasakan manfaatnya oleh manusia pada umumnya (baca bermakna untuk kemaslahatan manusia lain). Sebagaimana dikatakan oleh DR. Hasan al Syarqawi dalam bukunya Manhaj Ilmiah Islami, “Ilmu juga dapat menjadi cahaya yang dapat menerangi jalan dalam mencapai petunjuk dan kebaikan”. Ungkapan Syarqawi tersebut, hemat saya sejalan dengan firman Tuhan dalam al Qur’an surat al Baqarah: 269 yang berbunyi: “Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak”.
Dalam kaitannya dengan hal di atas, jelas kita lihat bahwa tujuan utama bagi penuntut ilmu adalah mengambil manfaat ilmunya guna melayani dan menjadi rujukan bagi manusia dalam melaksanakan kebajikan. Bila tujuan tersebut tidak menjadi perioritas utama dalam proses pencarian ilmu, maka ia telah melakukan kekeliruan dalam memasang niatnya. Dengan demikian, ilmu yang haq adalah ilmu yang membawa manfaat bagi pemiliknya dan orang di sekitarnya. Terlebih lagi dapat mendekatkan diri pemiliknya kepada Allah SWT, Tuhan bagi seluruh umat manusia.

b.      Orang Yang Berilmu
Islam telah mengangkat derajat para ‘ulama (Orang-orang yang berilmu) dalam kedudukan yang amat tinggi dan mulia, karrena mereka adalah penerus dan pengemban amanah para rasul Allah, selama mereka tidak menggauli para penguasa serta tidak menjadikan tujuan hidupnya untuk mendapatkan kesenangan duniawi. Dalam pandangan Islam, ‘alim ialah orang yang memiliki ilmu dan mau mengamalkan ilmunya. Bisa dikatakan, kalau orang yang banyak menguasai ilmu tetapi tidak mau mengamalkannya ilmunya untuk kebajikan dan kemaslahatan hidup umat manusia, belum bisa disebut ‘alim. Dengan alasan karena ilmunya belum bermanfaat untuk kebajikan dan kesejahteraan diri dan masyarakat luas. Dan orang yang berilmu yang menggunakan ilmunya untuk merusak ketentraman dunia, meruntuhkan keluhuran budi pekerti, menganiaya orang lain, memerintahkan perbuatan mungkar, mencegah amar ma’ruf, atau menyeru kepada perbuatan menyekutukan Tuhan (syirik), membujuk orang lain untuk berbuat kekerasan atas nama apapun, memalingkan diri dari Allah SWT, dan lainnya pada hakikatnya tidak bisa dikatakan orang yang berilmu. Bahkan Islam menggolongkannya sebagai orang yang jahil (bodoh) yang suka merusak (berbuat fasik).  Jadi orang yang ‘alim hakikatnya adalah mereka yang selalu memberikan manfaat atau faedah bagi manusia lainnya.

c.       Penuntut Ilmu
Dalam perspektif Islam, penuntut ilmu adalah orang yang bekerja sama dengan ‘alim dalam melakukan kebajikan.  Untuk menguatkan hal ini, saya teringat dengan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Darda ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda: ”Orang ‘alim dan orang yang menuntut ilmu berserikat dalam kebaikan. Selain keduanya tidak ada kebajikan”. (HR. Al Thabrani).
Jadi menurut pandangan Islam, penuntut  ilmu adalah orang yang selalu berpihak kepada kebenaran, menebarkan kebajikan, mendamaikan kedua belah pihak yang bersiteru, melakukan kreasi-kreasi baru untuk kemajuan dan kesejahteraan bersama dan selalu menegakkan keadilan untuk umat manusia di atas muka bumi.
Lalu bagaimana sebenarnya kedudukan ilmu dalam Islam? Posisi ilmu dalam Islam sangatlah sentral. Vitalitas dan keutamaan ilmu terungkap dalam sanjungan dan kehormatan yang diberikan kepada para ilmuan, tersirat dalam wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah saw. yang menjadi kunci ilmu, yakni perintah “membaca”. Tercermin dalam ajakan untuk bertakwa hanya kepada orang yang berakal, tersurat dalam peringatan bahwa ketiadaan ilmu (kebodohan) akan menyesatkan, serta dengan tegas dinyatakan bahwa menuntut ilmu itu wajib dan berlaku seumur hidup. Kenyataan yang juga bisa kita lihat, bahwa di dalam al Qur’an terdapat puluhan ayat yang menerangkan tentang ilmu, tentang ajakan untuk berfikir dan melakukan penalaran ( mengamati, memperhatikan, memikirkan, dan menyelidiki dengan seksama), serta sanjungan kepada orang-orang yang suka menggunakan akal fikirannya (ilmuan) adalah bukti otentik yang tak dapat diragukan lagi akan sangat pentingnya kedudukan ilmu dalam pandangan Islam.
Imam Ali karramallahu wajhah berkata, Ilmu adalah kehidupan Islam dan pilar agama.  Dan mencari ilmu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan. Dengan ilmu Tuhan ditaati, dengan ilmu silaturahmi dihubungkan, dengan ilmu yang halal dan haram diketahui. Ilmu adalah pemimpin amal, dan amal adalah pengikut ilmu, ilmu adalah penghidup yang mati.
Dalam kaitannya dengan Imam Ali kw. Diatas, al Qur’an menganggap ilmu sebagai kehidupan dan cahaya, sedangkan kebodohan merupakan kematian dan kegelapan. Seperti diketahui, semua bentuk kejahatan disebabkan oleh ketiadaan kehidupan dan cahaya, dan semua kebaikan disebabkan oleh cahaya dan kehidupan. Karena cahaya akan membuka hakikat-hakikat segala sesuatu. Di sinilah kedudukan ilmu menjadi hal yang sangat penting dalam rangka mengajak manusia untuk membedakan mana yang baik dan buruk dalam kehidupannya.
Wallahu a’lam

Baca juga

No comments:

Post a Comment