Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Sunday, April 15, 2012

Liputan Harian Bogor Ekspress : Ribuan Anak di Pedalaman Bogor Tidak Sekolah

Pada tanggal 10 April 2012, Harian Bogor Ekspres meliput tentang SR Bogor dimana tulisan tersebut berisi mengenai kondisi ril masyarakat pedalaman di Bogor yang masih belum mendapatkan akses pendidikan.

Berikut liputan kegiatan Yayasan Sekolah Rakyat Bogor yang dimuat di harian Bogor Ekspres.


CIAWI-Ribuan anak usia sekolah di pedalaman kabupaten Bogor,terutama di wilayah Bogor Barat,tidak dapat mengenyam bangku pendidikan.Bupati Bogor Rahmat Yasin(RY)diminta peduli dan serius menangani masalah ini.

            Soal  adanya anak di pedalaman Kabupaten Bogor yang  tidak dapat  mengenyam bangku pendidikan diungkap Ketua Umum Sekolah Rakyat Bogor(SRB) Munawar M.Ali disela-sela kegiatan pemberian  motivasi terhadap para siswi SDN Cibedug  02 dan seluruh peserta didik sekolah Menengah Pertama Terbuka (SMP-T) Tempat Kegiatan Belajar Mengajar (TKBM) At-Tin kampung Pesantren Rt 04/01 Desa Cibedug,Kecamatan Ciawi,Senin(9/4).Ia menyebut,anak-anak itu anatara lain bermukim di kampung Manglad,Desa Cibodas,Kecamatan Rumpin.

            “Ketika saya turun ke desa-desa di pedalaman Kabupaten Bogor,saya menemukan ada ribuan anak usia sekolah yang tidak bersekolah,namun jumlah persisnya belum saya data,tapi yang pasti memang banyak sekali,ribuan,”katanya.

            Munawar menyebut,ada tiga aspek anak-anak itu tidak mengenyam bangku pendidikan,yaitu faktor perekonomian keluarga yang minus,sehingga hidup di bawah garis kemiskinan;jauhnya sarana pendidikan yang dibarengi hancurnya sarana infrastruktur,seperti jalan;dan kultur budaya masyarakat pedalaman yang menganggap kurang pentingnya pendidikan bagi anak-anak. “Pemerintah Kabupaten Bogor harus lebih memperhatikan pendidikan masyarakat pedalaman dan berupaya mengatasi tiga aspek ini agar mereka mau bersekolah,”imbuhnya.

            Ia menilai,adanya ribuan anak yang tidak sekolah  ini memprihatinkan  mengingat kabupaten Bogor  merupakan “pintu gerbang”menuju ibu kota negara (Jakarta),sehingga sangat tidak etis apabila masih banyak masyarakat yang belum mengenyam  pendidikan..Terlebih pendidikan merupakan hak dasar bagi seluruh rakyat Indonesia. “Jarak Kabupaten ke Ibu kota hanya sekitar 72 Kilometer,lalu bagaimana perekonomian masyarakat akan meningkat apabila anak-anaknya tidak bersekolah?” tanyanya.

            Ia mengakui,sebagai bentuk kepedulian terhadap anak-anak pedalaman,SRB telah mendirikan 18 TKBM dengan jumlah peserta didik mencapai 1.300 orang. Namun demikian,katanya,peran pemkab Bogor  tetap sangat diperlukan untuk mengatasi persoalan anak-anak pedalaman yang tidak sekolah tersebut.
    Cecep Hidayat,pengelola SMP-T TKBM SYIFA Kecamatan Rumpin,Kabupaten Bogor,membenarkan bahwa jauhnya jarak tempuh menuju tempat pendidikan formal menjadi salah satu alasan  mengapa sebagian warga Rumpin enggan bersekolah.Apalagi karena keluarganya pun masih hidup di bawah garis kemiskinan.

            “Itu sebabnya di kecamatan ini angka anak tidak sekolah  maupun yang putus sekolah sangat tinggi,” imbuhnya. Ia mencontohkan ,anak-anak kampung Manglad desa Cibodas,kecamatan Rumpin,apabila hendak  ke sekolah  formal harus menempuh jarak sekitar 12 kilometer  dari rumah,dan harus mengeluarkan biaya transportasi hingga Rp50 ribu.

           “Karenanya,dengan adanya SMP-T Syifa yang berada di bawah naungan Yayasan Sekolah Rakyat Bogor, masalah anak-anak itu  dapat teratasi ,sehingga tak ada lagi yang tidak bersekolah maupun putus sekolah,”imbuhnya lagi.

            Sayangnya, upaya SRB dalam  upaya mencerdaskan masyarakat pedesaan di kabupaten Bogor masih terganjal beberapa hal,seperti tidak adanya sarana gedung sehingga proses belajar mengajar dilakukan di Pos kamling. Padahal ,jumlah peserta didik telah mencapai 172 orang ungkap pak Cecep Hadiat dari Rumpin ini.

            “Karenanya demi terciptanya masyarakat pedesaan yang berpendidikan, kami minta Bupati Bogor segera turun tangan dan melakukan upaya yang nyata,”pintanya.(RFS)

Baca juga :

Tuesday, April 10, 2012

Ceria Bersama Arai "Sang Pemimpi"

Foto sambutan pada acara motivasi siswa Sekolah Rakyat Bogor


Menjelang waktu dhuhur pada hari senin tanggal  09 April 2012, berbondong-bondong siswa SMP Gratis yang kami kelola di bawah naungan Yayasan Sekolah Rakyat Bogor, datang dengan menumpang angkutan kota (angkot) untuk mengikuti acara Motivasi dan Nonton bareng bersama Arai (Ahmad Rifai ) pemeran utama film “Sang Pemimpi”. Karena letaknya yang berjauhan, kegiatan ini hanya diikuti oleh lebih kurang 250 orang siswa saja. Mengingat jarak mereka yang sangat jauh, jadi hanya delapan Tempat Kegiatan Belajar Mandiri (TKBM) yang mengirimkan utusan untuk mengikuti kegiatan yang menurut mereka sangat bagus ini. Maklum, karena anak-anak sekolah kami memang belum pernah bertemu langsung apalagi bernyanyi bareng dengan bintang idolanya secara langsung. Hehehe

Tujuan diadakannya acara – acara seperti  di atas, adalah untuk memotivasi anak-anak sekolah kami di Yayasan Sekolah Rakyat Bogor agar lebih berani merancang masa depan mereka. Atau bahasa yang sering kita ucapkan yaitu memiliki cita-cita yang tinggi. Hal ini sejalan dengan film yang diputarkan saat acara tersebut, yang berjudul “Sang Pemimpi”. Di dalam film tersebut para pengajar mendidik para siswa mereka agar mempunyai mimpi walaupun kondisi atau keadaan ekonomi keluarga pas-pasan. 

Dalam sambutan singkat saya sebagai Ketua Umum Sekolah Rakyat Bogor, saya sampaikan kepada 250 siswa yang hadir dari perwakilan delapan TKB Mandiri tersebut, bahwa dengan pendidikanlah manusia bisa membangun peradaban dunia. Dan dengan pendidikan yang baiklah suatu bangsa akan mengalami kemajuan di masa yang akan datang. Nah, dalam konteks ke-Indonesiaan, masih perlu ditingkatkan lagi pelayanan terhadap dunia pendidikannya, khususnya bagi pendidikan anak-anak yang berada di pelosok-pelosok negeri. Seperti halnya yang ada di Kabupaten Bogor ini. Selain itu, saya juga menghimbau Ibu-ibu yang juga hadir dalam acara tersebut agar tetap menyekolahkan anak-anak mereka di tingkat SMP dan SMA secara gratis di bawah naungan Sekolah Rakyat Bogor. Artinya tidak ada alasan bagi orang tua untuk tidak menyekolahkan anak-anak mereka dengan dalih karena jaraknya yang jauh dari sekolah dan kurangnya biaya untuk operasional mereka. Yayasan Sekolah Rakyat menjadi solusi atas persoalan mereka saat ini. Karena sesungguhnya sekolah atau menuntut ilmu adalah hak setiap orang yang dijamin oleh konstitusi negara secara sah.

Dari Arai “Sang Pemimpi” memberikan motivasi kepada adek-adek yang mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat Bogor, agar tetap tegar dalam menuntut ilmu sekalipun pahit. Tidak hanya itu Arai juga menyumbangkan suara emasnya untuk menghibur siswa SMP Gratis ini dengan menyanyikan beberapa tembang lagu, seperti Laskar Pelangi, dll.

Di samping nonton bareng dan hiburan lagu dari Aray, kegiatan ini diliput oleh beberapa media elektronik dan media cetak. Seperti Metro TV, TV Swara Media (TV lokal Bogor) dan Bogoe Ekspress. Oleh Metro TV  liputan kegiatan pendidikan gratis untuk masyarakat pedalaman seperti yang digalakkan oleh Yayasan Sekolah Rakyat Bogor ini, memiliki nilai tersendiri di tengah mahalnya biaya pendidikan di berbagai lembaga pendidikan yang ada. 

Melalui Metro TV dan TV lokal di Bogor dan media cetak, saya sampaikan pesan khusus kepada pemerintah agar memperhatikan pendidikan bagi masyarakat pedalaman, di mana pun mereka berada. Mengingat pendidikan merupakan hak yang sangat mendasar bagi setiap anak Indonesia yang dijamin oleh konstitusi kita. Nasib pendidikan anak-anak pedalaman ini adalah tanggungjawab kita bersama. Oleh karenanya semua pihak punya tanggunjawab sosial untuk membantu meringankan beban mereka agar bisa tetap sekolah. Terutama pemerintah wajib hukumnya mencari cara untuk menjamin nasib dan masa depan mereka di masa yang akan datang melalui pendidikan yang berkualitas.

Thursday, March 22, 2012

MENGGAGAS SEKOLAH GRATIS UNTUK MASYARAKAT


Diliput Oleh: Irwan Natsir (Wartawan Pikiran Rakyat Bandung)
SERIBU TIGA RATUS Siswa siswi bernaung di bawah Yayasan Sekolah Rakyat Bogor. Mereka antusia mengikuti kegiatan belajar mengajar yang diberikan oleh Guru-guru mereka. Tak memperlihatkan perbedaan yang mendasar dengan siswa SMP lainnya. Bahkan, sebagaimana layaknya siswa sekolah negeri, sebagian besar dari anak –anak siswa yang berada di berbagai lokasi yang ada di Kabupaten bogor itu merasa bangga dengan bersekolah di Tempat Kegiatan Belajar Mandiri (TKBM) di delapan belas lokasi yang ada. Mereka ada yang belajar di sebuah gedung yang terbuat dari bambu, seperti yang ada di TKBM Attin di desa Cibedug Ciawi bogor. Begitu sederhana, namun tidak mengurungkan niat mereka untuk tetap menuntut ilmu.
Gedung seerhana yang terletak di pinggir jalan raya Cibedug itu sebenarnya bukanlah sekolah “resmi”, melainkan rumah milik keluarga H.Ali Nurdin dan Ibu Hartini, sepasang pensiunan PNS. Di halaman seluas lebih kurang 1000 meter tersebut, dibangunlah sejumlah ruangan belajar , perpustakaan bahkan juga areal untuk beternak ikan lele. Ruang belajar bagi siswa ini memang dibangun atas di atas lahan milik Pak Ali dan Ibu Tini, terang Munawar M.Ali (Ketua Umum Sekolah Rakyat Bogor).
Sejak 2006, warga Cibedug dan sekitarnya yang tidak mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan SMP dengan berbagai alasan, memilih SMP Gratis Yayasan Sekolah Rakyat Bogor untuk bersekolah. SMP Terbuka TKB Mandiri Attin adalah salah satu dari 18 TKB Mandiri (SMP Gratis) yang tergabung dalam Yayasan Sekolah Rakyat Bogor.
Semua anak yang masuk SMP Gratis ini benar-benar tidak dipungut biaya apapun. Asal menunjukkan ijazah tamat sekolah dasar, anak tersebut langsung diterima. Tak ada biaya sekolah yang dikenakan kepada orang tuanya. Begitu pula soal seragam sekolah, bagi yang belum mampu tidak diwajibkan untuk memakai seragam sekolah saat belajar di kelas. Banyak di antara anak-anak itu yang mengenakan seragam SD ketika belajar di SMP Gratis ini. Tapi lama kelamaan muncul usulan dari orang tua murid bahwa mereka membeli pakaian seragam sekolah sendiri. Sehingga, para orang tua masing-masing yang menyediakan pakaian seragam buat anak-anaknya,” kata Munawar.
Melihat keceriaan anak-anak belajar di SMP Gratis di bawah naungan Sekolah Rakyat Bogor ini, tentu memberikan gambaran bagaimana perjalanan yng penuh liku yang dilakoni oleh munawa M.Ali. Lelaki kelahiran Bima NTB itu menghabiskan waktu mudanya bersama-sama pengelola SMP Gratis untuk mewujudkan sekolah gratis bagi masyarakat yang kurang mampu.
Sebagaimana yang dikisahkan oleh Munawar kepada “PR”, gagasan sekolah gratis itu berangkat dari realitas masyarakat di pedesaan yang tak mampu menyekolahkan anaknya ke jenjang SMP. “Pada tahun 2002, saya sebenarnya berniat cari peluang usaha di Desa Tangkil Kec. Caringin dengan teman-teman yang berada di Yayasan Amanah Batasa. Semula kami ingin melakukan berbagai usaha di bidang pertanian di sana, “ ujarnya. Ketika sampai di Desa Tangkil yang terletak di pinggir Gunung Gede – Pangrango itu, niat untuk membuka usaha justru tidak begitu berjalan dengan baik. Sebab di sana Munawar melihat banyak sekali anak-anak tidak bersekolah meski usia mereka telah memadai. Bukan hanya itu, tak sedikit anak-anak perempuan berusia belasan tahun sudah dinikahkan oleh orang tuanya. Pada hal mereka lebih cocok duduk di bangku sekolah.
Melihat realitas masyarakat Tangkil seperti itu, Munawar yang lulus sarjana pendidikan ini, ingin mengetahui apa persoalan masyarakat setempat sehingga tidak melanjutkan sekolah anaknya ke jenjang SMP. Ternyata, dari hasil pencarian itu, berbagai macam penyebab bagi warga yang tidak menyekolahkan anaknya. Sebut saja lokasi SMP maupun swasta yang jauh dari kampung mereka hingga harus mengeluarkan biaya transportasi yang cukup besar karena harus naik ojeg. Selain itu klau berjalan kaki, harus ditempuh dalam waktu berjam-jam karena jaraknya mencapai beberpa kilometer. Kondisi itu tak sebanding dengan rendahnya penghasilan masyarakat di sana.
Delapan Belas SMP Gratis Sekolah Rakyat Bogor
Setelah mempertimbangkan berbagai hal, termasuk impian untuk berusaha, Munawar memulai tekad untuk membuka SMP gratis untuk masyarakat desa Tangkil. Bersama Yayasan Amanah Batasa, dipergunkanlah bangunan madrasah Ibtidaiyyah (MI) sebagai gedung untuk anak-anak yang masuk SMP. “Waktu kami sampaikan pada masyarakat akan membuka SMP Gratis, sebagian warga ada yang menentang. Mereka curiga, kemungkinan ada niat lain dibalik gagasan tersebut. Tapi setelah kami jelaskan dengan baik kepada warga betapa pentingnya pendidikan, akhirnya warga bisa menerima,” jelasnya.
Keputusan untuk membuka SMP Gratis bagi warga bukanlah keputusan mudah. Sebab berbagai konsekwensi ada di balik gagasan tersebut. Mulai dari biaya operasional sekolah, masalah pengajar, masalah fasilitas, dan sebagainya. Namun karena sudah menjadi tekad, Munawar dan teman-temannya melakukan berbagai langkah agar gagasan itu bsa terwujud. “Saya menghubungi eman-teman untuk mau menjadi guru, bahkan ada yang didatangkan khusus dari Jakarta untuk membantu mengajar dan digaji seadanya dan banyak yang menjadi relawan, serta mencari pihak-pihak yang berniat memberikan sumbangan dan lainnya,” kata Munawar.
Ternyata, dalam perjalanannya merealisasikan gagasan SMP Gratis bak gayung bersambung. Di beberapa tempat, ada juga warga masyarakat yang punya keinginan sama untuk membantu pendidikan masyarakat. Ada masyarakat yang bersedia tempat dan tenaganya dicurahkan untuk membuka sekolah seperti dilakukan H.Ali Nurdin dan Ibu Tini di Cibedug. Maka sejak tahun 2006, Munawar dan teeman-tamannya membentuk Yayasan Sekolah Rakyat Bogor sebagai wadah untuk SMP Gratis di wilayah bogor. Sampai saat ini, Yayasan tersebut mengelola 18 SMP Gratis di wilayah Kabupaten Bogor, yang tersebar di kecamatan Caringin, Cigudeg, Ciomas, Cisarua, Megamendung, Taman sari, Pemijahan, Ciawi, Rumpin, Dramaga dan Leuwiliang.
SMP Gratis tersebut tetap menggunakan nama-nama sesuai dengan pengelolanya. Misalnya saja di Cibedug Ciawi dengan nama TKB Mandiri Attin. Di Cisarua dengan nama TKB Mandiri Al Fajri dan Riadush Shalihiin, Caringin dengan nama TKBM Amanah Batasa, di Ciomas dengan nama TKBM Mutiara Bangsa 1&2, di Cigudeg dengan nama TKBM Harapan Bangsa 1,2 &3 dan TKBM Boedie Oetomoe 1&2, di Taman Sari dengan nama TKBM Setia Bangsa, di Megamendung dengan nama TKBM Amerta, di Pemijahan dengan nama TKBM Athqiya, di Rumpin dengan nama TKBM Syifa 1&2, dan di Dramaga dengan nama TKBM Cahaya. Semuanya berjumlah 18 TKB Mandiri SMPT Yayasan Sekolah Rakyat Bogor, dan insya Allah pada tahun ajaran 2012 ini kami akan membuka lagi TKBM sebanyak 15 tempat lagi, mohon doanya ungkap munawar.

Ribuan Siswa
Saat ini jumlah siswa SMP Gratis dari 18 sekolah itu sudah mencapai 1300 orang dengan 165 orang guru atau pengajar relawan. Selain biaya operasional sekolah, SMP Gratis ini pula menginduk pada SMP negeri terdekat sehingga memperoleh dana BOS (Biaya Operasional Sekolah)dari Diknas RI, juga aada beberapa sumbangan dari beberapa donatur kalau ada kegiatan yang melibatkan siswa dalam jumlah yang besar. “Kalau untuk guru atau pengajar, kami hanya memberikan honor semampunya. Rata-rata mereka terima per bulan hanya Rp. 150.000-Rp.200.000,” ujar Munawar.
Sejak SMP Gratis tersebut berjalan dari tahun 2002 sampai saat ini, sudah banyak siswa yang lulus. Tingkat kelulusan Ujian Nasional juga menggembirakan. Meski mereka berasal dari keluarga tidak mampu, ketika ujian nasional prosentase kelulusan mencapai 90 persen.
Proses belajar mengajar SMP Gratis ini, sama dengan SMP Negeri lainnya. Cuma waktu belajar dari pukul 13.00 -17.00 Wib. Kemudian para siswa diberikan keterampilan atau life skill yang disesuaikan dengan kondisi desanya, misalnya berternak ikan lele, menjahit , pembibitan pohon, dan sebagainya. Selanjutnya untuk membangun kebersamaan antara siswa dan sebagai ajang perkenalan di antara mereka, maka diadakan jambore Siswa SMP Gratis SR Bogor tingkat kabupaten Bogor. Dan Yayasan Sekolah Rakyat sudah menggelar dua kali jambore buat siswa.
Tekad untuk terus membuka dan mengelola SMP Gratis tak pernah surut . Untung berbagai pihak masih peduli dan bersama-sama meng-inisiasi pembukaan SMP Gratis ini di berbagai lokasi di Kabupaten Bogor. Oleh karena itu, Munawar beserta teman-temannya bertekad untuk mendirikan SMP Gratis di seluruh Kabupaten Bogor, mengingat masih banyak sekali warga yang tidak mampu melanjutkan sekolah anaknya ke jnjang yang lebih tinggi khususnya setingkat SMP. Saat ini Sekolah Rakyat Bogor sedang menggalakkan kegiatan Kewirausahaan buat guru dan akan bekerjasama dengan Prasetya Mulia Bisnis School yang akan memberikan kuliah pendek selama 12 kali pertemuan kepada tenaga pengajar kami. Program ini tidak hanya sekedar memberikan teori semata, tetapi akan mengajarkan bagaimana seorang guru mampu membuat “Bisnis Plan” sesuai dengan kemampuan dan kecenderungan bisnisnya. Dan harapannya para guru akan mentransfer ilmu dan pengalamannya kepada siswanya di TKBM masing-masing.
“Saya meyakini, akan banyak sekali orang yang akan membantu kami, karena kegiatan seperti ini memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, ujar Munawar. Karena tugas pendidikan tidak hanya urusan pemerintah, akan tetapi kewajiban semua orang. Sebab hanya dengan pendidikanlah kita bisa membangun Indonesia yang gemilang,” tambahnya. (Irwan Natsir/PR)

Sunday, February 26, 2012

Pendidikan Adalah HAK Setiap Warga Negara

Pada hari sabtu, 25 Februari 2012 yang lalu, saya diundang untuk menghadiri acara “Training Pengajar Keren” yang diadakan oleh teman-teman yang bernaung di bawah komunitas yang mereka beri nama “Save Street Child”. Komunitas ini bergerak untuk membina anak-anak jalanan (atau yang kerap dipanggil Anjal) singkatan dari anak jalanan.

Saya pribadi tertarik karena penggeraknya seorang perempuan muda yang masih duduk di bangku kuliah dan tercatas sebagai ketua BEM Universitas Paramadina Mulya. Dialah Sheilayla Latifah, penggerak yang menggerakan teman-temannya yang berada di beberapa daerah untuk melakukan hal yang sama, yaitu mengelola dan mendidik anak-anak jalanan yang kerap diabaikan oleh siapa pun selama ini.

Pada kesempatan yang langka ini, saya ikut berbagi pengalaman bagaimana mengelola Yayasan Sekolah Rakyat yang selama ini menjalankan pendidikan gratis bagi anak-anak pedalam bogor dan sudah berjalan selama sepuluh tahun. Secara spirit, apa yangdilakukan oleh teman-teman SSC  adalah sama dengan yang kami lakukan di Sekolah Rakyat Bogor, yaitu memberi AKSES Pendidikan bagi anak-anak yang putus sekolah agar tetap bisa sekolah. Dengan spirit yang sama, maka saya berusaha untuk memberi dorongan kepada teman-teman SSC agar tetap bergerak melakukan aksi yang kongkrit dalam pemenuhan Hak – hak dasar setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Komunitas SSC ini mempunyai keyakinan yang sama dengan kami di Sekolah Rakyat Bogor, bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara untuk mendapatkannya. Begitu pula anak-anak jalanan yang ada di berbagai daerah.Demikianlah yang kami yakini kata Gagan ketua panitia “Pelatihan Pengajar Keren” ini. Untuk itu, kami ingin berbuat sesuatu melalui SSC untuk mendorong pemenuhan hak tersebut, terutama untuk anak-anak jalanan yang termarjinalkan pemerintah dan masyarakat.

Tak dapat dipungkiri, pendidikan adalah aset, yang tak semua orang paham apa manfaatnya kecuali ia sadar bahwa aset merupakan 'persiapan jangka panjang' bukan merupakan semalam jadi seperti membuat kue. Untuk itu, Save Street Child mengadakan Training Pengajar Keren yang bekerjasama dengan Yayasan Bina Insan Mandiri.

Tujuan dibuatnya Training ini supaya anak-anak muda yang memiliki kepedulian bisa lebih terampil dan mengoptimalkan potensi mereka agar dapat turut memperdayakan anak-anak jalanan yang masih sangat jamak.

"Jargon idealis" pro rakyat yang didengung-dengungkan selama ini tentu saja tidak cukup bagi kemaslahatan bangsa. Kita tak perlu retorika, kita perlu bukti. Untuk itulah, Save Street Child mengajak anak muda untuk bergerak, menjadi bagian dari sejarah kecil pendidikan anak-anak jalanan dan dapat membantu generasi tersebut meraih cita-cita. Aktivitas yang positif didalam pendidikan, dapat dilaksanakan dimanapun dan kapanpun.

Save Street Child merupakan komunitas sosial yang berawal dari twitter. Dalam perjalanannya selama hampir satu tahun ini, sudah dapat menggerakkan pemuda-pemuda di Jakarta, Depok, Bandung, Jogja, Surabaya, Pasuruan, Makassar, Manado, Medan dan Padang untuk melakukan hal yang sama.

Program-program yang dibuat oleh Save Street Child antara lain untuk jalin silaturahim, kebersamaan, dan pemberdayaan untuk anak-anak jalanan. Didukung oleh volunteer dan donatur yang memiliki solidaritas dan kepedulian tinggi, Save Street Child berkomitmen untuk terus ada, menjadi teman dan penopang mereka yang terpinggirkan di jalanan.

Semakin banyak orang yang mengambil peran dan tugas seperti SSC dan Sekolah Rakyat Bogor ini, saya optimis, suatu saat Indonesia akan keluar dari persoalan yang dihadapi selama ini. Karena kepedulian dan kepekaan masyarakat secara massif akan mempercepat proses bagi bangsa ini untuk keluar dari berbagai krisis yang tengah dihadapi. Seperti halnya persoalan banyaknya anak-anak usia sekolah yang belum bisa menikmati hak  mereka untuk mengenyam pendidikan yang berkualitas di negeri ini. Oleh karenanya, jalan yang terbaik adalah bergerak dan menggerakkan orang lain agar mau ambil bagian dalam menyelesaikan problem yang dihadapi bangsa. Apa pun profesi Anda, dan di mana pun Anda berada, mari berbuat sekecil apa pun untuk kemaslahatan orang lain yang butuh uluran tangan Anda.

“Menebar Peduli untuk Anak Negeri!”

Monday, February 20, 2012

Semangat Kolaborasi Yayasan Sekolah Rakyat Bogor


Berawal dari pertemuan saya dengan Mbak Paramita Mentari seorang aktivis WWF Indonesia pada tanggal 10 – 12 Februari 2012 yang lalu di acara Indonesia Young Changemaker Summit  (IYCS) yang diadakan di Bandung, tepatnya di Gedung Konfrensi Asia Afrika dan Gedung Indonesia Menggugat, maka disepakati untuk melakukan kerjasama lanjutan dengan Yayasan sekolah Rakyat Bogor yang saya pimpin dengan teman-teman yang ada di Bogor.

Pertemuan pun dilakukan untuk menindaklanjuti ide kerjasama atau kolaborasi yang bertajuk: Ini AKSIKU mana AKSIMU? Di sekretariat Yayasan Sekolah Rakyat Bogor yang berlokasi di Desa Cibedug Kec. Ciawi Kab. Bogor. Tepatnya hari sabtu, 18 februari 2012 kami bersama-sama datang dari Jakarta untuk sharing dengan teman-teman pengelola Tempat Kegiatan Belajar Mandiri (SMP Gratis) yang berada di bawah naungan Yayasan Sekolah Rakyat Bogor. Diskusinya menarik karena disampaikan langsung oleh kawan saya Paramita Mentari dan saudara Ruri yang juga volunteer WWF Indonesia untuk area Bogor. Pembicaraan kami sudah mulai berkembang kepada apa kira-kira isu yang akan dilakukan bersama dalam membangun masyarakat yang peduli terhadap lingkungan dan cinta terhadap sesama mahluk hidup.

Disepakati pada pertemuan hari itu bahwa menjelang kegiatan inti “Hemat Energi” yang akan serentak dilakukan pada tgl 31 Maret 2012 akan diadakan juga kegiatan awalan sebagai pembekalan kepada Guru-guru yang ada di bawah naungan Yayasan sekolah Rakyat Bogor. Diharapkan dari Training atau pelatihan guru ini akan memberikan informasi yang utuh mengenai pentingnya mencintai lingkungan dengan memelihara kelestarian alam dan budaya hidup hemat energi.

Traning kepada Guru-guru menjadi penting untuk dilakukan, mengingat guru adalah merupakan ujung tombak pendidikan di Indonesia. Oleh karenanya guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam mendidik dan mengarahkan anak didiknya agar juga mencintai alam sekitarnya dengan melestarikan tumbuh-tumbuhan dan hewan dan juga belajar hidup yang sederhana dalam menggunakan energi, demi masa depan mereka sendiri kelak.

Indonesia masa depan adalah, Indonesia yang generasi penerusnya belajar mengolah sumber daya alamnya dengan baik dan memeliharanya dengan mempergunakannya seefesien mungkin untuk kemakmuran rakyat Indonesia di masa yang akan datang. Pemborosan dan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan dan tanpa memikirkan kesiapan stok energi untuk jangka panjang, adalah kesalahan yang perlu dievaluasi bersama.

Menanamkan pesan akan pentingnya hemat energi dan pemeliharaan alam dengan melestarikan tumbuh-tumbuhan dan hewan dengan baik kepada anak didik, sama halnya kita telah berharap besar akan lahirnya sejarah masa depan Indonesia yang gemilang. Mengapa demikian? Karena saat ini, seperti halnya China, yang sedang getolnya mengumpulkan energi dari manapun untuk persiapan masa depan rakyatnya. Nah, jangan sampai kita bangsa Indonesia yang kaya raya akan sumber daya alamnya, suatu saat nanti akan mengemis ke negara lain. Maka tidak jalan lain dalam mengatasi krisis energi nasional kita, kecuali mengajari generasi muda (anak didik) kita untuk hidup hemat sejak dini.

Sebagai lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dan memilih fokus dengan isu pendidikan bagi anak-anak pedalaman yang susah untuk mendapatkan akses pendidikan yang layak, Yayasan Sekolah Rakyat Bogor, tidak menutup diri akan isu-isu lain yang terjadi di sekitar lingkungannya. Seperti halnya, ketika ada bencana tanah lonsor dan banjir, kami mengerahkan anak didik kami agar terlibat langsung dalam membantu meringankan beban masyarakat yang terkena musibah. Seperti yang terjadi di Megamendung Bogor, anak didik kami melakukan penghijauan dan pembibitan pohon untuk dibagikan kepada masyarakat luas.

Kami yakin, sekecil apa pun kontribusi kita saat ini, pasti akan berefek baik untuk kelestarian alam Indonesia di masa yang akan datang. Dan yang menikmati itu semua adalah anak cucu kita kelak. Berbuat sekarang! Sama halnya dengan mewariskan sejarah masa depan Indonesia yang sejahtera dan damai. Karena kesejahteraan dan kedamaian tidak tumbuh dan muncul dengan tiba-tiba tanpa dipupuk dan pelihara dari sejak sekarang.

Salam sejahtera dan penuh damai dari anak-anak didik kami di Yayasan Sekolah Rakyat Bogor. Anak-anak sederhana yang mau berbuat untuk kesejahteraan diri dan masyarakatnya dan kejayaan Indonesia kelak.

Keselamatan bumi adalah tanggung jawab bersama umat manusia yang menghuninya!

Baca juga berita terkait:

Thursday, February 16, 2012

Menggagas Pendidikan Berkualitas untuk anak Negeri

“Berbicara mengenai pendidikan yang bermutu, tentunya tidak bisa kita pisahkan dengan bagaimana mewujudkan manusia indonesia yang berkualitas”.
Dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 4 no.2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan Nasional yang berbunyi: “Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha  Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tangungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.

Secara ideal, apa yang menjadi cita-cita bangsa atau harapan kita semua dalam Undang-undang  Dasar 1945 tersebut, adalah sesuatu yang penting untuk diwujudkan bersama.  Mengingat kondisi bangsa akhir – akhir ini yang sedang mengalami krisis di berbagai bidang , telah mampu menggerogoti bangunan kokohnya untuk tidak bisa berdiri kokoh.

Salah satu upaya yang perlu dan dianggap penting untuk dilakukan dalam mewujudkan mimpi besar bangsa indonesia sebagaimana tertera dalam UUD ’45 tersebut di atas, yaitu mempersiapkan manusia indonesia yang berkualitas. Tidak ada cara yang jitu untuk dilakukan bila berbicara peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia, yaitu dengan menyelenggarakan pendidikan yang bermutu dan bermuara pada tiga kecerdasan manusia, antara lain:

1.    Kecerdasan kognitif (ilmu pengetahuan),
2.    Kecerdasan afektif (Akhlah atau moral),
3.    Kecerdasan psikomotorik (mempunyai keahlian atau kecakapan yang sifatnya praktis).

Tiga domain pendidikan ini, menjadi persoalan penting yang ingin dicapai dalam setiap proses pendidikan yang diselenggaran oleh pihak mana pun di negara ini. Pertanyaan yang bisa dilontakan adalah, apakah semua harapan dalam dunia pendidikan tersebut  sudah tercapai? Atau sejauh mana keberhasilan pendidikan kita yang dianggap bisa mencetak manusia Indonesia yang bermutu?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya kita melihat sekilas tentang potret pendidikan kita saat ini. Apa dan bagaimana kiprah penyelenggaraan pendidikan dalam mewujudkan manusia Indonesia yang berkualitas.

Berbicara pendidikan Indonesia saat ini, jujur kita harus akui masih jauh dari harapan. Pendidikan kita tak ubah masih sebagai barang “dagangan” saja. Artinya pendidikan masih berorientasi pada bisnis saja – minus nilai. Pendidikan berkualitas baru terasa oleh segelintir orang saja, yaitu mereka yang memiliki uang yang banyak untuk bisa membeli fasilitas ini dan itu. Di lain pihak, penyelenggaraan pendidikan kita masih berkutat pada pemenuhan kecerdasan kognitif saja, tanpa melibatkan aspek lain, yaitu kecerdasan afektif dan psikomotoriknya. Ini terbukti dengan tidak sedikitnya anak didik kita yang meraih kejuaraan olympiade fisika, matematika atau sains modern di tingkat internasional. Dan prestasi ini sangat mengagumkan di satu sisi, namun menyedihkan di sisi yang lain.

Menjawab pertanyaan di atas, apakah semua harapan dalam dunia pendidikan tersebut  sudah tercapai? Secara lantang bisa kita katakan BELUM!! Karena untuk mendapatkan AKSES  pendidikan yang memadai saja, masih banyak anak-anak Indonesia yang belum mampu. Bisa karena alasan jarak tempuh yang jauh dengan lokasi sekolah, atau karena alasan ekonomi yaitu kurangnya biaya untuk membayai pendidikan anak-anak mereka. Atau dengan alasan budaya (baca kultur), masih ada orang tua yang masih menganggap bahwa pendidikan masih dianggap tidak penting untuk masa depan anak-anak mereka.

Lalu sejauh mana keberhasilan pendidikan kita yang dianggap bisa mencetak manusia Indonesia yang bermutu?

Sebagaimana tujuan pendidikan nasional kita, layaknya juga menjadi tipologi atau corak pendidikan yang akan dijalankan. Yaitu pendidikan yang mengayomi dan menampung segenap segmen masyarakat secara luas. Bukan seperti yang berjalan sekarang, bahwa mereka yang kurang mampu pada prakteknya terhambat untuk menikmati atau mengenyam pendidikan yang berkualitas. Karena sistem pendidikan kita telah memperlakukan mereka secara tidak adil. Yaitu sebuah sistem pendidikan yang tidak lagi mengacu pada tujuan awal penyelenggaraan pendidikan Indonesia, sehingga melenceng jauh dari harapan dan cita-cita bangsa yang tertuang di dalam konstitusinya.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh pengamat pendidikan kita Mukhtar Buchori, bahwa kondisi pendidikan kita tetap tertinggal jauh oleh Singapura, Malaysia, Filiphina, Brunai Darussalam, dan lainnya, dalam upaya nasional untuk mencapai kematangan politik dan ekonomi. Dan Jika generasi sekarang kurang mendapat proporsi yang lebih besar atas pendidikan bermutu atau berkualitas itu, maka akan semakin memperjelas “kekalahan” dalam persaingan global.

Oleh karenanya sudah saatnya bangsa Indonesia merubah cara pandangnya tentang arti dan substansi pendidikan yang bermutu. Bahwa pendidikan yang bermutu, tidak hanya bisa diukur atau dinilai dari sekolahnya yang elit dengan menawarkan harga yang mahal, atau dengan begitu banyaknya fasilitas pendidikan yang disediakan. Akan tetapi lebih karena adanya sebuah sistem nilai dan ideologi bangsa yang dijalankan dengan konsisten di lembaga pendidikan tersebut.

Dalam benak dan khayal saya, yang sudah sepuluh tahun menyelenggarakan pendidikan gratis bagi masyarakat pedalaman dan terbelakang di Bogor melalui Yayasan Sekolah Rakyat Bogor, pentingnya menggagas dan mencetuskan sebuah konsep pendidikan yang bermutu yang bisa dinikmati dan menjadi wadah bersama anak bangsa untuk bisa mengenyam pendidikan secara setara, adalah sebuah keniscayaan. Karena hampir lebih dari 80% penduduk Indonesia berada pada strata ekonomi menengah ke bawah. Jutaan anak Indonesia belum bisa mendapatkan akses pendidikan yang memadai. Ini cukup menjadi alasan buat kita, untuk memulai merubah kebijakan pendidikan Indonesia yang berpihak pada nasib rakyat kecil di mana pun mereka berada.

Sudah lewat setengah abad lamanya, rakyat Indonesia dikebiri hak-haknya untuk menikmati pendidikan yang berkualitas. Pemerintah dinilai belum memberikan porsi yang jelas atas keberpihakannya pada peningkatan kualitas dan memberikan akses yang sama terhadap segenap rakyatnya untuk mendapatkan pendidikan yang memadai.  Atau memang tidak memiliki political will – kemauan politik untuk meningkatkan taraf pendidikan ditengah gempuran keras “Bisnis Pendidikan” yang menggiurkan saat ini.

Allahu a’lam.

Wednesday, February 15, 2012

Anak Muda: "Berkolaborasi untuk Indonesia yang Jauh Lebih Baik"


Pada tanggal 10 – 12 Februari yang lalu, saya beruntung karena bisa ikut ambil bagian dalam acara yang saya anggap penting bagi kemajuan bangsa kita ke depan. Betapa tidak, karena pada acara ini, berkumpul sekitar 200 orang pemuda Indonesia untuk perubahan bangsa di Bandung. Kegiatan itu disebut  dengan “Indonesian Young Changemaker Summit” atau yang disingkat dengan IYCS.

Indonesian Young Changemakers Summit adalah momen berkumpulnya para pemuda Indonesia yang telah berkarya nyata untuk masyarakatnya. Kegiatan ini bertujuan untuk menyatukan visi bersama, mengkolaborasikan gerakan, dalam upaya mewujudkan indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Seluruh peserta yang hadir berasal dari berbagai elemen gerakan pemuda, namun mempunyai karakteristik yang kuat, yaitu:

Berorientasi kerja atau berkarya nyata

Orientasi kerja atau berkarya nyata adalah kalimat yang pas untuk ditujukan pada para Pemuda Indonesia yang berkumpul dalam acara IYCS ini. Karena semua peserta yang hadir adalah merupakan anak muda yang tidak duduk berpangku tangan terhadap kondisi masyarakat atau bangsanya. Mereka tidak hanya melontarkan kritik kepada pemerintah, akan tetapi memberikan contoh bahwa untuk menyelesaikan berbagai persoalan bangsa ini harus dengan karya nyata. Mereka semua sama-sama punya mimpi yang besar untuk kemajuan bangsanya. Yaitu menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang mandiri di atas kakinya sendiri tanpa harus mengemis dari asing. Dan untuk menjawab semua itu, pemuda Indonesia ini bersepakat untuk berbuat sekecil apa pun untuk kemakmuran masyarakat di sekitar mereka.

Berbagai kegiatan positif yang telah mereka torehkan untuk membantu masyarakat yang terbelakang agar bisa tetap sekolah, mempunyai usaha kecil, mendapatkan layanan kesehatan Cuma-Cuma bagi masyarakat miskin di pedesaan, membangun koperasi untuk kemandirian masyarakat pedalaman, pemberdayaan anak-anak Yatim piatu, menggalakkan masyarakat agar memahami sejarah, dan masih banyak lagi aktivitas peserta IYCS yang tidak saya sebutkan satu persatu. Intinya adalah mereka berkumpul untuk merumuskan poin-poin yang penting untuk menjadi agenda perubahan bangsa di masa yang akan datang.

Kreatif dan Memiliki Semangat untuk Berkontribusi

Dalam melakukan perubahan untuk bangsa dan negaranya, pemuda indonesia tidak boleh cepat puas. Persaingan antar negara di dunia saat ini, membutuhkan hadirnya para pemuda yang memiliki kreatifitas dan semangat berkontribusi yang tinggi untuk meningkatkan daya saing bangsanya di kancah internasional.

Hal ini pun dibuktikan oleh mereka yang berkumpul dalam acara IYCS ini. Hampir semua peserta yang hadir merasa tidak puas dengan program yang telah mereka lakukan untuk komunitasnya masing-masing. Maka acara IYCS ini menjadi ajang bagi pemuda Indonesia untuk saling tukar pikiran dan pengalaman dalam menyempurnakan aksi mereka setelah pulang ke daerahnya masing-masing.

Merajut tali kasih untuk kemaslahatan bersama, adalah penggalan kalimat yang pas untuk kita sampaikan bagi upaya beberapa anak muda Indonesia ini ke depan. Mereka saling mengasah kreatifitas dan kemampuannya untuk merubah keadaan dan kondisi masyarakatnya ke arah yang lebih baik.

Hadir dengan Semangat Pribadi untuk Berkolaborasi

Berangkat dari komonitas masing-masing yang skalanya kecil untuk bersatu membangun asa bagi negeri tercinta. Itu menjadi motif yang sangat kuat bagi peserta IYCS ini. Acara yang digelar dengan penuh gelora semangat dan sarat dengan motivasi perubahan ini, semakin ‘membakar’ semangat teman-teman semua, karena diadakan di Gedung Konfrensi Asia Afrika dan Gedung Indonesia Bangkit di Bandung. Aroma perubahan yang telah dikobarkan oleh para pemuda tahun 1928 lalu menjadi alasan tersendiri bagi kami untuk menguatkan diri dan menjalin keakraban agar melahirkan kesamaan pandangan dan pola gerakan yang sama dalam membangun bangsa ke depan.

Dalam memenuhi keinginan bersama untuk melakukan perubahan terhadap bangsa ke depan, maka pemuda Indonesia yang bergabung dalam acara IYCS ini, merumuskan dan menformulasikan “Sumpah Pemuda Jilid 2.0. Dengan keyakinan bahwa tiga karakteristik di atas adalah merupakan kekuatan generasi muda ini yang akan menjadi jawaban bagi ‘kegagalan’ pembaharuan Indonesia selama ini. Bangsa ini memang telah menyatukan identitas dan cita-citanya melalui Sumpah Pemuda 1928, namun belum menyelaraskan cara menuju ke sana. Kekuatan dan semangat jaman inilah yang dikristalisasi dalam Sumpah Pemuda jilid 2.0 yang intinya adalah membangun “Komitmen untuk Bekerja”.

Untuk mewujudkan Sumpah Pemuda Jilid 2.0 ini, panitia mencoba menjalankan proses yang tidak mudah. Mereka mengidentifikasi tujuan, format dan nilai-nilai luhur yang dianggap masih relevan untuk dipertahankan. Di samping itu, panitia juga melakukan survey lebih dari 700 responden dan berdiskusi secara intens dengan peserta yang menjadi inti dari perhelatan bersejarah ini.

Dari proses trsebutt di atas, panitia dan peserta IYCS menghasilkan formulasi Sumpah Pemuda 2.0 sebagai berikut:

Kami putra-putri Indonesia, berjanji untuk menegakkan integritas dan kepedulian demi mewujudkan Indonesia yang adil dan sejahtera
Kami putra-putri Indonesia, bertekad untuk berkreasi dan berkolaborai demi mewujudkan Indonesia unggul dan berdaya saing.

Kami putra-putri indonesia, berikrar untuk bekerja keras dan bertanggung jawab demi Indonesia lestari, selaras dalam keragaman.

Sumpah Pemuda Jilid 2.0 ini meminjam istilahnya mas Ridwan Kamil, salah seorang SC dalam acara ini, adalah komitmen untuk bekerja mewujudkan Indonesia yang lebih baik, sebuah “bangunan Indonesia yang utuh dan kokoh”.

Sebagai kelanjutan dari kegiatan yang penting ini, semua peserta sepakat untuk membuat sebuah group diskusi lewat dunia maya atau internet, mengingat jarak antar peserta yang jauh. Sehingga tetap bisa menjalin hubungan dan berbagi semangat serta menyusun strategi untuk berkolaborasi dalam bentuk program yang real buat masyarakat dan bangsa.

Tuesday, February 14, 2012

Tanggung Jawab Cendekiawan

“Dan hendaklah takut pada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. ( QS. An Nisa’: 9)

Masalah semakin merosotnya akhlak (moral) di kalangan para elit pemerintahan, penyelenggaraan pendidikan yang carut marut, praktek korupsi berjamaah, penyalahgunaan narkoba, pembunuhan dan tindakan kekerasan di berbagai daerah, dan masih banyak lagi tindakan amoral lainnya yang kita tonton di negeri ini. Semua persoalan tersebut, seakan tidak pernah selesai dan kian hari semakin bertambah, oleh karena tidak ada yang diproses dengan tuntas di ranah hukum.

Mencermati fenomena sosial akhir-akhir ini, kadang-kadang membuat hati kita tersentak, karena begitu banyaknya persoalan yang dihadapi oleh bangsa ini. Apalagi kalau kita kaitkan dengan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara di masa yang akan datang.

Apa yang sudah disebutkan di atas, adalah fenomena gunung es yang kalau dibiarkan akan membuat letupan yang begitu besar dan bahkan bisa menghancur leburkan tatanan kebangsaan kita. Belum lagi kalau kita perhatikan efek dari dekadensi moral tersebut, yang biasanya membawa kita semua kepada keterpurukan yang mendalam. Misalnya, munculnya kemiskinan, kejahatan di mana-mana, menjamurnya anak-anak usia sekolah yang beralih profesi menjadi joki tree in one - bahkan menjadi pengamen jalanan, pemutusan tenaga kerja secara besar-besaran, penipuan, dan lain sebagainya akan menjadi tontanan wajib kita semua. Semua itu terjadi karena kurangnya kepedulian dan kemauan melakukan perubahan dan tidak adanya kepastian hukum di negara kita.

Adalah Dr. Ali Syari’ati, seorang cendekiawan terkemuka, murid sekaligus pengagum Ayatullah Khomaini (Tokoh pencetus revolusi Iran). Lewat sebuah ceramahnya yang telah dibukukan, beliau sampaikan pesan untuk para intelektual muslim, bahwa tugas pokok para cendekiawan (ilmuwan) adalah memberi perubahan dan pencerahan kepada masyarakat luas. Kaum cerdik pandai harus mengambil peran seperti yang pernah dimainkan oleh para Nabi dan Rasul di masa lampau. Yang menjadi kekuatan moral yang sangat penting  dalam proses perubahan yang dialami oleh kaumnya. Begitu pula layaknya para ilmuwan itu, mereka tidak boleh larut dalam kesenangan duniawi dan “melacurkan” diri pada sebuah kenikmatan yang sifatnya sesaat. Sehingga mengalihkan mereka pada tugas pokoknya untuk memberikan pencerahan terhadap ummat dan masyarakatnya. Cendekiawan (ilmuwan), meminjam istilahnya Almarhum Dr. Kunto Wijoyo, harus “berani” miskin. Yaitu miskin materi dan miskin jabatan. Mereka harus menjaga dirinya agar tetap selalu “merdeka” dari kunkungan keinginannya yang besar akan kenikmatan duniawiah.

Kembali ke Dr. Syari’ati, dalam terminologinya, seorang cendekiawan mau tidak mau harus melibatkan dirinya dalam upaya memberikan pencerahan terhadap masyarakat. Berbuat sesuatu yang konkrit untuk kemaslahatan masyarakatnya. Karena kalau tidak, maka mereka tidak bisa disebut dengan cendekiawan atau ilmuwan. Namun yang terjadi belakangan ini, kita bisa melihat dengan jelas bahwa budaya hedonis (baca materialistis – hidup mewah) menjangkiti para elit dan penyelenggara pemerintahan kita. Kondisi ini semakin memperparah keadaan bangsa Indonesia. Terlebih lagi kalau kita perhatikan akibat dari perilaku-perilaku koruptif yang meraja lela di berbagai lini kehidupan kita. Maka akan semakin jelas keprihatinan kita terhadap kondisi bangsa ini.

Saatnyalah bagi semua steakholder bangsa ini, untuk memikirkan bagaimana fokus pembangunan manusia Indonesia yang lebih baik ke depan. Karena tantangan kita di masa yang akan datang jelas semakin berat, sebab kita berada pada posisi persaingan bebas yang melibatkan semua negara di dunia. Oleh karenanya kaum cerdik pandai di negara ini, harus mengambil bagian yang jelas untuk menyusun strategi dalam mengatasi persoalan clean goverment, keterbelakangan (kebodohan), ekonomi (kemiskinan) , budaya (kultur masyarakat yang mulai tergerus oleh budaya asing) dan pertahanan teritorial untuk menjaga kedaulatan bangsa.

Dari sekian banyak persoalan yang disebutkan di atas, yang sangat mendesak dilakukan pembenahan adalah persoalan pendidikan. Yang menurut hemat saya perlu diperbaiki, demi kemajuan bangsa di masa yang akan datang. Mengapa pendidikan? Karena lewat pendidikanlah Sumber Daya Manusia (SDM) sebuah bangsa bisa diukur, dan kualitas SDM nya bisa bersaing dengan SDM negara-negara lainnya di era globalisasi ini. Oleh sebab itu, para cendekiawan tidak bisa berada di “Menara Gading” atau merasa asyik dengan aktivitasnya sendiri, mereka harus turun gunung untuk bekerja dengan lebih keras lagi, demi kesejahteraan masyarakat menengah ke bawah di mana pun mereka berada.

Upaya ini perlu dilakukan, agar jangan sampai kita mewariskan generasi penerus bangsa yang disinyalir oleh Tuhan dalam Al Qur’an surah An Nisa’ : 9 diatas, yaitu generasi yang lemah – lost generation. Generasi bangsa yang lemah ilmunya, lemah akhlaknya (moralitasnya) dan lemah dalam etos kerjanya.
Semua ini adalah tanggung jawab para cendekiawan untuk mendidikan dan mengarahkan mereka menuju pada masyarakat yang dicita-citakan oleh Nabi yaitu “Masyarakat Madani”, yakni masyarakat yang berperadaban  - yang menjadikan ilmu pengetahuan dan akhlak Islami sebagai fondasi yang kuat dalam mengelola kehidupan bermasyarakat.

Allahu a’lam..

Tuesday, January 10, 2012

Peran Guru dan Perubahan Sikap Peserta Didik



Teori terpenting dalam ilmu perubahan perilaku manusia adalah kemampuan seseorang untuk sadar atas apa yang akan dilakukan. Kesadaran (awareness) menduduki urutan pertama dalam tahap perubahan perilaku seseorang. Mengajar untuk sebuah perubahan tidak hanya ditujukan kepada siswa, tetapi juga dimaksudkan untuk para pendidik. Karena dengan mengajar seorang guru akan semakin memahami perubahan pemahaman maupun sikapnya, sehinggap mampu mengukur sejauh mana dia mengalami perubahan dalam dirinya. Begitu juga pada tataran siswa, dengan belajar, mereka diharapkan akan mengalami perubahan pemahaman keilmuan maupun sikapnya dalam berbicara maupun bertindak.

Tentu yang dimaksud dengan perubahan di sini adalah perubahan pada diri sendiri. Ada sebuah ungkapan yang berbunyi: “Merubah diri sendiri sama halnya dengan melakukan perubahan untuk dunia”.

Pernyataan tersebut kesannya memang terlalu berlebihan. Akan tetapi begitulah kenyataannya, bahwa dengan memulai melakukan perubahan pada diri masing-masing, akan membawa perubahan yang semakin besar pada lingkungan di mana kita tinggal, bahkan pada skala yang jauh lebih besar lagi. Maka tidak salah, ketika Nabi ditanya bagaimana cara terbaik untuk merubah kebiasaan masyarakat? Rasulullah Saw. menjawab dengan kalimat yang pendek tapi berisi: “Ibda’ bi nafsika”, yang artinya: “Mulailah dengan dirimu sendiri”. Karena nabi sadar betul bahwa dengan melakukan perubahan pada diri sendiri dan komit terhadap apa yang dilakukan, maka akan mampu merubah pandangan banyak orang tentang makna penting sebuah perubahan.

Lalu kenapa harus memulai pada diri sendiri? Karena hanya diri sendiri yang akan mampu memulai perubahan, bukan orang lain! Dan di dalam diri setiap kita, ada “potensi Illahiah” atau potensi ke-Tuhanan yang menjadi kekuatan setiap orang. Dan potensi inilah yang harus digali dan dieksplor dengan baik, sehingga mampu memberi warna dalam proses belajar mengajar yang ditempuh oleh setiap orang.

Dalam kaitannya dengan hal ini, tugas Guru menjadi sangat menentukan setelah peran orang tua siswa di rumahnya, yaitu menfasilitasi dan mengarahkan anak didiknya agar mengalami perubahan. Misalnya, dari yang belum paham menjadi paham, yang malas menjadi rajin, yang agresif menjadi terkendali, yang sombong menjadi rendah hati, dari berbicara yang tidak senonoh menjadi bertutur kata yang indah, dan lainnya. Intinya sang Guru akan menfungsikan dirinya untuk meraih kesadaran bagi siswanya. Kesadaran bahwa belajar adalah mengulang kembali apa yang sudah ada dalam diri mereka. Dan belajar merupakan jembatan untuk mencapai cita-cita sukses dan mengukir sejarah masa depan yang gemilang. Semangat kesadaran seperti ini, harus menjadi pegangan bagi setiap guru ketika memasuki ruangan kelas sekolah. Agar anak didiknya terbangun sikap optimisme yang tinggi dalam perubahan sikap dasarnya yaitu terciptanya keinginan dan kebutuhannya yang tinggi untuk selalu belajar.
Untuk menunjang hal ini, guru sendiri perlu melakukan penyadaran sikap belajar sebagai proses pemahaman terhadap peserta didiknya. Melakukan inovasi-inovasi baru dalam hal metode belajar di kelas. Dengan menjadikan kelas sebagai “Orkestra”, bukan “kuburan” yang sepi dari kreativitas peserta didiknya. Menjadikan peserta didiknya sebagai “Subjek” bukan “Objek”, sehingga peserta didik diberi ruang untuk selalu melakukan kreativitas – kreativitas baru dalam proses belajar mengajar.
Pada kondisi ini, guru berfungsi sebagai fasilitator bukan yang menguasai forum. Di mana para siswa diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan bakat dan potensi dirinya. Para siswa lagi-lagi tidak hanya dianggap sebagai “bank”, yang berfungsi sebagai wadah untuk menampung informasi atau ilmu pengetahuan. Mereka (siswa) memiliki hak untuk meng-eksplorasi dirinya sejauh mungkin, demi kemajuan dan perubahan mereka ke arah yang jauh lebih baik lagi. Karena di sinilah letak atau esensi dari “belajar” itu sendiri.

Saturday, December 24, 2011

Ayo Peduli Anak Melalui Pendidikan


Awalnya tahun 2002, saya bersama teman-teman yang bergabung di Yayasan Sekolah Rakyat Bogor, memulai kegiatan pendidikan untuk anak-anak di pedalaman Kabupaten Bogor dan bergerak secara bersama-sama untuk peduli terhadap nasib mereka, khususnya bagi Anak-anak usia SMP agar mendapatkan akses pendidikan yang layak. 

Saya sendiri tinggal di Jakarta dan memulai menjalankan program Yayasan di daerah Caringin Kabupaten Bogor. Pasnya di Desa Tangkil yang letaknya memang agak jauh dari akses luar. Untuk menuju Desa Tangkil, kita harus naik lebih kurang 7 Km lagi dari jalan raya Sukabumi. Sementara jarak rumah penduduk dengan lokasi sekolah lebih kurang 15 Km. Itulah yang menjadi alasan bagi masyarakat yang tinggal di daerah terpencil yang ada di Kabupaten Bogor tidak menyekolahkan anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Bahkan ada pengelola Tempat Kegiatan Belajar Mandiri (TKBM) kami yang letaknya di Rumpin,  jarak rumah penduduk dengan sekolah SMP lebih kurang 40-50 Km. Jauh sekali memang dan kalau mau sekolah anak-anak harus naik ojeg dan sekali jalan harus merogoh kantongnya untuk biaya ojeg Rp.50.000 sekali jalan.

Alasan lainnya yang sangat menonjol adalah persoalan ekonomi. Orang tua anak-anak ini memang rata-rata bekerja sebagai kuli cangkul atau bertani di kebun mereka yang semuanya tadah hujan. Karena ladang mereka berada pada dataran yang tinggi, maka untuk mendapatkan air buat siram tanamannya, mereka harus menarik pipa belasan kilo dari sumber mata air yang ada di gunung. Sehingga bagi petani yang tidak punya modal, mustahil akan mampu mendapatkan hasil kebun yang optimal tiap tahunnya.
Lalu berapa kira-kira penghasilan mereka per hari? Hampir bisa dipastikan pendapatan orang tua mereka berkisar antara Rp.30.000 – Rp.50.000 per hari. Sementara mereka harus menghidupi 3-5 Orang anak dalam satu keluarga (maaf, KB kurang diminati soalnya. Hehehe).

Alasan lainnya yang sangat menonjol sampai sekarang adalah budaya yang berlaku di masyarakat mengenai kurangnya pemahaman orang tua akan pentingnya pendidikan. Bagi sebagian besar masyarakat yang tinggal di pedalaman Kabupaten bogor, dan bahkan mungkin berlaku untuk seluruh masyarakat pelosok yang ada di Indonesia, masih menganggap bahwa pendidikan itu bukan hal yang terlalu penting untuk Anak-anak mereka. Orang tua masih menganggap bahwa mencari uang jauh lebih utama bagi anak-anak dibandingkan bersekolah. Karena dengan sekolah akan menghalangi anak-anak mereka untuk bisa mendapatkan uang dan tidak bisa membantu mereka mempunyai penghasilan tambahan. 

Kaitannya dengan hal di atas, saya pernah punya pengalaman yang menarik dengan salah satu wali murid yang belajar di SMP Gratis yang kami kelola di Sekolah Rakyat. Ceritanya, pada suatu siang saya iseng datang ke ladang dan berdialog dengan salah satu wali murid kami yang anaknya memang sudah jarang masuk sekolah. Kemudian saya sengaja mendatangi orang tuanya di ladang yang sedang asyik bekerja, lalu terjadilah dialog singkat antara saya dengan wali murid tersebut.

Saya mulai bertanya tentang aktifitas anaknya selepas jam sekolah, apa saja yang dia lakukan? Lalu sang bapak inipun mulai bercerita dengan tidak banyak bicara alias langsung pada intinya, bahwa anaknya terpaksa dikeluarkan dari sekolah karena kerbau dan kambing yang mereka miliki tidak ada yang mengambilkan rumput (bahasa beliau tidak ada yang ngangon kerbau dan kambing pak munawar). Saya pun tersenyum mendengar alasan yang diberikan oleh sang bapak itu. Kemudian saya mencoba memberikan solusi kepada beliau, sambil menyampaikan pendapat dengan harapan akan diikuti.... Bapak, bagaimana kalau anak bapak tetap sekolah saja dan mengambil rumputnya setelah pulang sekolah? Beliau tetap saja pada pendiriannya bahwa anaknya sangat dibutuhkan di ladang untuk mencari rumput kerbau dan kambingnya.

Potret sang bapak di atas, kalau mau jujur masih banyak kita jumpai di berbagai daerah pelosok negeri. Mungkin juga masih menjadi cara pandang yang berlaku umum di masyarakat kebanyakan. Tapi apapun itu, kita tetap harus memberikan pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya pendidikan dan akses buat anak-anak pedalaman ini agar tetap bisa sekolah. Karena pendidikan adalah investasi jangka panjang sebuah bangsa untuk melihat kemajuannya di masa yang akan datang. Bahkan hemat saya, untuk memulai reformasi dan merubah kondisi bangsa agar lebih baik lagi, harus lewat pendidikan. Yaitu dengan mendidikan SDM yang handal. Tengoklah negara-negara tetangga kita yang sudah sukses. Misalnya Malaysia, Piliphina, Singapura, Australia dan lainnya, mereka menjadikan dunia pendidikan sebagai “Panglima” bagi start poin perubahan. Dan untuk kasus kita di Indonesia tidak jelas arahnya ke mana dunia pendidikan kita dibawa. Ditambah lagi dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan telah menggiring kita semua pada “komersialisasi dunia pendidikan” itu sendiri. Sehingga semakin nyata kesenjangan antara anak-anak orang kaya dan anak mereka yang miskin. Semuanya bisa dilihat dan dinilai di mana mereka bersekolah. Dengan dalih kualitas, maka lembaga-lembaga pendidikan ramai-ramai menaikkan biaya sekolah setinggi langit.

Apapun alasannya, harusnya lembaga pendidikan yang berkualitas tersebut, bisa dinikmati dan menjadi tempat belajar juga buat anak-anak yang tidak mampu untuk menuntut ilmu. Karena akses untuk mendapatkan pendidikan yang memadai dan berkualitas itu, merupakan hak bagi segenap rakyat Indonesia dan sudah dijamin oleh konstitusi kita (UUD 45). Dan untuk mewujudkan pendidikan yang setara bagi seluruh masyarakatnya, sudah saatnya para pemegang kebijakan pendidikan di negeri ini memiliki kemauan politik - Political Will untuk melakukan perubahan mendasar terhadap pola dan sistem pendidikan di Indonesia. Tanpa itu, semua gerakan atau upaya yang sudah dilakukan oleh masyarakat yang menghendaki peningkatan mutu dan kesetaraan akses pendidikan bagi semua anak bangsa, akan sia-sia. Karena belum sepenuhnya ditopang oleh pemerintah sebagai pelaksana penuh dari isi konstitusi kita.








Friday, December 9, 2011

Wajah Buruk Pendidikan Kita

Aspek pendidikan dalam berbagai kehidupan masyarakat di dunia tidak dapat dilepaskan dari pola budaya dan latar belakang  sejarah masing-masing bangsa.  Dualisme dalam dunia pendidikan kita dalam kaitannya dengan kebudayaan dapat kita lihat dari fungsi pendidikan yang berperan sebagai proses transformasi kepribadian menuju kematangan manusia ( pendewasaan manusia). Tetapi di sisi lain pendidikan dapat berfungsi sebagai pewarisan nilai-nilai budaya masyarakatnya serta mempertahankan kepribadian kolektif masyarakat (Nasionalisme).

Disadari juga bahwa bangsa Indonesia secara historis mengalami masa penjajahan / kolonialisasi oleh Barat yang berjumpa dengan pola-pola warisan berbagai ajaran keagamaan, seperti Islam klasik, Hinduisme dan Budhisme secara dialektik. Dari kenyataan tersebut dapat  kita analisis bahwa hal tersebut  membawa dampak positif dan negatif  terhadap pola pendidikan di Indonesia. Pola pendidikan barat  menekankan pada “individualisme” yang men-eliminasi semangat kolektivisme dan sekaligus melaksanakan garis kebijaksanaan penjajah yang tidak menghargai penduduk pribumi, yang mereka anggap masih primitif, yang kemudian membawa dampak terhadap bangkitnya kesadaran dan semangat nasionalisme untuk melawan penjajah.

Di sisi lain, agama –agama seperti Islam klasik, Hinduisme dan Budhisme setelah megalami proses dialektis dan sintesis telah mewujudkan masyarakat piamidal yang hirarkis (baca berkelas) dalam pembentukan institusi pendidikan yng berjiwa religius dalam menegakkan apa yang disebut oleh Chumaidi syarief dengan istilah “Religio – Feodalisme”  (feodalisme yang dibungkus dengan nilai-nilai agama). Konsekwensi logis yang dipikul oleh masyarakat adalah bangkitnya kelas-kelas awam dan kelas atas  yang merupakan kelas penentu potret pendidikan Indonesia saat ini.

Ketimpangan-ketimpangan nilai di atas, secara terus menerus dan tanpa kita sadari telah membentuk konflik nilai  pada masa sekarang, karena pendidikan yang bercorak “otoriter” warisan kolonial dan hasil ciptaan agama-agama yang disebutkan di atas sangat berpihak pada kepentingan “kaum atas” dan meniadakan otoritas sosial dari masyarakat kelas bawah (baca orang miskin). Dari perspektif politik, hal ini dapat melahirkan pola pendidikan yang bercorak “hegemonik”.

Pendekatan Strukturalisme dalam Pendidikan 

Secara sosiologis, pendidikan adalah sebuah proses interaksi  antara pendidik dengan subjek didik. Namun dilihat dari sudut pandang strukturalisme, orientasi  dari interaksi diletakkan pada fungsi dan kedudukan pelaku itu sendiri. Oleh karena itu “kekerasan” dalam pendidikan dapat diartikan bahwa perilaku tersebut lahir dalam struktur yang bercorak hegemonik, sebagai sebuah kejahatan dan kekerasan yang  merupakan produk dari struktur  yang telah ada.
Akumulasi dari kekuasaan sosio- politik yang bercorak hegemonik melahirkan struktur masyarakat pendidikan yang sangat hirarkis (berkelas), di mana lapisan yang tertinggi (feodal – paternal) menghasilkan ketimpangan “potensi” dalam masyarakat didik sehingga terwujud adanya ketimpangan “kapabilitas”, “kepercayaan diri” dan bahkan penguasaan otoritas kepribadian subjek didik. Disamping itu masyarakat didik kehilangan otonomisasi  kemandirian yang rentan terhadap adanya eksploitasi – penindasan, baik sosial, politik, ekonomi, dan bahkan adanya pemerataan proses pembodohan suatu generasi subjek didik.  Sering kita dengar digaungkan adanya pengembangan SDM, akan tetapi yang terjadi adalah proses pembodohan sistemik. Di berbagai jenjang pendidikan diterapkan sistem “pendidikan terpadu”, namun sebenarnya yang berjalan hanya proses “pembelajaran” yang mengebiri hakikat dari pendidikan yang sebenarnya. Begitu pula pada tataran masyarakat religius Islam, seperti majelis ta’lim tumbuh subur  bak cendawan di musim hujan, namun peningkatan pemahaman umat tidak bergeser  dari semula.

Menarik memang melihat pola pendidikan yang berlaku dalam masyarakat religius, kemungkinan akan terjadinya letupan generasi didik untuk melakukan “pemberontakan” intelektual terhadap proses pendidikan yang sudah berjalan agak sulit, karena para ulama, ustadz, pendeta, biksu, romo dan kekuasaan politik bersatu padu dalam mempertahankan eksistensi dirinya secara hegemonik. Maka dalam kondisi seperti ini jangan berharap akan lahirnya perubahan dan pencerahan baru yang mampu merubah wajah dunia pendidikan di Indonesia.

Distorsi tentang pendidikan akan lahir bilamana tujuan pendidikan yang ideal bagi masyarakat tidak dapat terlaksana atau terwujud sebagaimana tuntunan zaman. Kekuatan-kekuatan birokrasi sangat dominan dalam pelaksanaan pendidikan buat masyarakat. Sehingga berakibat munculnya ketidakpuasan dalam masyarakat terdidik. Karena itu tuntutan masyarakat untuk dapat memenuhi pelayanan pendidikan yang ideal kadang-kadang dilakukan dengan nuansa kekerasan. Beberapa tahun yang lalu dan bahkan sampai sekarang, tuntutan terhadap perbaikan sistem pendidikan sangat gencar, ada yang dengan melakukan demonstrasi, sebagai bentuk protes bagi penyelenggaraan pendidikan yang berwajah penindasan, kekerasan, eksploitatif, dan hegemonik oleh para penguasa atau pengelola pendidikan. Ada pula yang bermain pada tataran legislatif di parlemen yang berupaya merubah wajah pendidikan melalui proses amandemen UU yang berkaitan dengan persoalan pendidikan.

Itu semua merupakan usaha maksimal masyarakat yang menghendaki dan merindukan terwujudnya dunia pendidikan yang ideal, yaitu pendidikan yang berwajah humanis untuk subjek didiknya. Sehingga mampu melahirkan generasi baru Indonesia yang cerdas secara keilmuan dan cerdas secara moral dan memiliki keahlian di bidangnya masing-masing. 

Bangkitlah dunia pendidikan negeriku, jayalah generasi bangsaku!.

Baca juga: