Showing posts with label Inspirasi Anda. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi Anda. Show all posts

Monday, March 3, 2014

Cerita Seorang Pengasah 'Mutiara'

Written by Kahfi Dirga Cahya

Anak-anak Sekolah Rakyat Bogor dalam kegiatan belajar/DokAnak-anak Sekolah Rakyat Bogor dalam kegiatan belajar/DokNun jauh di sana, lahir seorang anak bertubuh mungil dengan bakat yang tak bisa diremehkan. Bima merupakan tempat anak ini tumbuh besar—tepatnya di daerah Rasabao, Nusa Tenggara Barat. Rasabao sendiri artinya adalah Kampung Baru.
Di kampungnya, anak ini digembleng menjadi seorang yang cukup dekat dengan agama Islam. Bahkan, ada istilah bahwa ‘maling pun harus bisa mengaji.’ Berkat itu pula, kampungnya tak pernah sepi dari suara mengaji—terutama saat waktu Maghrib tiba.
Ia adalah Munawar M. Ali. Laki-laki yang penuh semangat membara jika sedang berbicara pendidikan. Hal ini berkat semangat yang terbentuk di masyarakat kampungnya tentang pendidikan. Di mana hampir semua orang tua mengharuskan anak-anaknya untuk sekolah yang tinggi. Sekali pun harus berhutang untuk biaya pendidikan.
Besar di keluarga yang cukup relijius, Munawar kecil merupakan anak yang diimpikan oleh ayahnya untuk menjadi Qori Internasional. Prestasinya dalam dunia Qori dimulai sedari ia menjadi Qori Nasional termuda di Indonesia pada tahun 1988. Saat itu umurnya genap menginjak usia 14 tahun.
Dari ambisi ayahnya, ia kemudian ditempatkan di Perguruan Tinggi Ilmu Quran di Jakarta. Namun, tak bertahan lama—setahun setelah itu, ia akhirnya memutuskan untuk keluar dari kampus itu. Alasannya, kampus tersebut tidak menyediakan wadah yang luas untuk bekreasi.
“Cuma saya memang tidak terlalu sreg dengan PTIQ. Tidak terlalu semangat lihat kampus. Kampusnya kurang menghidupkan anak-anak untuk belajar,” jelas Munawar saat ditemui TNOL di Jakarta Selatan, Kamis 27 Februari lalu.
Keputusannya untuk keluar dari PTIQ harus dibalas dengan konsekuensinya menganggur selama lima tahun lamanya. Tapi, selama menganggur dirinya tetap aktif di berbagai seminar dan tempat kursus. Salah satunya—Al-Manaf—tempat kursus Bahasa Arab yang dimiliki Anis Matta.
Berkat kecerdikan dan bakatnya dalam mengaji, ia juga akhirnya mengabdikan diri untuk menjadi guru ngaji di beberapa rumah.
“Ngajar mengaji itu kadang saya jalan kaki,” kenang Munawar. Ia menuturkan setidaknya ada lima rumah yang ia singgahi untuk mengajar ngaji. Tiap rumah itu ia diberi gaji Rp 50-100 ribu rupiah per bulannya.
“Gaji ngajar mengaji itu untuk kuliah,” ucap Munawar. Akhirnya di tahun 1998 ia memutuskan kembali ke bangku pendidikan lewat tabungan yang dimiliki saat menjadi guru mengaji.
“Saya masih ingat, tabungan saya tiga juta lima ratus. Alhamdulilah, dari uang ini saya tabung untuk melanjutkan kuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta jurusan Pendidikan Tarbiyah,” cetusnya.
Potret kehidupan yang pahit
Sewaktu Munawar menginjak masa Aliyah, ia memiliki kegiatan rutin tiap minggunya. Munawar yang tinggal di rumah bibinya sembari sekolah itu, harus pulang ke kampung untuk mengambil kayu bakar dan beras tiap minggunya sebagai bekal dia tiap harinya di sana.
“Kami punya kebiasaan tiap hari minggu ambil kayu bakar di gunung. Karena hampir semua masyarakat memasak dengan kayu bakar,” cerita Munawar yang jarak antara rumah bibinya dan kampungnya berkisar 40 Kilometer.
Di keluarganya, ia sudah terbiasa makan tanpa lauk. Sekali pun ada lauk, itu harus dibagi sama rata. Karena gaji ayahnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak mencukupi menutupi sembilan anaknya.
“Saya ingat biasanya ayah sering memberi tahu kita sebagai anak-anaknya untuk makan pakai garam. Itu terjadi berhari-hari—tidak ada lauk. Salah satu yang menarik, yaitu makan pakai telur satu dibelah empat atau lima,” tutur Munawar yang kerap kali mendapat sumbangan beras dari kakak pertamanya, Nuraeni.
Hal itu pula yang membuat Munawar memutuskan untuk merantau ke Jakarta—cukup tahan untuk tidak makan di Ibu Kota. Baginya, itu merupakan sebuah kisah hidup dan pelajaran penting. Ia mengungkapkan bahwa pahit merupakan potret hidupnya. “Pahit sudah biasa dari potret hidup saya,” kenang Munawar.
Satu hal yang biasa ia amini dalam hidup yaitu perkataan Bunda Theressa, ‘kalau ingin menjadi orang besar, hargailah orang miskin—bahkan termiskin sekali pun’. Itu yang kemudian mengilhami Munawar untuk membuat suatu perubahan di salah satu daerah di Bogor.
Munawar juga menyontohkan perkataan dari Kiyai di film ‘Sang Pencerah’ bahwa orang besar adalah orang-orang dengan ilmu yang dimiliki. Rela membaktikan dirinya memberi pengajaran kepada anak-anak di gunung, kolong jembatan dan tidak punya akses pendidikan. “Besar itu memiliki kapasitas untuk membantu banyak orang,” kata Munawar.
Sekolah Rakyat
Sebuah momentum penting bagi hidupnya saat ia mulai memutuskan untuk bergelut di pembangunan dunia pendidikan. Awalnya, ia mulai membuat sebuah sekolah di Desa Tangil, Bogor.
“Banyak sekali anak-anak perempuan nikah di usia dini. Selain itu, anak-anak lainnya juga tidak bersekolah,” cerita Munawar.
Dengan melihat kondisi masayarakat seperti itu, pada tahun 2002 Munawar dengan teman-temannya berinisiatif untuk membuat sekolah gratis. Mulanya, mereka belum mempunyai gedung untuk menampung anak-anak. Namun itu teratasi, sesaat setelah mencoba mendekati sebuah yayasan untuk meminjamkan gedungnya—Daarul Funun.
Awalnya, Sekolah Rakyat ini menerima 35 anak untuk bersekolah di tingkat Sekolah Menengah Pertama. Setelah itu, perkembangannya cukup pesat. Ia mengadakan Jambore Sekolah Rakyat se-Bogor.
“Akhirnya teman-teman pada ngumpul. Kemudian tercetus gagasan untuk memformalkan lembaganya menjadi Yayasan Sekolah Rakyat Bogor,” kata Munawar yang mengatakan Sekolah Rakyat sudah berkembang di 23 titik di Kabupaten Bogor.
Kegiatan sosial ini kemudian tercium oleh pengelola Sekolah Rakyat Indonesia. Munawar kemudian berinisiatif mengundang Sekolah Rakyat Indonesia untuk bertemu di Panji Masyarakat yang sempat menjadi kantor Munawar.
“Awalnya saya diminta untuk jadi mitra di titik Bogor. Kemudian saya dipercaya untuk menjadi koordinator Kabupaten Bogor,” cerita Munawar yang menuturkan sekarang sudah ada 20 kabupaten yang ikut mendirikan Sekolah Rakyat di daerahnya.
Hambatan Sekolah Rakyat Bogor
Mereka adalah 'mutiara' yang siap bersinar Mereka adalah 'mutiara' yang siap bersinar Memulai sesuatu yang asing memang membutuhkan perjuangan dalam menghadapi rintangannya. Tak terkecuali pembentukan Sekolah Rakyat di Bogor. “Hampir setiap kali kami membuka TKBM (Tempat Kegiatan Belajar Mandiri), Halangan yang luar biasa datang dari pihak informal leader—tokoh masyarakat,” kata Munawar.
Ia beralasan, Bogor yang masih beranggapan sebagai wilayah pesantren—sehingga anggapan beberapa Kyai Ajengan bahwa sekolah yang diakui hanya pesantren dan mengajar Al-Quran. “Jadi yang kita alami adalah para Ajengan tidak merestui. Itu pun karen mereka belum paham dan saling kenal,” kata Munawar.
“Dalam teori perubahan kan ada defends-nya. Tapi kami sadar betul, teman-teman kita kasih pemahaman bahwa itu sebenarnya sesaat saja,” kata Munawar yang akhirnya mendapatkan dukungan mereka pada program Sekolah Rakyat ini.
Munawar menjelaskan bahwa biasanya ia dan teman-temannya sebelum melakukan TKBM mengajak obrol terlebih dahulu RT, RW dan kelurahan setempat. Jika mereka setuju, maka akan ada pembekalan calon wali murid dari Munawar.
“Penyuluhannya tentang pendidikan untuk anak-anak mereka. Jadi tidak selamanya anak-anak yang disuruh sekolah merugikan orang tua,” kata Munawar yang beralasan, biasanya para orang tua beranggapan anak-anak yang sekolah tidak bisa membantu orang tua di ladang untuk menghasilkan uang.
Namun, hal itu lama kelamaan mulai menghilang. Banyak orang tua yang paham akan pentingnya dunia pendidikan bagi anak-anak mereka. “Banyak teman-teman yang numpang sekarang banyak yang membangun gedung karena dikasih tanah wakaf,” Munawar meyakinkan.
Munawar sendiri menuturkan bahwa ciri perubahan berkaitan dengan manusia itu sendiri, tiga diantaranya yakni; Orang yang belum apa-apa sudah bertahan. Bahkan dia memasang badan untuk tidak boleh;  Ada orang yang ‘oke gue akan bantu’ tapi itu sebatas omongan; Ada orang yang membela mati-matian. Orang ini biasanya akan menghadapi semua jenis rintangan yang dihadapi.
“Untuk menemukan orang yang tipe ini tidak mudah. Kalau bahasa saya ‘kiriman Tuhan’,” kata Munawar yang beralasan bahwa orang ini biasanya datang ketika ia kehabisan akal.
Selain itu, ia juga sering menghadapi masalah dengan sekolah induk—salah satunya saat pemberian Dana BOS (Biaya Operasional Sekolah) dari pemerintah. Munawar mengatakan bahwa beberapa sekolah induk belum memahami arti sekolah mandiri Sekolah Rakyat.
“Yang dimaksud mandiri itu adalah terbentuknya sekolah gratis dari masyarakat. Bukan biayanya yang mandiri,” jelas Munawar yang mengatakan Sekolah rakyat merupakan program pemerintah.
Ia menuturkan, adanya Sekolah Rakyat merupakan kepanjangan dari pemerintah untuk meyediakan pendidikan kepada yang masyarakat yang tinggal di pedalaman. “Undang-Undang sisdiknas (sistem pendidikan nasional) memberikan garansi pada kami untuk begerak di lapangan,” katanya menjelaskan.
Masalah sumber daya manusia untuk mengajar juga merupakan masalah yang dialami oleh Munawar saat permulaannya. Pada akhir tahun 2006 ia kemudian on air di Radio Republik Indonesia (RRI) dalam mengampanyekan Sekolah Rakyat Bogor. Berkat itu, banyak para warga di daerah lain—terutama Jakarta—mengkhususkan dirinya datang ke Sekolah Rakyat Bogor untuk menjadi pengajar.
Munawar mengungkapkan bahwa Sekolah Rakyat Bogor juga tidak berlandaskan pada uang. Sehingga, para pengajar yang datang pun sukarela membantu. Namun, terkadang ia menemukan para pengajar yang meminta uang transportasi.
Kalo orang bergerak karena uang, biasanya mereka gak tahan lama,” kata Munawar menanggapi permasalahan itu.
Berbuat nggak harus jadi orang kaya
Munawar pendiri Sekolah Rakyat di Bogor/Foto: KahfiMunawar pendiri Sekolah Rakyat di Bogor/Foto: KahfiKegiatan sosial itu biasanya akan bertahan dari tahun pertama sampai dengan tahun kelima. Itu pula yang melandaskan Munawar dalam Sekolah Rakayt Bogor ini. “Di tahun itu (satu sampai dengan lima) gangguannya banyak. Kalau gak sabar, ya kabur,” Munawar meyakinkan.
Ia menambahkan tidak mudah bergerak di bidang sosial. Banyak teman-temanya yang mengatakan, ‘kok hebat banget, begrekan di bidang sosial. Bukannya kalau mau bergerak di bidang sosial harus kaya dulu’.
Menanggapi hal tersebut, munawar menjawabnya dengan santai, “Saya jawabnya gampang, kalo nunggu kaya dulu. Kapan bergeraknya. Apakah ada jaminan, Munawar jadi orang kaya,” ujarnya bertanya.
Ia mengatakan bahwa kaya itu terminologinya banyak. Kaya ilmu, kaya jiwa, kaya spiritual, kaya harta—semua itu bagian dari kaya.
Ia mengatakan, bahwa apakah orang kaya punya kepekaan sosial dan kemauan tinggi. Ia menambahkan banyak orang kaya, namun tidak memiliki kepekaan sosial dan empati sosial. “Di negeri ini banyak orang kaya, tapi gak punya empati sosial,” kata Munawar.
Ia menjelaskan bahwa kegiatannya ini mencoba menyentuh hati mereka. “Kenapa Umar mau membantu orang? Karena ada Muhammad yang menyentuhnya. Kenapa Abu Bakar menjadi orang dermawan, karena ada Muhammad yang menyentuhnya,” Munawar menyontohkan.
Menurutnya, masing-masing manusia ada pembagian tugasnya. Jadi, kalo paradigma ‘nunggu kaya raya dulu harus bisa berbuat’ itu merupakan hal yang keliru. Ia menyontohkan lagi bagaimana Bunda Theressa bilang ke Lady Di untuk mengenal Tuhan.
“Bunda Theressa mengajarkan untuk mencintai orang-orang atau anak anak yang gak makan, terlantar di pinggir jalan. Dia tidak pernah mengatakan ini lho Tuhan. Tapi Bunda Teresa paham betul, bahwa jelmaan Tuhan di bumi adalah orang miskin,” contoh Munawar.  Ia menambahkan, itu pula yang dikatakan oleh Nabi Muhammad dan Ibrahim.
Anak-anak penuh semangat
Banyak yang tidak paham bahwa Sekolah Rakyat merupakan bagian dari sekolah negeri. Bedanya, hanya kelasnya yang terletak di gunung. “Kita punya nis (nomor induk siswa), raport dan mereka ikut Ujian Nasional. Ijazahnya adalah dari induk,” Munawar meyakinkan.
Ia menyontohkan lewat TKBM amanah batasa yang berada di Caringin. Induknya ada di SMPN 1 Cigombong. Jadi SMP 1 Cigombong inilah yang akan mengeluarkan ijazahnya. Mereka juga tercatat namanya di SMPN1 Cigombong.
Mereka semua terjamin. Makanya Munawar selalu membesarkan jiwa mereka dengan kata-kata, “kalian tuh sama dengan anak-anak yang di kota.”  Harapannya agar anak-anak tidak minder dan seperti di bawah.
Awal dibukanya sekolah ini, anak-anak muridnya banyak yang malu menatap muka orang yang baru mereka kenal. Biasanya mereka selalu menunduk. Namun, hal itu dengan cepat teratasi lewat program yang dilakukan oleh Sekolah Rakyat Bogor.
“Mereka punya mimpi besar jadi dokter, pengusaha besar. Kita selalu mengakomodirnya lewat program rutin kelas profesi,” ujar Munawar. Jadi, Munawar menambahkan ada beberapa profesi yang dihadirkan ke kelas-kelas.
“Misal, ingin jadi polisi, kita hadirkan polisinya. Lengkap dengan seragam dan materi yang mereka punya,” Munawar menyontohkan.  Ia mengungkapkan kelas ini berguna agar ilmunya dapat dengan cepat terserap di otak para anak-anak.
“Esensinya adalah ilmu yang disampaikan pada anak-anak itu langsung menempel ke otak kanan. Kalau mengantarkan jadi orang suskes, kasih coaching,” kata Munawar yang percaya bahwa cara belajar seperti itu sangat cepat.
Belajar itu sendiri seperti yang dilontarkan Socrates dan Plato merupakan mengulang kembali yang ada di dalam diri kita. “Kenapa kita berani membetulkan pernyataan orang lain. Jawabannya, karena memang sudah ada dalam diri kita,” kata Munawar.
Belajar merupakan kegiatan mengulangi yang ada di dalam diri setiap orang. Jadi, sambung Munawar, jika memakai terminologi ini, tidak ada anak yang bodoh. Dari terminologi itu, sangat jelas bahwa manusia memiliki potensi yang sama untuk maju.
“Semua berpotensi jadi mutiara. Kalau mau mutiaranya bersinar, ya lumpurnya dihilangin. Manusia adalah mutiara yang sesungguhnya. Pendidikan punya tugas untuk mengasah mutiara kecil agar berkilau dan bersinar,” ungkap Munawar meyakinkan.(Sbh)

Saturday, March 10, 2012

Cerita Cecep Hadiat Salah Satu Pengelola SMP Gratis Sekolah Rakyat Bogor

            Aku seorang pendidik,umurku sudah mencapai 41 tahun namaku Cecep Hadiat kini mengelola disekolah SMP Terbuka TKB Mandiri Syifa Rumpin. aku dan keluargaku merasa bahagia walau keadaan pas-pasan.
    Dulu aku mengabdi disebuah Sekolah Dasar Negeri 01 Gobang. Waktu itu mempunyai murid yang pintar-pintar karena setiap diadakan lomba selalu mendapat juara, seperti matematika, IPA dan lain-lainnya. Walau demikian pengabdianku sangat tulus meskipun honor sangat kecil waktu itu. Aku mengabdi pada tahun 1999, honorku hanya Rp 35.000 perbulan. Kadang dapat honor kadang tidak tergantung siswa yang membayar SPPnya lancar.
            Tahun 2000 aku mulai menambah jam mengajar dengan mengabdi disebuah lembaga pendidikan masyarakat yaitu Pusat kegiatan Belajar masyarakat (PKBM) bergerak dibidang pendidikan Luar Sekolah ( PLS ) sebagai Tutor Paket A yang berada dikampung Kukuksumpung Desa Gobang Kecamatan Rumpin Bogor. Perjalanan ke kampung itu dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak serta Jalan menanjak melewati hutan dengan jarak 6 Km waktu yang ditempuh selama 2 jam. Disinilah aku dan dua orang temanku berjuang demi anak-anak bangsa. Menjadi Tutor Paket A lebih keras lagi, karena betul-betul mendidik anak yang belum pernah mengenal sekolah. Aku harus lebih sabar dalam menangani anak-anak yang baru mengenal sekolah karena masyarakat disana terutama orang tua siswa tidak mengalami sekolah sehingga dikatakan Buta Aksara. Saat itu baru mengenal pendidikan ketika Paket A berjalan. Keadaan masyarakat hanya bertani yang hasilnya hanya menunggu 1 tahun sekali.
            Sebagai Tutor Paket A aku dan dua orang temanku tidak digaji hanya karena mengharap ridha Alloh semata. Setiap hari kami bertiga melaksanakan pembelajaran Paket A setelah Habis Duhur, karena pagi ke SD dan siang menjadi Tutor Paket A. begitu dan begitu terus, apalagi kalau ada hujan kami tidak bisa berteduh karena perjalanan melintasi hutan yang sangat lebat juga faktor geografis yang luar biasa. Mungkin kalau dikatakan ya pasrah walau harus bertemu hewan buas.
            Empat tahun sudah berlalu mendidik anak menjadi Tutor Paket A, anak – anak sudah ada yang lulus kelas 6 Paket A setara SD, saya senang dengan keberhasilan ujian nasional mereka, meskipun nilainya pas-pasan.
    Tempat belajar sering berpindah pindah dikarenakan  belajar disebuah gubuk tua yang terbuat dari kayu dan bamboo yaitu majlis ta’lim. Kami semua selalu berpindah mungkin karena keadaan bangunan tersebut takut rubuh.
    Tahun 2004 anak-anak mendapat juara Paket A tingkat Provinsi waktu itu bapak Gubernur yang datang bersama rombongannya naik Pesawat Helikopter Fuma yang kebetulan disitu ada Lapangan bola dengan luas ± 2000 meter. Bapak Gubernur yang diwakili oleh Dinas pendidikan Jawa Barat memberikan penghargaan kepada anak-anak dan diberi hadiah berangkat ke Gedung Sate. Bapak Gubernur Jawa Barat yaitu bapak Dani Setiawan, sampai mengatakan di depan semua anak-anak bahwa “ saya akan segera bangunkan sekolah dikampung kukuksumpung dengan dana 100 Juta” Kata bapak Gubernur. Kami semua merasa senang dengan janji itu.
    Kami semua menunggu bangunan yang sudah dijanjikan bapak Gubernur jawa barat kala itu, tak terasa menunggu dan menunggu akhirnya terlupakan janjinya itu untuk membangun sekolah dikampung Kukuksumpung dengan dana 100 Juta. Semua kecewa dengan janji nya itu, disitulah anak-anak goncang hatinya untuk sekolah karena kebohongan pejabat yang mengingkari, sedikit demi sedikit anak-anak mulai berkurang yang datang ketempat belajar. Guru Tutor pun satu demi satu mulai bolos dan kini tinggal aku seorang. Udah tidak ada Upah ngajar, pejabat malah membohongi semua anak-anak sehingga ketidak percayaannya membuat semua jadi kacau.
            Pada tahun 2008 anak-anak yang masih aktif sudah ada yang melaksanakan lagi ujian dengan jumlah 50 orang dan semuanya lulus. Mungkin dengan terus menerus aku memberi  nasihat agar melanjutkan ketingkat yang lebih tinggi, akhirnya anak-anak ingin meneruskan ke tingkat SMP. Namun saya bingung karena ke SMP harus mengeluarkan dana yang begitu besar, apalagi orang tua mereka rata-rata seorang petani buah yang mendapat penghasilan panen 1 tahun sekali.
            Aku berdoa agar ada jalan keluar dan anak-anak didik bisa meneruskan ketingkat yang lebih tinggi yaitu ke SMP. Mungkin Alloh SWT Memberi jalan dan bertemu dengan seorang Pengurus Yayasan Sekolah Rakyat Bogor yaitu Bapak H. Saeful Millah, S.Ag, beliau adalah seorang pengelola SMP Terbuka TKB Mandiri yang ditugaskan untuk mencari jaringan. Alhamdulillah aku bekerja sama untuk Mendirikan SMP terbuka TKB Mandiri sekaligus dibantu dalam hal administrasi nya untuk dilaporkan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor  dan aku melaporkan ke SMP Negeri 1 Rumpin. Alhamdulillah semua data siswa dan pendaftaran SMP Terbuka TKB Mandiri diterima dengan senang hati. Waktu itu yang menjadi Kepala Sekolah SMP Negeri yaitu Bapak Ansori, S.Pd serta wakilnya Bapak Anwar Muhidin, S.Pd dan Bendahara Ibu Ihat Solihat, S.Pd semua menyambut dengan penerimaan Siswa Baru.
            Pada Tanggal 17 Juli 2008 aku segera resmikan sekolah sebagai awal pendirian SMP Terbuka TKB Mandiri Syifa Rumpin yang ber alamat di Kampung Kukuksump[ung Rt 04/02 Desa Gobang Kecamatan Rumpin kabupaten Bogor dan dihadiri aparat setempat yaitu tokoh masyarakat, Tokoh Agama dan Ketua Pemuda.
    Anak-anak mulai belajar dengan seadanya buku sumber pun seadanya dari hasil pinjam ke sekolah lain. Makin lama belajar terpikir dari mana untuk biaya pembelian buku tulis dan alat tulis lainnya untuk keperluan sekolah, tidak mungkin anak-anak membeli buku karena jauh dengan ongkos ojeg mencapai Rp 40.000 per orang. Akhirnya honor dari SD aku gunakan untuk membeli alat tulis berbagi dengan kebutuhan dapur. Kadang aku ragu, apakah sekolah ini akan berjalan tanpa bantuan dari manapun ? tapi Alhamdulillah aku jalani dengan sabar walau harus membagi dua kebutuhan dari honor SD Rp 500.000. aku mengagumi istri karena mendukung sepenuhnya dan yakin suatu saat ada jalan keluar untuk mendapatkan uang demi pendidikan dan memajukan masyarakat.  6 bulan sudah tak  terasa waktu berlalu dengan cepat. Aku mendapat kabar ada dana untuk pendidikan dari SMP Negeri 1 Rumpin. Dengan rasa riang, segera bergegas datang ke SMP Negeri  untuk mengambil dana tersebut, Alhamdulillah doa istri dan semuanya terkabul. Akhirnya aku merekrut guru dua orang yang keduanya seorang pendidik propesional. Setahun berlalu, tepatnya pada tanggal 12 juli 2009 aku mendapat masalah tempat belajar dikarenakan bangunan majlis akan rubuh dan kami semua pindah tempat belajar ke kampong sebelah yaitu kampong Cijantur Desa Rabak Kecamatan Rumpin. Disitulah aku mulai mengadakan Pembelajaran yaitu disebuah majlis tak’lim milik Ust Soleh yang kebetulan menjadi ulama dan pengurus majlis ta’lim.
            Setelah menjalani beberapa tahun kini siswa kelas 7 sebanyak 72 dan kelas 8 sebanyak 104 serta merekrut guru sebanyak 15 orang. Semua memegang per mata pelajaran. Aku Alhamdulillah kadang mengajar kadang tidak itupun hanya memberi pengarahan baik kepada siswa maupun kepada guru dan kini sudah membuat cabang didesa lain yaitu di kampong manglad dan kampong leuwipeso Desa Cibodas Kecamatan Rumpin.
    Pada Tahun 2012 ini aku dan guru guru berniat menyisir kewilayah Rumpin tengah dan Rumpin Utara dengan target siswa baru mencapai 200 orang ditambah TKB lain yang masuk serta semua menginduk kepada SMP Terbuka TKB Mandiri Syifa. Dengan perjalanan yang begitu panjang dan liku-liku pengajaran yang begitu menyedihkan akhirnya menjadi  SMP Terbuka TKB Mandiri yang paling banyak Siswa diantara SMP Terbuka lain yang ada dikecamatan Rumpin. Dengan strategi yang luar biasa dibantu aparat Desa yang selalu mengarahkan Masyarakat agar masuk ke SMP terbuka bagi yang tidak mampu ke sekolah Formal lainnya. Dengan rasa ingin memajukan sekolah, semua guru membantu dan SMP Terbuka TKB mandiri pun dapat membantu Guru-guru yang Kuliah dalam hal dana. Kini yang terbayang hanyalah mempunyai tempat untuk menampung semua siswa untuk mendirikan bangunan SMP Terbuka TKB mandiri Syifa. Selama melaksanakan pembelajaran semua siswa menumpang di Sekolah Dasar,karena tidak mempunyai tanah dan tempat sendiri. Kami berharap suatu saat aku harus mempunyai tempat dan bangunan sendiri untuk menampung semua siswa SMP Terbuka TKB mandiri Syifa Rumpin. Aku mengharapkan ada Perusahaan yang mau membantu membelikan tanah dan bangunan, baik pemerintah atau pun swasta. Karena SMP Terbuka TKB mandiri tidak akan mampu untuk membeli tanah apalagi untuk membangunnya. Aku mengharapkan ada yang merasa tergugah hatinya untuk membantu dalam pendidikan. Tujuanku hanya satu yaitu membantu anak-anak Indonesia agar sekolah khususnya masyarakat yang miskin dan kampong yang terisolir.
    Inilah suatu kisah perjalanan berdirinya SMP Terbuka TKB mandiri Syifa Rumpin Sekolah Rakyat Bogor. Semoga bisa jadi inspirasi buat siapapun yang ingin melakukan hal yang sama, yaitu membantu memberikan akses bagi anak-anak Indonesia yang beradda di pedalaman agar bisa tetap sekolah. Karena pendidikan adalah HAK setiap warga negara!