Showing posts with label Spiritualita. Show all posts
Showing posts with label Spiritualita. Show all posts

Wednesday, March 21, 2012

Kedudukan Ilmu dalam Islam


Berbicara mengenai ilmu dalam perspektif Islam, berbeda dengan syariat lain atau undang-undang dan peraturan buatan manusia. Pembahasan tentang ilmu menurut kaca mata Islam harus menyertakan tiga hal penting, yaitu ilmu itu sendiri, arang yang berilmu (‘alim) dan penuntut ilmu.
a.       Ilmu
Islam sangat memperhatikan, menghormati dan menjunjung tinggi martabat ilmu dan orang yang memiliki ilmu, sebagaimana firman Tuhan di berbagai ayat dalam al Qur’an. Salah satunya bunyi ayat surat al mujadalah:11 di bawah ini: “ Niscaya Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
Melalui ayat ini, dapat dikemukakan bahwa dalam ajaran Islam, pengertian ilmu bukan hanya didasarkan pada jumlah ilmu yang dipelajarinya. Akan tetapi ilmu yang benar adalah ilmu yang dirasakan manfaatnya oleh manusia pada umumnya (baca bermakna untuk kemaslahatan manusia lain). Sebagaimana dikatakan oleh DR. Hasan al Syarqawi dalam bukunya Manhaj Ilmiah Islami, “Ilmu juga dapat menjadi cahaya yang dapat menerangi jalan dalam mencapai petunjuk dan kebaikan”. Ungkapan Syarqawi tersebut, hemat saya sejalan dengan firman Tuhan dalam al Qur’an surat al Baqarah: 269 yang berbunyi: “Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak”.
Dalam kaitannya dengan hal di atas, jelas kita lihat bahwa tujuan utama bagi penuntut ilmu adalah mengambil manfaat ilmunya guna melayani dan menjadi rujukan bagi manusia dalam melaksanakan kebajikan. Bila tujuan tersebut tidak menjadi perioritas utama dalam proses pencarian ilmu, maka ia telah melakukan kekeliruan dalam memasang niatnya. Dengan demikian, ilmu yang haq adalah ilmu yang membawa manfaat bagi pemiliknya dan orang di sekitarnya. Terlebih lagi dapat mendekatkan diri pemiliknya kepada Allah SWT, Tuhan bagi seluruh umat manusia.

b.      Orang Yang Berilmu
Islam telah mengangkat derajat para ‘ulama (Orang-orang yang berilmu) dalam kedudukan yang amat tinggi dan mulia, karrena mereka adalah penerus dan pengemban amanah para rasul Allah, selama mereka tidak menggauli para penguasa serta tidak menjadikan tujuan hidupnya untuk mendapatkan kesenangan duniawi. Dalam pandangan Islam, ‘alim ialah orang yang memiliki ilmu dan mau mengamalkan ilmunya. Bisa dikatakan, kalau orang yang banyak menguasai ilmu tetapi tidak mau mengamalkannya ilmunya untuk kebajikan dan kemaslahatan hidup umat manusia, belum bisa disebut ‘alim. Dengan alasan karena ilmunya belum bermanfaat untuk kebajikan dan kesejahteraan diri dan masyarakat luas. Dan orang yang berilmu yang menggunakan ilmunya untuk merusak ketentraman dunia, meruntuhkan keluhuran budi pekerti, menganiaya orang lain, memerintahkan perbuatan mungkar, mencegah amar ma’ruf, atau menyeru kepada perbuatan menyekutukan Tuhan (syirik), membujuk orang lain untuk berbuat kekerasan atas nama apapun, memalingkan diri dari Allah SWT, dan lainnya pada hakikatnya tidak bisa dikatakan orang yang berilmu. Bahkan Islam menggolongkannya sebagai orang yang jahil (bodoh) yang suka merusak (berbuat fasik).  Jadi orang yang ‘alim hakikatnya adalah mereka yang selalu memberikan manfaat atau faedah bagi manusia lainnya.

c.       Penuntut Ilmu
Dalam perspektif Islam, penuntut ilmu adalah orang yang bekerja sama dengan ‘alim dalam melakukan kebajikan.  Untuk menguatkan hal ini, saya teringat dengan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Darda ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda: ”Orang ‘alim dan orang yang menuntut ilmu berserikat dalam kebaikan. Selain keduanya tidak ada kebajikan”. (HR. Al Thabrani).
Jadi menurut pandangan Islam, penuntut  ilmu adalah orang yang selalu berpihak kepada kebenaran, menebarkan kebajikan, mendamaikan kedua belah pihak yang bersiteru, melakukan kreasi-kreasi baru untuk kemajuan dan kesejahteraan bersama dan selalu menegakkan keadilan untuk umat manusia di atas muka bumi.
Lalu bagaimana sebenarnya kedudukan ilmu dalam Islam? Posisi ilmu dalam Islam sangatlah sentral. Vitalitas dan keutamaan ilmu terungkap dalam sanjungan dan kehormatan yang diberikan kepada para ilmuan, tersirat dalam wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah saw. yang menjadi kunci ilmu, yakni perintah “membaca”. Tercermin dalam ajakan untuk bertakwa hanya kepada orang yang berakal, tersurat dalam peringatan bahwa ketiadaan ilmu (kebodohan) akan menyesatkan, serta dengan tegas dinyatakan bahwa menuntut ilmu itu wajib dan berlaku seumur hidup. Kenyataan yang juga bisa kita lihat, bahwa di dalam al Qur’an terdapat puluhan ayat yang menerangkan tentang ilmu, tentang ajakan untuk berfikir dan melakukan penalaran ( mengamati, memperhatikan, memikirkan, dan menyelidiki dengan seksama), serta sanjungan kepada orang-orang yang suka menggunakan akal fikirannya (ilmuan) adalah bukti otentik yang tak dapat diragukan lagi akan sangat pentingnya kedudukan ilmu dalam pandangan Islam.
Imam Ali karramallahu wajhah berkata, Ilmu adalah kehidupan Islam dan pilar agama.  Dan mencari ilmu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan. Dengan ilmu Tuhan ditaati, dengan ilmu silaturahmi dihubungkan, dengan ilmu yang halal dan haram diketahui. Ilmu adalah pemimpin amal, dan amal adalah pengikut ilmu, ilmu adalah penghidup yang mati.
Dalam kaitannya dengan Imam Ali kw. Diatas, al Qur’an menganggap ilmu sebagai kehidupan dan cahaya, sedangkan kebodohan merupakan kematian dan kegelapan. Seperti diketahui, semua bentuk kejahatan disebabkan oleh ketiadaan kehidupan dan cahaya, dan semua kebaikan disebabkan oleh cahaya dan kehidupan. Karena cahaya akan membuka hakikat-hakikat segala sesuatu. Di sinilah kedudukan ilmu menjadi hal yang sangat penting dalam rangka mengajak manusia untuk membedakan mana yang baik dan buruk dalam kehidupannya.
Wallahu a’lam

Baca juga

Monday, March 19, 2012

SEKILAS MENGENAI ILMU DALAM ISLAM



Umunya manusia dapat memperoleh gambaran yang memadai tentang pengertian ilmu, namun untuk lebih jelasnya, saya mencoba mengemukakan beberapa pengertian ilmu yang pernah diberikan oleh beberapa cendekiawan Islam yang diwakili oleh beberapa orang di bawah ini sebagai berikut:
a.       Kahlil al – Musawi: “ Ilmu berasal dari kata kerja, yang berarti memperoleh hakikat ilmu, mengetahui dan yakin. Ilmu bentuk jamaknya yaitu ‘Ulum yang artinya memahami sesuatu dengan hakikatnya dan itu berarti keyakinan dan pengetahuan”.
b.      Malik bin Nabi : Dalam kitabnya Intaj al Musyatasyriqin wa Atsaruhu fi al Fikri al Hadits menulis: “Ilmu adalah sekumpulan masalah serta sekumpulan metode yang dipergunakan menuju tercapainya masalah tersebut”.
c.       Sondang Siagian: Ilmu adalah suatu objek ilmiah yang memiliki sekelompok prinsip, dalil rumus yang melalui percobaan yang sistematis dilakukan berulangkali telah teruji kebenarannya dan dapat dipelajari dan diajarkan. Dan yang menarik hemt saya, apa yang dikemukakan oleh H. Muhammad TH.
d.      H. Muhammad TH.: Kata Ilmu berasal dari bahasa Arab dengan tulisan ‘ILMUN yang terdiri dari huruf ‘Ain, Lam dan Mim yang berbunyi ‘Ilmun yang berarti pengetahuan yang mendalam dan difahami dengan yakin serta gamblang.
Gambaran tulisan ‘ILMUN itu sendiri menurut H. Muhammad TH, mengandung keunikan tersendiri sebagai lambang dari tiga hal yaitu:
Pertama, Huruf ‘Ain di depan diibaratkan sebagai mulut yang selalu dalam kondisi terbuka, menandaskan bahwa ilmu itu tidk pernah kenyang, tidak pernah berhenti mencari masukan, tidak pernah jenuh, selalu bisa dimasuki. Ini sejalan dengan sabda Rasulullah Saw. “Uthlubil ‘ilma Minal mahdi ilallahdi  (Tuntutlah ilmu mulai dari buaian ibu sampai ke liang lahad). Juga senafaas dengan ungkapan yang sangat populer, Long Life Education (Pendidikan seumur hidup).
 Kedua, Huruf Lam  seudah ‘Ain panjangnya terbatas, boleh tinggi menjulang ke atas tak terbatas. Lambang ini menandaskan bahwa ilmu boleh dituntut seberapa saja menjulang langit, melintas batas cakralawa tergantung kemauan dan kemampuan si penuntut ilmu.
Ketiga, huruf Mim sebaliknya meletakkan diri di dasar dan melandas tak terbatas. Huruf ini menunjukkan bahwa ilmu itu baik rendahsekedarnya maupun tinggi menjulang langit, haruslah melandas, rendah hati (tawadhu’), dan membawa kemanfaatan yang praktis untuk sebanyak-banyaknya bagi kehidupan masayarakat luas dan tidak mengambang di awang-awang. Artinya seorang yang telah mendapat ilmu tidak boleh duduk berpangku tangan dan tidak peduli pada nasib orang lain.
Dari empat definisi ilmu yang sengaja saya kemukakan di atas, bisa kita ambil satu pengertian tentang ilmu itu sendiri yaitu: “Suatu bidang yang disusun secara sistematis menurut metode tertentu, yang digunakan untuk menjelaskan cabang-cabang pengetahuan secara mendalam dan dipahami dengan yakin dan jelas.
Melihat dari penjelasan di atas, menandakan bahwa orang yang berilmu minimal akan menghiasi dirinya dengan tiga ciri penting, yaitu:

1.       Selalu bersemangat  dalam mencari kebenaran
 Sebagaimana dilambangkan oleh huruf ‘Ain tadi, maka orang yang menuntut ilmu tidak pernah merasa bosan dalam menjalankan aktivitas belajarnya. Setiap gerak langkahnya adalah belajar, dan tiap saat dia menunjukkan semangat dan antusiasme yang sangat tinggi dalam mencari ilmu sebagai simbol kebenaran dari Tuhannya. Bisa juga dikatakan bahwa setiap ilmu adalah kebenaran, dan setiap kebenaran akan mengantarkan seseorang menuju Tuhannya. Dan inilah hakikat dari ilmu itu sesungguhnya.

2.       Mempunyai Cita-cita dan harapan yang tinggi dalam hidup
Sebagaimana lazimnya bagi setiap penuntut ilmu, harus memiliki sifat terpuji, yaitu mimpi yang besar tentang hidupnya. Sebab ilmu akan mengantarkan orang yang mempelajarinya untuk mempunyai cita-cita dan harapan akan hidup yang lebih baik. Namun semakin banyak ilmu yang diperoleh, akan mengajarkan pemiliknya untuk berlaku rendah hati (tawadhu’). Ilmu boleh tinggi menjulang setinggi langit, tapi sikap terhadap sesama tetap selalu sederhana. Ini menandakan orang yang berilmu harus tetap memakai simbol huruf Lam yang tingginya menjulang ke langit, karena tingginya ilmu dan pengetahuannya (baca banyak ilmu), namun tetap merunduk kakinya berpijak ke bumi.

3.       Selalu rendah hati
Ciri yang ketiga dari orang yang berilmu adalah rendah hati (tawadhu’). Masih terngiang pesan bijak orang tua di kampung dulu.... Nak! Kalau kamu sudah mempunyai ilmu yang banyak, harus tetap rendah hati ya. Kamu harus memakai ilmu padi, semakin berisi, semakin merunduk (baca rendah hati). Ingat!  Bukan rendah diri ya... Karena rendah diri akan bertolak belakang dengan sifat ilmu itu sendiri. Ilmu selalu mengantarkan pemiliknya untuk menghiasi dirinya dengan sifat berani, yaitu berani berkata benar apabila benar. Dan mengatakan salah apabila itu salah.
Sesuai dengan bentuk hurufnya yang ketiga yaitu Mim, maka ilmu menunjukkan pada simbol perut yang besar sebagai penjelasan akan banyaknya ilmu yang diperoleh, dan huruf Mim itu pula mempunyai kaki yang memanjang ke bawah. Pertanda bahwa semakin banyaknya ilmu yang dimiliki oleh seseorang, maka dia harus tetap rendah hati dalam bersikap dan berbuat.

Wallahu a’lam


Saturday, March 17, 2012

Shalat (Bagian Kedua)

Sabtu, 17 Maret 2012 - 09:35:53 WIB
SALAT (Bagian Kedua) Oleh Nurcholish Madjid
Diambil dari: Kabarlain.com



Sebagai kewajiban pada hampir setiap saat, shalat juga
mengisyaratkan bahwa usaha menemukan jalan hidup yang benar
juga harus dilakukan setiap saat, dan harus dipandang sebagai
proses tanpa berhenti. Oleh karena itu memang digunakan
metafor "jalan," [17] dan pengertian "jalan" itu dengan
sendirinya terkait erat dengan gerak dan dinamika. Maka dalam
sistem ajaran agama, manusia didorong untuk selalu bergerak
secara dinamis, sedemikian rupa sehingga seseorang tidak
diterima untuk menjadikan keadaannya tertindas di suatu negeri
atau tempat sehingga ia tidak mampu berbuat baik, karena ia
toh  sebenarnya dapat pergi, pindah atau bergerak meninggalkan
negeri atau tempat itu ke tempat lain di bumi Tuhan yang  luas
ini.  [18] 

 Dengan  kata  lain,  dari  shalat  yang harus kita
kerjakan setiap saat sepanjang hayat itu  kita  diajari  untuk
tidak berhenti mencari kebenaran, dan tidak kalah oleh situasi
yang kebetulan tidak mendukung. Sekali  kita  berhenti  karena
merasa telah "sampai" pada suatu kebenaran, maka ia mengandung
makna kita telah menemukan kebenaran terakhir atau final,  dan
itu  berarti  menemukan  kebenaran  mutlak.  Ini  adalah suatu
kesombongan, seperti telah kita singgung  di  atas,  dan  akan
menyangkut  suatu  kontradiksi dalam terminologi, yaitu adanya
kita yang nisbi dapat mencapai kebenaran  final  yang  mutlak.

Dan  hal  itu  pada urutannya sendiri, akan berarti salah satu
dari  dua  kemungkinan:  apakah  kita  yang  menjadi   mutlak,
sehingga  "bertemu"  dengan yang final itu, ataukah yang final
itu telah menjadi nisbi, sehingga terjangkau  oleh  kita!  Dan
manapun  dari kedua kemungkinan itu jelas menyalahi jiwa paham
Tauhid  yang  mengajarkan  tentang  Tuhan,   Kebenaran   Final
(al-Haqq),  sebagai Wujud yang "tidak sebanding dengan sesuatu
apa pun juga" [19] dan "tidak ada  sesuatu  apapun  juga  yang
semisal  dengan  Dia"  [20].  Jadi,  Tuhan tidak analog dengan
sesuatu apa pun juga. Karena  itu  Tuhan  juga  tidak  mungkin
terjangkau  oleh akal manusia yang nisbi. Ini dilukiskan dalam
Kitab Suci,  "Itulah  Allah,  Tuhanmu  sekalian,  tiada  Tuhan
selain  Dia, Pencipta segala sesuatu. Maka sembahlah akan Dia;
Dia adalah Pelindung  atas  segala  sesuatu.  Pandangan  tidak
menangkap-Nya,  dan  Dia menangkap semua pandangan. Dia adalah
Maha Lembut, Maha Teliti." [21]
 
Begitulah, kurang lebih, sebagian dari makna surat al-Fatihah,
yang  sebagai  bacaan  inti  dalam  shalat  dengan  sendirinya
menjiwai makna shalat itu. Adalah untuk  doa  kita  yang  kita
panjatkan  dengan  harap-harap cemas agar ditunjukkan ke jalan
yang lurus itu maka pada akhir al-Fatihah kita ucapkan  dengan
syahdu  lafal  Amin,  yang  artinya, "Semoga Allah mengabulkan
permohonan ini." Dan sikap kita yang penuh keinsyafan  sebagai
kondisi yang sedang menghadap atau tawajjuh ("berhadap wajah")
kepada Tuhan itulah yang menjadi inti makna  intrinsik  shalat
kita.
 
Makna Instrumental Salat (Arti Simbolik Ucapan Salam)
 
Shalat   disebut   bermakna  intrinsik  (makna  dalam  dirinya
sendiri), karena ia merupakan  tujuan  pada  dirinya  sendiri,
khususnya   shalat   sebagai  peristiwa  menghadap  Allah  dan
berkomunikasi dengan Dia, baik melalui bacaan, maupun  melalui
tingkah  laku  (khususnya ruku' dan sujud). Dan shalat disebut
bermakna  instrumental,  karena  ia  dapat  dipandang  sebagai
sarana untuk mencapai sesuatu di luar dirinya sendiri.
 
Sesungguhnya  adanya  makna  instrumental  shalat  itu  sangat
logis, justru sebagai  konsekuensi  makna  intrinsiknya  juga.
Yaitu,  jika seseorang dengan penuh kesungguhan dan keinsyafan
menghayati kehadiran Tuhan  dalam  hidup  kesehariannya,  maka
tentu dapat diharap bahwa keinsyafan itu akan mempunyai dampak
pada tingkah laku dan pekertinya,  yang  tidak  lain  daripada
dampak  kebaikan. Meskipun pengalaman akan kehadiran Tuhan itu
merupakan kebahagiaan tersendiri yang  tak  terlukiskan  dalam
kata-kata,  namun  tidak  kurang  pentingnya  ialah perwujudan
keluarnya dalam tindakan sehari-hari berupa  perilaku  berbudi
pekerti  luhur, sejiwa dalam perkenan atau ridla Tuhan. Inilah
makna  instrumental  shalat,  yang  jika  shalat   itu   tidak
menghasilkan  budi  pekerti  luhur maka ia sebagai "instrumen"
akan sia-sia belaka.
 
Berkenaan dengan ini, salah  satu  firman  Allah  yang  banyak
dikutip  ialah,  "Bacalah  apa  yang  telah  diwahyukan kepada
engkau (hai  Muhammad),  yaitu  Kitab  Suci,  dan  tegakkanlah
shalat.  Sesungguhnya  shalat itu mencegah dari yang kotor dan
keji, dan sungguh  ingat  kepada  Allah  adalah  sangat  agung
(pahalanya).   Allah   mengetahui   apa   yang  kamu  sekalian
kerjakan." [22] Dengan  jelas  firman  itu  menunjukkan  bahwa
salah  satu  yang  dituju  oleh  adanya kewajiban shalat ialah
bahwa pelakunya  menjadi  tercegah  dari  kemungkinan  berbuat
jahat  dan keji. Maka pencegahan diri dan perlindungannya dari
kejahatan dan kekejian itu merupakan hasil pendidikan  melalui
shalat.  Karena  itu  jika shalat seseorang tidak mencapai hal
yang demikian maka ia merupakan suatu kegagalan dan kemuspraan
yang  justru terkutuk dalam pandangan Allah. Inilah pengertian
yang kita dapatkan dari  firman  Allah,  (terjemahnya,  kurang
lebih)  "Sudahkah  engkau  lihat orang yang mendustakan agama?
Yaitu dia yang menghardik anak yatim, dan tidak  dengan  tegas
menganjurkan   pemberian   makan  kepada  orang  miskin!  Maka
celakalah untuk mereka yang  shalat,  yang  lupa  akan  shalat
mereka  sendiri.  Yaitu  mereka  yang suka pamrih, lagi enggan
memberi  pertolongan."  [23]  Jadi,  ditegaskan  bahwa  shalat
seharusnya  menghasilkan  rasa  kemanusiaan dan kesetiakawanan
sosial, yang dalam firman itu dicontohkan  dalam  sikap  penuh
santun  kepada anak yatim dan kesungguhan dalam memperjuangkan
nasib orang miskin.
 
Adalah hasil dan tujuan shalat sebagai sarana pendidikan  budi
luhur  dan  perikemanusiaan itu yang dilambangkan dalam ucapan
salam sebagai penutupnya. Ucapan salam tidak lain  adalah  doa
untuk keselamatan, kesejahteraan dan kesentosaan orang banyak,
baik yang ada di depan kita maupun yang tidak,  dan  diucapkan
sebagai  pernyataan kemanusiaan dan solidaritas sosial. Dengan
begitu maka shalat dimulai dengan pernyataan  hubungan  dengan
Allah  (takbir) dan diakhiri dengan pernyataan hubungan dengan
sesama manusia (taslim, ucapan salam). Dan jika  shalat  tidak
menghasilkan  ini,  maka ia menjadi muspra, tanpa guna, bahkan
menjadi alasan adanya kutukan  Allah,  karena  dapat  bersifat
palsu  dan  menipu.  Dari  situ  kita  dapat memahami kerasnya
peringatan dalam firman itu.
 
Dalam kaitannya dengan firman itu Muhammad  Mahmud  al-Shawwaf
menguraikan  makna  ibadat  demikian: Terdapat berbagai bentuk
ibadat pada setiap agama, yang diberlakukan untuk mengingatkan
manusia  akan  keinsyafan  tentang  kekuasaan  Ilahi yang Maha
Agung, yang merupakan sukma  ibadat  itu  dan  menjadi  hikmah
rahasianya sehingga seorang manusia tidak mengangkangi manusia
yang lain, tidak berlaku sewenang-wenang dan tidak  yang  satu
menyerang  yang  lain.  Sebab  semuanya  adalah  hamba  Allah.
Betapapun hebat  dan  mulianya  seseorang  namun  Allah  lebih
hebat, lebih mulia, lebih agung dan lebih tinggi. Jadi, karena
manusia  lalai  terhadap  makna-makna  yang  luhur  ini   maka
diadakanlah  ibadat  untuk  mengingatkan  mereka.  Oleh karena
itulah setiap ibadat yang benar tentu mempunyai  dampak  dalam
pembentukan akhlak pelakunya dan dalam pendidikan jiwanya.
 
Dampak  itu  terjadi  hanyalah  dari  ruh  ibadat tersebut dan
keinsyafan yang pangkalnya ialah pengagungan  dan  kesyahduan.
Jika  ibadat  tidak  mengandung  hal ini maka tidaklah disebut
ibadat, melainkan sekedar adat dan pamrih, sama dengan  bentuk
manusia  dan  patungnya  yang tidak disebut manusia, melainkan
sekedar khayal, bahan tanah atau perunggu semata.
 
Shalat adalah ibadat yang paling agung,  dan  suatu  kewajiban
yang   ditetapkan   atas   setiap   orang  muslim.  Dan  Allah
memerintahkan untuk menegakkannya, tidak sekedar  menjalaninya
saja. Dan menegakkan sesuatu berarti menjalaninya dengan tegak
dan  sempurna  karena   kesadaran   akan   tujuannya,   dengan
menghasilkan  berbagai  dampak  nyata. Dampak shalat dan hasil
tujuannya ialah sesuatu yang  diberitakan  Allah  kepada  kita
dengan  firman-Nya,  "Sesungguhnya  shalat  mencegah dari yang
kotor dan  keji",  [24]  dan  firman-Nya  lagi,  "Sesungguhnya
manusia  diciptakan  gelisah:  jika  keburukan  menimpanya, ia
banyak keluh kesah; dan jika kebaikan  menimpanya,  ia  banyak
mencegah  (dari  sedekah). Kecuali mereka yang shalat..." [25]
Allah memberi peringatan keras kepada  mereka  yang  menjalani
shalat  hanya  dalam bentuknya saja seperti gerakan dan bacaan
tertentu  namun  melupakan  makna  ibadat   itu   dan   hikmah
rahasianya, yang semestinya menghantarkannya pada tujuan mulia
berupa gladi kepribadian, pendidikan kejiwaan dan  peningkatan
budi.  Allah  berfirman,  "Maka  celakalah  untuk  mereka yang
shalat, yang lupa akan shalat  mereka  sendiri.  Yaitu  mereka
yang  suka  pamrih,  lagi  enggan  memberi  pertolongan." [26]
Mereka  itu  dinamakan  "orang  yang  shalat"  karena   mereka
mengerjakan  bentuk  lahir shalat itu, dan digambarkan sebagai
lupa akan shalat yang hakiki, karena jauh dari pemusatan  jiwa
yang  jernih dan bersih kepada Allah Yang Maha Tinggi dan Maha
Agung, yang seharusnya mengingatkannya untuk takut kepada-Nya,
dan   menginsyafkan  hati  akan  kebesaran  kekuasaan-Nya  dan
keluhuran kebaikan-Nya.
 
Para ulama membagi riya  atau  pamrih  menjadi  dua.  Pertama,
pamrih kemunafikan, yaitu jika perbuatan ditujukan untuk dapat
dilihat orang lain guna mendapatkan pujian,  penghargaan  atau
persetujuan   mereka.   Kedua  pamrih  adat  kebiasaan,  yaitu
perbuatan dengan mengikuti ketentuan-ketentuannya namun  tanpa
memperhatikan  makna perbuatan itu dan hikmah rahasianya serta
faedahnya, dan  tanpa  perhatian  kepada  Siapa  (Tuhan)  yang
sebenarnya  ia berbuat untuk-Nya dan guna mendekat kepada-Nya.
Inilah yang paling banyak dikerjakan orang  sekarang.  Sungguh
amat disayangkan! [27]
 
Demikian  penjelasan  yang  diberikan  oleh seorang ahli agama
dari Arab,  al-Shawwaf,  tentang  makna  instrumental  shalat.
Dalam  Kitab Suci juga dapat kita temukan ilustrasi yang tajam
tentang keterkaitan antara shalat dan perilaku kemanusiaan:
 
Setiap pribadi tergadai oleh apa yang telah dikerjakannya
Kecuali golongan yang beruntung (kanan)
Mereka dalam surga, dan bertanya-tanya,
tentang nasib orang-orang yang berdosa:
"Apa yang membawa kamu ke neraka?"
Sahut mereka, "Dahulu kami tidak termasuk
orang-orang yang shalat,
Dan tidak pula kami pernah
memberi makan orang-orang melarat
Lagi pula kami dahulu terlena bersama mereka yang terlena
Dan kami dustakan adanya hari pembalasan
Sampai datang kepada kami saat keyakinan (mati)." [28]
 
Maka,  secara  tegas,  yang  membuat  orang-orang  itu  "masuk
neraka"   ialah   karena   mereka  tidak  pernah  shalat  yang
menanamkan dalam diri mereka kesadaran akan makna akhir  hidup
ini  dan yang mendidik mereka untuk menginsyafi tanggung jawab
sosial  mereka.  Maka  mereka  pun  tidak  pernah   menunaikan
tanggung  jawab  sosial itu. Sebaliknya, mereka menempuh hidup
egois, tidak pernah mengucapkan salam dan menghayati maknanya,
juga  tidak  pernah  menengok ke kanan dan ke kiri. Mereka pun
lupa, malah tidak percaya, akan datangnya  saat  mereka  harus
mempertanggungjawabkan  seluruh  perbuatan  mereka  pada  hari
pembalasan (akhirat).
 
Jika kita kemukakan dalam bahasa kontemporer, shalat  --selain
menanamkan  kesadaran akan makna dan tujuan akhir hidup kita--
ia juga mendidik dan mendorong kita  untuk  mewujudkan  sebuah
ide  atau  cita-cita  yang ideal dan luhur, yaitu terbentuknya
masyarakat yang penuh kedamaian, keadilan dan  perkenan  Tuhan
melalui  usaha  pemerataan sumber daya kehidupan untuk seluruh
warga masyarakat itu. Jika kita paham ini, maka kita pun paham
mengapa  banyak  terdapat penegasan tentang pentingnya shalat,
sekaligus kita juga paham mengapa kutukan Tuhan  begitu  keras
kepada  orang  yang  melakukan shalat hanya sebagai ritus yang
kosong, yang tidak menghasilkan keinsyafan yang  mendalam  dan
komitmen sosial yang meluas.
 

 
17. Selain "shirath," metafor jalan juga dinyatakan
    dalam beberapa kata baku lain dalam nomenklatur Islam,
    yaitu syari'ah, thariqah, sabil, minhaj dan mansak, yang
    kesemuanya bermakna dasar "jalan" atau "cara" (metode).
 
18. Lihat QS. al-Nisa'/4:97.
 
19. QS. al-Ikhlash/112:4.
 
20. QS. al-Syura/42:11.
 
21. QS. al-An'am/6: 102-3.
 
22. QS. al-Ankabut/29:45.
 
23. QS. al-Ma'un/107:1-~.
 
24. QS. al-Ankabut/29:45.
 
25. QS. al-Ma'arij/70:19-22.
 
26. QS. al-Ma'un/107:
 
27. Muhammad Mahmud al-Shawwaf, 'Uddat al-Muslimin
    (Jeddah: al-Dar al-Su'udiyyah li al-Nasyr, 1388 H/1968
    M). h. 55-57.
 
28. QS. al-Muddatstsir/74:38-47.



Shalat (Bagian Pertama)

Sabtu, 17 Maret 2012 - 08:28:45 WIB
SALAT (Bagian Pertama) Oleh Nurcholish Madjid
Di
ambil dari : KabarLain.com


Berdasarkan berbagai keterangan dalam Kitab Suci dan Hadits Nabi, dapatlah dikatakan bahwa shalat adalah kewajiban peribadatan (formal) yang paling penting dalam sistem keagamaan Islam Kitab Suci banyak memuat perintah agar kita menegakkan shalat (iqamat al-shalah, yakni menjalankannya de-ngan penuh kesungguhan), dan menggambarkan bahwa kebahagiaan kaum beriman adalah pertama-tama karena shalatnya yang dilakukan dengan pe-nuh kekhusyukan.[1]). 

Sebuah hadits Nabi saw menegaskan, "Yang pertama kali akan diperhitung-kan tentang seorang hamba pada hari Kiamat ialah shalat: jika baik, maka baik pulalah seluruh amalnya; dan jika rusak, maka rusak pulalah seluruh amalnya."[2] Dan sabda beliau lagi, "Pangkal segala perkara ialah al-Islam (sikap pasrah kepada Allah), tiang penyangganya shalat, dan puncak ter-tingginya ialah perjuangan di jalan Allah."[3]
 
Karena   demikian   banyaknya   penegasan-penegasan    tentang
pentingnya  shalat  yang  kita  dapatkan  dalam  sumber-sumber
agama, tentu sepatutnya kita memahami makna shalat itu  sebaik
mungkin.  Berdasarkan  berbagai  penegasan  itu, dapat ditarik
kesimpulan bahwa agaknya shalat merupakan "kapsul" keseluruhan
ajaran dan tujuan agama, yang di dalamnya termuat ekstrak atau
sari pati semua  bahan  ajaran  dan  tujuan  keagamaan.  Dalam
shalat itu kita mendapatkan keinsyafan akan tujuan akhir hidup
kita, yaitu penghambaan diri  ('ibadah)  kepada  Allah,  Tuhan
Yang   Maha  Esa,  dan  melalui  shalat  itu  kita  memperoleh
pendidikan pengikatan pribadi atau komitmen kepada nilai-nilai
hidup yang luhur. Dalam perkataan lain, nampak pada kita bahwa
shalat mempunyai dua makna sekaligus: makna intrinsik, sebagai
tujuan  pada  dirinya  sendiri dan makna instrumental, sebagai
sarana pendidikan ke arah nilai-nilai luhur.
 
Makna Intrinsik Shalat (Arti Simbolik Takbirat al-Ihram)
 
Kedua makna itu, baik yang intrinsik maupun yang instrumental,
dilambangkan   dalam  keseluruhan  shalat,  baik  dalam  unsur
bacaannya maupun tingkah lakunya. Secara  Ilmu  Fiqih,  shalat
dirumuskan  sebagai  "Ibadah  kepada Allah dan pengagungan-Nya
dengan  bacaan-bacaan  dan  tindakan-tindakan  tertentu   yang
dibuka  dengan takbir (Allahu Akbar) dan ditutup dengan taslim
(al-salam-u 'alaykam wa rahmatu-'l-Lah-i wa barakatah), dengan
runtutan  dan  tertib  tertentu  yang  diterapkan  oleh  agama
Islam." [4]
 
Takbir pembukaan shalat itu dinamakan "takbir ihram" (takbirat
al-ihram),  yang  mengandung  arti "takbir yang mengharamkan",
yakni, mengharamkan segala  tindakan  dan  tingkah  laku  yang
tidak  ada kaitannya dengan shalat sebagai peristiwa menghadap
Tuhan. Takbir pembukaan itu  seakan  suatu  pernyataan  formal
seseorang  membuka  hubungan  diri dengan Tuhan (habl-un min-a
'l-Lah), dan mengharamkan  atau  memutuskan  diri  dari  semua
bentuk  hubungan  dengan  sesama manusia (habl-un min al-nas -
"hablum minannas"). Maka makna intrinsik  shalat  diisyaratkan
dalam  arti  simbolik  takbir pembukaan itu, yang melambangkan
hubungan dengan Allah dan menghambakan diri  kepada-Nya.  Jika
disebutkan  bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia oleh Allah
agar  mereka  menghamba  kepada-Nya,   maka   wujud   simbolik
terpenting  penghambaan  itu  ialah  shalat yang dibuka dengan
takbir tersebut, sebagai ucapan  pernyataan  dimulainya  sikap
menghadap Allah.
 
Sikap menghadap Allah itu kemudian dianjurkan untuk dikukuhkan
dengan membaca doa pembukaan (du'a al-iftitah),  yaitu  bacaan
yang  artinya,  "Sesungguhnya  aku menghadapkan wajahku kepada
Dia yang telah menciptakan seluruh  langit  dan  bumi,  secara
hanif  (kecenderungan suci kepada kebaikan dan kebenaran) lagi
muslim (pasrah kepada Allah, Yang Maha Baik  dan  Benar  itu),
dan  aku  tidaklah termasuk mereka yang melakukan syirik." [5]
Lalu dilanjutkan dengan seruan, "Sesungguhnya shalatku,  darma
baktiku,  hidupku  dan matiku untuk Allah Penjaga seluruh alam
raya; tiada sekutu bagi-Nya. Begitulah aku diperintahkan,  dan
aku termasuk mereka yang pasrah (muslim)." [6]
 
Jadi,  dalam  shalat  itu seseorang diharapkan hanya melakukan
hubungan  vertikal  dengan  Allah,  dan  tidak   diperkenankan
melakukan  hubungan  horizontal dengan sesama makhluk (kecuali
dalam  keadaan  terpaksa).  Inilah  ide  dasar  dalam   takbir
pembukaan   sebagai   takbirat  al-ihram.  Karena  itu,  dalam
literatur kesufian  berbahasa  Jawa,  shalat  atau  sembahyang
dipandang  sebagai "mati sajeroning hurip" (mati dalam hidup),
karena memang  kematian  adalah  panutan  hubungan  horizontal
sesama manusia guna memasuki alam akhirat yang merupakan "hari
pembalasan"  tanpa  hubungan  horizotal   seperti   pembelaan,
perantaraan, ataupun tolong-menolong. [7]
 
Selanjutnya   dia   yang  sedang  melakukan  shalat  hendaknya
menyadari  sedalam-dalamnya  akan  posisinya  sebagai  seorang
makhluk   yang   sedang   menghadap  Khaliknya,  dengan  penuh
keharuan,  kesyahduan  dan  kekhusyukan.  Sedapat  mungkin  ia
menghayati  kehadirannya  di  hadapan  Sang  Maha Pencipta itu
sedemikian rupa sehingga ia "seolah-olah  melihat  Khaliknya";
dan kalau pun ia tidak dapat melihat-Nya, ia harus menginsyafi
sedalam-dalamnya bahwa "Khaliknya melihat dia", sesuai  dengan
makna  ihsan  seperti dijelaskan Nabi saw dalam sebuah hadits.
[8] Karena merupakan peristiwa menghadap  Tuhan,  shalat  juga
sering dilukiskan sebagai mi'raj seorang mukmin, dalam analogi
dengan mi'raj Nabi saw yang menghadap Allah secara langsung di
Sidrat al-Muntaha.
 
Dengan  ihsan  itu orang yang melakukan shalat menemukan salah
satu makna yang amat  penting  ibaratnya,  yaitu  penginsyafan
diri  akan adanya Tuhan Yang Maha Hadir (omnipresent), sejalan
dengan berbagai penegasan dalam Kitab Suci, seperti, misalnya:
"Dia  (Allah)  itu  beserta  kamu  di manapun kamu berada, dan
Allah Maha teliti akan segala sesuatu yang kamu kerjakan." [9]
 
Bahwa shalat disyariatkan agar manusia  senantiasa  memelihara
hubungan  dengan Allah dalam wujud keinsyafan sedalam-dalamnya
akan ke-Maha-Hadiran-Nya, ditegaskan, misalnya, dalam perintah
kepada  Nabi  Musa as. saat ia berjumpa dengan Allah di Sinai:
"Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain  Aku.  Maka
sembahlah  olehmu  akan  Daku,  dan  tegakkanlah  shalat untuk
mengingat-Ku!" [10] Dan ingat kepada Allah yang dapat  berarti
kelestarian  hubungan  yang  dekat  dengan  Allah  adalah juga
berarti menginsyafkan diri sendiri akan makna  terakhir  hidup
di  dunia  ini,  yaitu  bahwa  "Sesungguhnya kita berasal dari
Allah, dan kita akan  kembali  kepada-Nya".  [11]  Maka  dalam
literatur  kesufian berbahasa Jawa, Tuhan Yang Maha Esa adalah
"Sangkan-Paraning  hurip"  (Asal  dan  Tujuan  hidup),  bahkan
"Sangkan-Paraning dumadi" (Asal dan Tujuan semua makhluk).
 
Keinsyafan  terhadap  Allah  sebagai  tujuan akhir hidup tentu
akan  mendorong  seseorang  untuk  bertindak  dan   berpekerti
sedemikian  rupa  sehingga  ia kelak akan kembali kepada Allah
dengan penuh perkenan dan diperkenankan (radliyah mardliyyah).
Oleh  karena  manusia  mengetahui,  baik  secara naluri maupun
logika, bahwa Allah tidak akan memberi perkenan kepada sesuatu
yang  tidak  benar  dan  tidak baik, maka tindakan dan pekerti
yang harus ditempuhnya dalam rangka hidup menuju  Allah  ialah
yang  benar dan baik pula. Inilah jalan hidup yang lurus, yang
asal-muasalnya ditunjukkan dan diterangi hati nurani  (nurani,
bersifat  cahaya, yakni, terang dan menerangi), yang merupakan
pusat rasa kesucian (fithrah) dan sumber dorongan suci manusia
menuju kebenaran (hanif).
 
Tetapi  manusia  adalah  makhluk  yang sekalipun pada dasarnya
baik namun juga lemah. Kelemahan ini membuatnya  tidak  selalu
mampu  menangkap  kebaikan dan kebenaran dalam kaitan nyatanya
dengan hidup sehari-hari.  Sering  kebenaran  itu  tak  nampak
padanya  karena  terhalang  oleh  hawa  nafsu  (hawa  al-nafs,
kecenderungan diri sendiri) yang subyektif dan  egois  sebagai
akibat  dikte  dan penguasaan oleh vested interest-nya. Karena
itu dalam  usaha  mencari  dan  menemukan  kebenaran  tersebut
mutlak  diperlukan  ketulusan  hati  dan  keikhlasannya, yaitu
sikap batin yang murni,  yang  sanggup  melepaskan  diri  dari
dikte   kecenderungan   diri  sendiri  atau  hawa  nafsu  itu.
Begitulah, maka ketika dalam shalat  seseorang  membaca  surat
al-Fatihah  --yang  merupakan  bacaan  terpenting dalam ibadat
itu-- kandungan makna surat itu yang terutama  harus  dihayati
benar-benar  ialah  permohonan  kepada  Allah agar ditunjukkan
jalan yang  lurus  (al-shirath  al-mustaqim).  Permohonan  itu
setelah  didahului  dengan  pernyataan bahwa seluruh perbuatan
dirinya akan dipertanggungjawabkan  kepada  Allah  (basmalah),
diteruskan  dengan  pengakuan  dan  panjatan pujian kepada-Nya
sebagai pemelihara seluruh alam  raya  (hamdalah),  Yang  Maha
Pengasih  (tanpa pilih kasih di dunia ini -al-Rahman) dan Maha
Penyayang (kepada kaum beriman di  akhirat  kelak  -al-Rahim).
Lalu  dilanjutkan  dengan  pengakuan  terhadap  Allah  sebagai
Penguasa Hari Pembalasan, di mana setiap  orang  akan  berdiri
mutlak  sebagai  pribadi  di  hadapan-Nya  selaku  Maha Hakim,
dikukuhkan dengan pernyataan bahwa kita tidak  akan  menghamba
kecuali  kepada-Nya  saja  semurni-murninya,  dan  juga  hanya
kepada-Nya saja  kita  memohon  pertolongan  karena  menyadari
bahwa  kita  sendiri  tidak memiliki kemampuan intrinsik untuk
menemukan kebenaran.
 
Dalam  peneguhan  hati  bahwa  kita  tidak  menghambakan  diri
kecuali   kepada-Nya   serta   dalam   penegasan  bahwa  hanya
kepada-Nya kita mohon pertolongan tersebut, seperti  dikatakan
oleh    Ibn   'Atha'   Allah   al-Sakandari,   kita   berusaha
mengungkapkan ketulusan kita dalam memohon bimbingan  ke  arah
jalan  yang  benar.  Yaitu ketulusan berbentuk pengakuan bahwa
kita tidak dibenarkan mengarahkan  hidup  ini  kepada  sesuatu
apapun   selain   Tuhan,  dan  ketulusan  berbentuk  pelepasan
pretensi-pretensi akan  kemampuan  diri  menemukan  kebenaran.
Dengan  kata  lain, dalam memohon petunjuk ke jalan yang benar
itu, dalam ketulusan, kita harapkan  senantiasa  kepada  Allah
bahwa  Dia  akan  mengabulkan permohonan.kita, namun pada saat
yang sama juga ada kecemasan bahwa kebenaran tidak dapat  kita
tangkap  dengan  tepat karena kesucian fitrah kita terkalahkan
oleh kelemahan kita yang  tidak  dapat  melepaskan  diri  dari
kungkungan  kecenderungan diri sendiri."Harap-harap cemas" itu
merupakan indikasi kerendahan hati dan tawadlu', dan sikap itu
merupakan pintu bagi masuknya karunia rahmat llahi: "Berdoalah
kamu kepada-Nya dengan  kecemasan  dan  harapan!  Sesungguhnya
rahmat Allah itu dekat kepada mereka yang berbuat baik." [12].
Jadi,  di  hadapan  Allah  "nothing  is  taken  for  granted,"
termasuk  perasaan  kita  tentang kebaikan dan kebenaran dalam
hidup nyata sehari-hari.  Artinya,  apapun  perasaan,  mungkin
malah  keyakinan kita tentang kebaikan dan kebenaran yang kita
miliki harus senantiasa terbuka untuk  dipertanyakan  kembali.
Salah  satu  konsekuensi  itu  adalah  "kecemasan." Jika tidak
begitu maka berarti hanya ada harapan saja. Sedangkan  harapan
yang  tanpa  kecemasan  samasekali adalah sikap kepastian diri
yan mengarah pada kesombongan. Seseorang  disebut  sesat  pada
waktu ia yakin berada di jalan yang benar padahal sesungguhnya
ia menempuh jalan yang keliru.
 
Keadaan orang yang demikian itu, lepas dari "iktikad  baiknya"
tidak   akan  sampai  kepada  tujuan,  meskipun,  menurut  Ibn
Taymiyyah, masih sedikit lebih baik daripada orang yang memang
tidak  peduli  pada masalah moral dan etika; orang inilah yang
mendapatkan murka dari Allah.
 
Maka diajarkan kepada kita bahwa yang kita mohon kepada  Allah
ialah jalan hidup mereka terdahulu yang telah mendapat karunia
kebahagiaan dari Dia, bukan jalan mereka yang  terkena  murka,
dan  bukan  pula  jalan  mereka yang sesat. Ini berarti adanya
isyarat pada pengalaman berbagai umat masa lalu. Maka ia  juga
mengisyaratkan  adanya  kewajiban mempelajari dan belajar dari
sejarah, guna menemukan jalan hidup yang benar. [13]
 
Disebutkan dalam Kitab Suci bahwa shalat  merupakan  kewajiban
"berwaktu"  atas  kaum  beriman.  [14]  Yaitu, diwajibkan pada
waktu-waktu  tertentu,  dimulai  dari   dini   hari   (Subuh),
diteruskan ke siang hari (Dhuhur), kemudian sore hari (Ashar),
lalu sesaat setelah terbenam matahari (Maghrib)  dan  akhirnya
di  malam  hari  ('Isya).  Hikmah di balik penentuan waktu itu
ialah agar kita jangan sampai lengah dari ingat di waktu pagi,
kemudian  saat kita istirahat sejenak dari kerja (Dhuhur) dan,
lebih-lebih lagi, saat kita  "santai"  sesudah  bekerja  (dari
Ashar sampai 'Isya). Sebab, justru saat santai itulah biasanya
dorongan dalam  diri  kita  untuk  mencari  kebenaran  menjadi
lemah, mungkin malah kita tergelincir pada gelimang kesenangan
dan  kealpaan.  Karena  itulah  ada  pesan  Ilahi  agar   kita
menegakkan  semua shalat, terutama shalat tengah, yaitu Ashar,
[15] dan agar kita mengisi waktu  luang  untuk  bekerja  keras
mendekati Tuhan.[16]


CATATAN
 
 1. "Sungguh berbahagialah mereka yang beriman, yaitu
    mereka yang khusyuk dalam shalat mereka..." (QS.
    al-Mu'minun 23:1-2).
 
 2. Hadits, dikutip a.l. oleh Muhammad Mahmud al-Shawwaf,
    Kitab Ta'lim al-Shalah (Jeddah: al-Dar al-Su'udiyyah li
    al-Nasyr, 1387 H/1967 M), hal. 9.
 
 3. Ibid.,hal. 13
 
 4. Ibid., hal. 24
 
 5. Doa pembukaan shalat ini sesungguhnya kita warisi
    dari kalimat Nabi Ibrahim a.s. dengan sedikit perubahan
    (yaitu tambahan kata-kata musliman), yang dia ucapkan
    sebagai kesimpulan proses pencariannya terhadap Tuhan
    Yang Maha Esa, sekaligus pernyataan pembebasan diri dari
    praktek syirik kaumnya di Babilonia. (Lihat QS.
    al-An'am/6:79 dan penuturan di situ tentang bagaimana
    pengalaman pencarian Nabi Ibrahim sehingga ia
    "menemukan" Tuhan Yang Maha Esa, ayat 74-83).
 
 6. Seruan ini pun berasal dari Kitab Suci, berupa
    perintah Allah kepada Nabi kita agar mengucapkan seruan
    serupa itu, sebagai kelanjutan semangat agama Nabi
    Ibrahim. Diadopsi dengan sedikit perubahan, yaitu dari
    "wa ana awwal al-muslimin" (dan aku adalah yang pertama
    dari mereka yang pasrah) menjadi "wa ana min
    al-muslimin" (dan aku termasuk mereka yang pasrah).
    (Lihat QS. al-An'am/6:161-162).
 
 7. Lihat, a.l., QS. al-Baqarah 2:48, 123 dan 254.
 
 8. Ada sebuah hadits yang amat terkenal, yang banyak
    dikutip para ulama kita, berkenaan dengan penjelasan
    Nabi saw tentang arti Iman, Islam dan Ihsan. Ketika Nabi
    saw ditanya tentang Ihsan (al-ihsan), beliau menjawab,
    "Al-ihsan ialah bahwa engkau menyembah Allah seolah-olah
    engkau melihatNya; dan kalau pun engkau tidak
    melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat engkau."
 
 9. QS. al-Hadid 57:4
 
10. QS. Thaha 20:14.
 
11. QS. al-Baqarah/2:156.
 
12. QS. al-A'raf/7:65.
 
13. Dalam Kitab Suci banyak kita temukan perintah Allah
    agar kita mempelajari sejarah dan mengambil pelajaran
    daripada Kitab Suci itu. Lihat, a.l. QS. Ali
    'Imran/3:137.
 
14. QS. al-Nisa'/4:103.
 
15. QS. al-Baqarah/2:238.
 
16. QS. al-Insyirah/94:7-8.

Thursday, January 5, 2012

TAKWA SEBAGAI SARANA MENGGAPAI CINTA ILLAHI



“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu”. (QS. Al Hujarat:13)

Secara semanti (bahasa) kata takwa berasal dari rumpun kata wiqayah yang berarti: “menjaga diri”. Yaitu menjalin tali cinta kasih kepada Yang Maha Kasih (hablun min Allah). Menjaga diri agar tidak terperosok ke dalam lembah kehinaan, menjaga diri agar selalu dekat denganNya. Atau penjelasan yang pernah diberikan oleh Agust Comte, yaitu Omni Present – yaitu selalu hadirnya Tuhan dalam diri kita. Inilah makna generik dari kata takwa yang selalu diserukan oleh para khatib tiap naik mibar jum’at. Dan menjadi impian setiap orang yang percaya akan adanya Allah sebagai Tuhan yang satau-satunya untuk disembah.

Dalam sebuah hadis Baginda Rasul Saw, menggambarkan dengan bahasa yang sederhana makna takwa ini, beliau mencoba menjelaskannya dengan bahasa keseharian manusia, sebagaimana terungkap lewat hadisnya di bawah ini:
“Pernahkah anda menjumpai jalan yang banyak duri dan bagaimana tindakanmu waktu itu? Orang itu menjawab: “Apabila aku melihat duri, aku mengelak ke tempat yang tiada durinya atau aku langkahi, atau aku mundur”. Nah, itulah arti takwa, jawab Rasulullah Saw”. (HR. Ibnu Abid dari Abu Hurairah)

Dari keterangan dan bunyi hadis di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa takwa itu adalah usaha yang berkelanjutan dan konsisten (baca istiqomah) agar tetap menjaga hubungan yang harmonis dengan Sang khaliq, sehingga hati kita akan tetap mengigat-Nya dalam kondisi apa pun. Jadi pengertian mengelak dari tusukan duri, adalah belajar dengan sungguh-sungguh membina konsistensi diri agar tidak merasakan sakitnya tertusuk duri. Maka dalam proses pembinaan diri dan pengendalian hawa nafsunya, manusia membutuhkan petunjuk (hidayah) yang berupa kitab sucinya. Karena fungsi kitab suci (Al Qur’an) yang terpenting adalah sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. (QS.2:2). Dalam surat Al Fatihah juga kita diingatkan agar selalu meminta petunjuk kepada Allah berupa jalan yang lurus, yaitu jalan yang mendapatkan keridhaan dari-Nya, dan bukan jalan kesesatan yaitu jalan thagut. Di sinilah mengapa Rasulullah Saw. mengajarkan kepada kita supaya mengelak dari duri tersebut, sehingga tetap berada dalam naungan kasih-Nya (keridhaan-Nya).

Sifat dan Ciri Orang yang Bertakwa

Bagaimana sifat dan ciri orang yang betakwa itu? Dalam sebuah riwayat , seorang sahabat Imam Ali ra. yang bernama Hammam, yang dikenal sebagai seorang ‘Abid (ahli ibadah) bertanya kepaddanya: “Wahai Amirul Mukminin, gambarkanlah untukku sifat dan ciri-ciri kaum muttaqin, sehingga aku seolah-olah memandang kepada mereka”. Mula-mula Imam Ali segan memenuhi permintaan itu, lalu ujarnya: “Wahai Hammam, bertakwalah kepada Allah dan berbuatlah kebajikan, sebab Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan berbuat kebajikan”.

Mendengar jawaban itu, Hammam belum merasa puas dan mendesak sekali lagi, sehingga Imm ali terpaksa memenuhi permintaan sahabatnya tersebut. Menurut Imam Ali ra. kaum muttakin memiliki sifat-sifat terpuji, sebagai berikut:
1.        Kebenaran merupakan inti ucapan mereka. Kata “kebenaran” adalah kata kunci yang menjadi pegangan bagi mereka yang haus akan cinta Rabbnya. Seluruh ucapan dan gerak-geriknya tetap berlandaskan pada kebenaran Illahiah, yaitu kebenaran yang menghantarkan mereka pada tahapan (maqam) yang tinggi di sisi Tuhannya. Orang yang bertakwa selalu mencari dan berusaha dengan sekuat tenaga agar tetap berada dalam naungan kebenaran. Karena Tuhan sendiri adalah “sang Kebenaran Absolut”.
2.       Kesederhanaan adalah “pakain” mereka dan kerendahan hati mengiringi gerak langkahnya. Sifat ini banyak dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah Saw., seperti Abubakar ra. yang rela hidup sederhana dan hampir semua harta miliknya dipakai untuk keperluan perjuangan menegakkan kalimah Allah. Begitu pula Umar bin Khattab ra. dan sahabat-sahabat lainnya. Mereka semua menjadikan kesederhanaan sebagai pakaian kesehariannya . Di samping itu, ketinggian pangkat dan semakin banyaknya ilmu, tidak membuat mereka lalu lupa diri, apalagi melupakan Tuhannya. Mereka tetap rendah hati walaupun bergelimangan dengan harta, karena mereka tahu bahwa harta dan kedudukan bukan menjadi tujuan hidupnya. Seluruh waktunya dimanivestasikan dalam bentuk penghambaan kepada Tuhan yang telah menghadirkan mereka di muka bumi.
3.       Menggunakan pendengaran mereka hanya untuk mendengarkan ilmu yang bermanfaat. Allah menciptakan seluruh anggota badan ini, tiada lain agar manusia bisa memanfatkannya kepada hal-hal yang terpuji. Yaitu kepada urusan yang membawa kemaslahatan bagi diri sendiri dan orang lain. Bukan sebaliknya dipakai untuk menghancurkan dan membawa prahara bagi diri dan orang lain. Pendengaran adalah salah satu organ tubuh yang dianggap mampu menangkap pesan-pesan Illahiah, pesan kedamaian, pesan keharmonisan, pesan ketakwaan, dan pesan-pesan lain yang penuh makna di dalamnya. Dari anggota tubuh ini tumbuh kepekaan nurani yang membuat manusia selalu merindukan Tuhannya. Semua yang ia dengar berubah menjdi kalam atau firman suci dari Tuhannya. Yang kemudian melahirkan rasa cinta yang mendalam atau penghargaan yang tiada tara. Pada taraf inilah orang-orang yang bertakwa mampu mendapatkan ilmu yang sangat mendalam (al hikmah), yang membuat hati mereka selalu terpaut dengan lautan cinta Sang Maha Kasih.
4.       Sabar dalam mengahadapi cobaan, begitu pula dalam menerima kenikmatan dari Tuhannya. Jiwa orang yang bertakwa selalu diliputi dengan ketenangan dalam menghadapi cobaan hidup, begitu pula ketika menerima nikmat dari Allah. Sungguh agung Sang Pencipta dalam hati mereka, sehingga apa saja selain Dia, menjadi kecil sekali dalam pandangannya. Begitu kuatnya keyakinan mereka tentang syurga, sehingga mereka merasakan kenikmatannya seolah-olah telah melihatnya. Dan begitu kuat keyakinan mereka tentang neraka, sehingga mereka merasakan azabnya dan mereka berusaha menghindar darinya. Hati mereka selalu diliputi kekhusyu’an. Mereka selalu menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong di sisi Tuhannya, karena mereka yakin bahwa orang-orang yang sabar akan bersama dengan Tuhannya. (QS.2:153).
5.       Mencintai Al Qur’an, sehingga mereka membaca dan mengamalkan kandungannya setiap saat. Di malam hari, mereka bangun untuk menjalin hubungan sembunyi dengan Tuhannya (tahajjud), membaca ayat-ayat tentang kebesaran Tuhannya dan menjadikan Al Qur’an sebagai penawar bagi segala penderitaannya. Mereka menjadikan kita sucinya sebagai media yang agung untuk berdialog dengan Sang Maha Kasih, yaitu Allahu Jalla Jalaaluhuu (Dzat Yang Maha Agung dan tiada duanya di alam raya ini). Dengan membaca Al Qur’an, mereka mengkhususkan dirinya untuk menjadi hamba Allah yang baik, yaitu orang yang cinta perdamaian, mencintai sesama tanpa melihat perbedaan warna dan latar belakangnya dan bahkan mencintai semua makhluk Tuhan di bumi.
6.       Teguh dalam menjalankan Agamanya. Keseharian mereka, tampak keteguhan yang penuh dengan keseriusan dalam menjalankan agama Allah (Al Islam). Mereka selalu patuh terhadap apa yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhkan diri dari larangan-Nya. Senantiasa menjaga keimanan dan berusaha untuk komit terhadap perjanjian awalnya di alam arwah dulu. Yaitu akan selalu menyembah Allah sebagai Tuhan satu-satunya, tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Mereka mengerjakan amal-amal shaleh tanpa kenal lelah dan selalu ihlas dalam beribaah kepada Tuhannya. Nafsu mereka selalu terjaga terhadap perbuatan-perbuatan yang tercela dan nista, karena mereka sadar bahwa perbuatan tersebut akan membawa mereka terperosok ke dalam jurang kesengsaraan.
7.       Suka meminta dan memberi maaf kepada sesamanya. Sifat atau ciri ini, bisa dibilang sifat yang jarang dimiliki oleh orang yang hanya mengaku ber-Islam, alias tidak semua orang yang beragama Islam memiliki sifat ini. Misalnya, ada orang yang mau meminta maaf atas kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya kepada kita, kadang-kadang masih banyak di antara kita yang senang memilihara dendam kesumat, ketimbang membuka hati untuk memaafkannya. Atau sebaliknya, kita juga begitu susahnya untuk meminta maaf atas kesalahan yang pernah kita perbuat terhadap saudara kita lainnya. Hal ini biasanya terjadi karena kita masih memiliki ke-aku-an (ego) dalam diri kita. Merasa bahwa kita adalah yang terbaik dari orang lain, yaitu merasa malu, hina, rendah, kalau seandainya meminta maaf duluan kepada saudara sendiri. Terlebih lagi kepada orang yang lebih rendah strata sosialnya. Rasulullah Saw. sebagai tauladan kaum muttaqin, adalah figur yang pantas untuk diikuti dalam hal ini. Betapa tidak, dengan kedudukannya yang begitu tinggi, sebagai Nabi dan Rasul, pemimpin umat, bahkan sebagai kekasih Allah, beliau tidak pernah sombong, angkuh, apalagi berbuat sewenang-sewenang terhadap orang yang lemah (kaum mustadh’afin). Saking cintanya kepada manusia, tidak tersisa sedikit pun rasa benci dan dendam dalam dirinya terhadap musuh-musuhnya. Sifat seperti ini, terlihat jelas ketika beliau diludahi, dilempari dengan kotoran unta, dicaci maki, bahkan beberapa kali diancam untuk dibunuh oleh para musuhnya, namun tidak menjadi alasan untuk membalas dengan perilaku yang setimpal, apalagi meminta dukungan untuk menghancurkan mereka. Karena Nabi sadar betul akan tujuan kehadirannya di bumi, yaitu sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam.

Inilah tujuh ciri utama mereka yang bertakwa yang digambarkan oleh Imam Ali ra. kepada Hammam. Dan bagi kita yang ingin menggapai taraf – maqam - ketakwaan seperti ini, maka sudah barang tentu harus dengan sungguh-sungguh menjalankan apa yang sudah diuraikan di atas. Semoga dengan cara ini kita akan bisa menggapai “Cinta Illahi” dengan penuh keridhaan dari-Nya. Allahu a’alum.