Wednesday, March 13, 2013

Yuk! Bantu Kami Selesaikan Gedung SMA Gratis Sekolah Rakyat Bogor

Pembangunan gedung SMA Gratis Sekolah Rakyat Bogor, alhamdulillah sudah mencapai 70%. Ini semua bisa terselenggara atas bantuan dan partisipasi dari para Dermawan yang telah menyalurkan dana zakat maupun infaqnya melalui Yayasan Sekolah Rakyat Bogor.

Gedung ini selain untuk sarana belajar siswa, juga diharapkan bisa bermanfaat sebagai sarana ibadah buat siswa dan guru-guru yang mengajar di Yayasan Sekolah Rakyat Bogor. Karena selama ini para siswa dan guru yang ingin shalat lima waktu biasanya menumpang di rumah salah satu pengelola TKB Mandiri Attin yang kebetulan juga berfungsi sebagai sekretariat Yayasan Sekolah Rakyat Bogor.

HArapan kami gedung Mushalla dan ruang belajar Siswa SMA Gratis Sekolah Rakyat Bogor ini akan bisa selesai sebelum bulan Juni 2013 ini, karena kami akan menerima siswa baru untuk tahun ajaran kedua. Saat ini siswa SMA Gratis kami berjumlah 23 Orang yang sebentar lagi akan naik ke kelas dua SMA. Dan sangat membutuhkan ruang kelas tambahan untuk belajar. Semoga saja di antara teman dan saudara yang membaca blog ini akan bisa membantu dan bisa bekerjasama dalam menyelesaikan pembangunan sarana pendidikan buat anak-anak SMA Gratis Yayasan Sekolah Rakyat Bogor tersebut.

Untuk kontribusi bisa menghubungi nomor pengurus di bawah ini Hp. 0822.2828.2889

Terimakasih atas partisipasi dan kontribusi positif teman-teman dan sahabat semua. Semoga gedung ini bisa selesai sesuai dengan harapan kami.

Wassalam,


Pengurus



Sunday, March 10, 2013

Sekolah Rakyat Perjuangan Mewujudkan Pendidikan Gratis

Buku sederhana ini sengaja dibuat untuk menceritakan bagaimana perjuangan dan sukses story para Pengelola Tempat Kegiatan Belajar Mandiri Yayasan Sekolah Rakyat Bogor. Selain itu tujuan penulisan buku ini adalah memberikan informasi kepada masyarakat Indonesia tentang bagaimana pengelolaan sekolah gratis untuk masyarakat pedalaman di berbagai pelosok negeri.

Dalam buku ini diungkap bahwa pendidikan adalah hak setiap anak. Oleh karena itulah mereka terus berjuang untuk bisa memberikan akses pendidikan yang mereka cita-citakan buat anak-anak didiknya. Mereka tak peduli seberapa panjang usaha yang diperlukan. Yang ada di benak mereka hanya bagaimana mendapatkan sekolah gratis bagi anak-anak yang selama ini terabaikan secara pendidikan, yang kemudian diberi nama Sekolah Rakyat.

Buku ini menjadi curahan hati para pengelola TKB Mandiri yang berada di bawah naungan Yayasan Sekolah Rakyat Bogor tentang apa yang telah mereka lakukan, peluang dan hambatan, apa yang mereka butuhkan, dan bagaimana hasil dari usahanya. Ada juga cerita dari para Guru-guru yang diminta untuk membantu mengajar. Guru tanpa tanda jasa. Dengan gaji yang tak layak dan bahkan kadang disumbangkan lagi untuk membeli kapur dan ATK sekolah. Untuk menghibur dirinya, para guru biasanya mereka mengatakan: "Allahlah yang akan menggaji kami".

Ada juga cerita dari murid-murid. Rata-rata ketika mulai masuk sekolah umurnya di atas sepuluh tahun. Ibarat tanaman, dahannya sudah mulai mengeras sehingga agak sulit untuk dibentuk.Ada juga cerita siswa yang dijemput orang tuanya sedang asyik belajar bersama teman-temannya di kelas untuk membantu orang tuanya di ladang atau sawah. Semua itu terjadi karena terbatasnya pemahaman orang tua mereka akan pentingnya arti pendidikan bagi masa depan anak-anak mereka.

Bagi sang Ayah, anak membantu di ladang adalah keharusan, karena dianggap mampu memberi tambahan pemasukan keuangan buat keluarga di rumah. Sementara kalau mereka belajar di sekolah, hanya menghabiskan waktu dan tidak menghasilkan tambahan keuangan buat keluarga. Namun ada yang dilupakan oleh sang Ayah, bahwa anak-anak mereka harus berpacu dengan zaman yang semakin "keras" dan untuk memenangkan persaingan di masa depan adalah tidak mungkin tanpa ilmu pengetahuan yang memadai.

Makna penting buku ini, adalah mampu memberikan informasi yang real bagi masyarakat Indonesia bahwa di berbagai pelosok negeri masih terdapat banyak sekali anak-anak usia sekolah yang belum mendapatkan akses pendidikan dengan layak. Dan yang lebih mengagetkan adalah, itu semua adanya di Kabupaten Bogor, yang notabene letaknya radius dua jam perjalan dari ibu kota Negara Republik Indonesia yaitu Jakarta.

Di sisi lain, banyaknya anak yang putus sekolah juga disebabkan oleh tidak terdistribusinya dengan baik anggaran pendidikan kita yang begitu besar itu.Hal ini disebabkan oleh banyaknya kasus korupsi yang terjadi di hampir semua lini pemerintahan kita, sehingga anak-anak kita menjadi korban dan terhalang cita-citanya untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Hak mereka dimakan dan dirampok oleh para koruptor yang berdasi itu. 

Sekali lagi, pendidikan anak-anak Indonesia adalah tanggungjawab bersama yang harus dikelola dan diawasi bersama. Akhirnya saya ingin katakan, semoga buku sederhana ini bisa menginspirasi anak muda Indonesia agar mau berbuat sesuatu bagi kemajuan pendidikan anak-anak di lingkungan mereka yang belum mengenyam bangku sekolah.

Salam perubahan!

Tuesday, October 30, 2012

Anak Putus Sekolah

7.041 Anak di Depok Tidak Sekolah

Marieska Harya Virdhani
Senin, 29 Oktober 2012 18:13 wib
Ilustrasi: anak-anak usia wajib belajar. (Foto: dok. Okezone)
Ilustrasi: anak-anak usia wajib belajar. (Foto: dok. Okezone)
DEPOK - Sebanyak 7.041 anak usia tujuh sampai 13 tahun di Kota Depok diketahui tidak sekolah. Padahal dalam penilaian Adipura, Kota Depok masuk dalam kategori sebagai Kota Metropolitan atau Kota besar.

"Benar, ada 7.041 anak usia sekolah tidak bisa sekolah. Ini merupakan tanggung jawab bersama. Perlu partisipasi dari semua elemen masyarkat untuk menanggulanginya," ujar Wakil Wali Kota Depok Idris Abdul Shomad, Senin (29/10/2012).

Karena itu, Idris telah memerintah seluruh stakeholder mulai dari camat, lurah, guru dan masyarakat melakukan inventarisasi untuk mendata keberadaan anak yang tidak sekolah tersebut. "Saya instruksikan camat, lurah, dan guru untuk segera mendata anak-anak tersebut," pinta Idris.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok Muhammad Nurdin mengatakan, pihaknya tengah melakukan pendataan dan akan memetakan terlebih dahulu menjadi dua kelompok, yaitu yang masuk pendidikan normal, dan nonformal. Untuk nonformal biasanya sudah melewati batas usia 19 tahun. Kategori nonformal akan dimasukkan dalam program pendidikan paket A dan C. Sedangkan yang formal akan dimasukkan dalam kegiatan proses kegiatan belajar mengajar biasa. "Kita minta para kepala UPT bersama kelurahan dan kecamatan mendata terlebih dahulu. Kalau sudah konkret baru kita selesaikan," janji Nurdin.

Saat ini, kata Nurdin baru dilakukan pemetaan, dan belum ada data riilnya. Salah satu contoh ditemukan di RW 03, Kelurahan Leuwinanggung, sebanyak 25 warga tidak sekolah. Namun setelah dilakukan pendataan ternyata 20 orang berusia 70 tahun, sedangkan sisanya sebanyak 15 orang berusia di bawah 40 tahun.

"Jadi, hanya 15 orang yang kami bina," tuturnya.(rfa)

Tuesday, October 9, 2012

Melihat Sisi Sosial dari Ajaran Agama




Layaknya sebuah agama, Islam memiliki dua dimensi yang kerap diangkat di permukaan. Yaitu sisi individu pengikutnya dengan Tuhan dan sisi sosialnya kepada sesama makhluk-Nya. Sisi Individu biasanya berupa hubungan vertikal seorang hamba secara langsung kepada Sang Khalik, sementara dimensi sosial lebih mengarah kepada bagaimana pengejawantahan nilai-nilai ke-Tuhanan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui tulisan singkat ini, saya ingin mengangkat mengenai pentingnya umat beragama, khususnya umat Islam untuk mengedepankan dimensi sosial dari ajaran agamanya. Sehingga agama akan kelihatan fungsinya sebagai alat perubahan untuk kesejahteraan umat manusia secara universal.
Dalam ayat Al Qur’an (Al Ma’un: 1-2) misalnya, Tuhan mengutuk orang yang beragama tanpa menghiraukan kondisi lingkungannya, sebagai orang yang telah mendustakan agama. Bahkan Dia – Tuhan mengutus para nabi untuk mengajarkan umatnya masing-masing tentang pentingnya memperhatikan dan mengayomi sesamanya. Maka dalam sebuah hadis yang masyhur, Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat buat orang lain”.

Menarik bila kita merenungi sabda nabi di atas. Beliau tidak katakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak rakaat shalatnya. Namun nabi lebih mengarahkan pandangannya kepada kemanfaatan umatnya kepada lingkungan social - kemasyarakatannya. Itu menandakan bahwa yang dimaksudkan oleh nabi adalah manusia yang unggul – manusia yang utama,  yaitu mereka yang banyak berkontribusi untuk kemaslahatan umat manusia dan makhluk Tuhan lainnya.

Di dalam Islam sebenarnya telah memberikan porsi yang sangat besar bagi mereka yang tidak mampu untuk mendapatkan pertolongan dan kasih sayang.  Layaknya manusia lainnya, mereka berhak untuk menikmati fasilitas yang sama yang telah dibentangkan oleh Tuhan di atas muka bumi-Nya ini. Misalnya yang berkaitan dengan Anak Yatim, Al Qur’an menyinggungnya sampai 23 ayat. Yang intinya agar setiap umat Islam mencurahkan kasih sayang, membantu, mendidik serta memeilihara mereka sebagaimana anak-anak mereka sendiri.  Al Qur’an menyebutkan bahwa berbuat baik kepada anak yatim dan dhu’afa merupakan salah satu tanda dari keimanan seseorang. Oleh karena itu, kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan pertolongan atau uluran tangan merupakan kewajiban social dalam Islam.

Adalah KH. Ahmad Dahlan, pendiri ormas besar Islam Muhammadiyah di Indonesia, ketika mengkaji dan mengajarkan tentang surah Al Ma’un kepada para santrinya, beliau tak segera pindah ke surah yang lain. Pada hal murid-muridnya merasa sudah menghafal, dan meminta untuk lanjut ke surah berikutnya. Apa jawab Pak Kiai? Baik, kalian memang benar  telah menghafal dan tau maknanya. Tetapi, bukankah surah ini memiliki arti khusus? Bahkan bernada mengancam kepada setiap orang yang beragama sebagai “Pendusta Agama” bila menelantarakan anak yatim dan fakir miskin. Apakah ada di antara kita semua yang sudah betul-betul mengamalkan surah Al Ma’un ini? Semuanya terdiam dan tak ada satu pun yang berani menjawab. Betapa pentingnya sebuah tindakan sosial dalam beragama, sehingga KH. Ahmad Dahlan mewanti – wanti kepada para santrinya untuk benar-benar mengamalkan isi dan kandungan dari surah Al Ma’un ini. Karena dengan cara itulah menurut Pak Kiai Dahlan, umat Islam akan bisa bebas dari ancaman Tuhan sebagai “Pendusta Agama”.

Hampir semua anjuran ibadah dalam Islam mengandung nilai sosial di dalamnya. Misalnya ayat yang mewajibkan ibadah shalat, selalu digandengkan dengan perintah menunaikan zakat. Itu menandakan bahwa ibadah shalat yang sifatnya vertikal, pada akhirnya harus membawa pelaksananya kepada kesalehan sosial, yaitu membantu manusia lain yang kurang beruntung melalui zakat, sedekah dan infak. Selanjutnya, ibadah puasa Ramadhan yang sifatnya sangan individual, juga diakhiri atau ditutup dengan kewajiban menunaikan zakat fitrah (zakat yang diwajibkan bagi setiap orang Islam, kecil maupun tua). Begitu pula, ketika kita melaksanakan perintah ibadah haji, juga diakhiri atau ditutup dengan ibadah qurban (menyembelih hewan qurban) sebagai bukti kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya. Dan ada lagi ibadah-ibadah lainnya yang bisa kita kaji secara mendalam tentang keterkaitan antara ibadah yang sifatnya individual dengan yang sifatnya sosial.

Bisa kita garis bawahi, bahwa berbuat kebajikan terhadap sesama manusia atau kepada makhluk lainnya, sama bobotnya dengan mendirikan shalat, berpuasa, dan menunaikan ibadah haji. Karena essensi dari semua ibadah yang telah dianjurkan oleh Tuhan, akan bermuara kepada penghargaan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal. Di situlah makna penting sabda Nabi Saw. di atas, bahwa “Sebaik-baiknya manusia, adalah mereka yang bermanfaat buat manusia lainnya”.  Allahu a’lam.





Wednesday, July 18, 2012

Lomojari Keterampilan Nasional SMP Terbuka 2012 Sekolah Rakyat Indonesia

Kotak Masuk

Sekolah Rakyat sekolah.rakyat@ymail.com
17 Jul (1 hari yang lalu)

ke abdurokhman, achmad_m, ahmad.haris, apriyadi, arfan.damari, ARIF, arismailku, Ariyadi, aromli41, arya.fajar, asep, baitulmaal_buk., Bu, datapura, Dinar, hendra.permana, jawir.jariyanto, kholifatullah, Anugerah, roli.hamso, syamsudin, warehaouse, widodo_66, yanuar_2000, Yayan
Selasa, 17 Juli 2012 - 12:03:36 WIB
LOMOJARI Keterampilan Nasional SMP Terbuka 2012
Diposting oleh : Shofi
Kategori: Berita - Dibaca: 29 kali
Lomba Motivasi Belajar Mandiri (LOMOJARI) Keterampilan Tingkat Nasional Siswa SMP Terbuka merupakan kegiatan rutin tahunan yang diadakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kegiatan ini bertujuan untuk memotivasi dan menyemangati para siwa SMP Terbuka untuk menunjukkan hasil keterampilan yang diperolehnya di bangku sekolah.

Sebanyak 50 SMP Terbuka mengikuti Lomojari keterampilan ini. Diantara seluruh peserta tersebut, terdapat 4 sekolah yang merupakan TKB Mandiri Yayasan Sekolah Rakyat Indonesia. Mereka adalah TKBM Al Fajri Kabupaten Bogor, TKBM Cahaya Kota Bogor, TKBM Habiburahman Tanggerang, dan TKBM Montong Buwuh NTB.

Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 9-11 Juli 2011 ini menampilkan beberapa jenis keterampilan. Mulai dari keterampilan tata boga, tata busana, griya,dan salon kecantikan.

TKBM Cahaya Kota Bogor menampilkan produk tata boga yaitu minuman sari buah. TKBM Al Fajri Kabupaten Bogor menampilkan pajangan kedaerahan dari barang bekas dan sablon. TKBM Habiburahman Tanggerang menampilakan produk tata busana yaitu sablon kaos dan menjahit. TKBM Montong Buwuh NTB menampilakan produk griya yaitu kerajinan lidi.

Alhamdulillah Siswa kami dari Tempat Kegiatan Belajar Mandiri (TKBM) Al Fajri keluar sebagai juara kedua dalam LOMOJARI Keterampilan SMP Terbuka Tingkat Nasional ini. Selamat ya buat anak-anak SMP Gratis, khususnya anak-anak kami dari Kabupaten bogor.