Thursday, April 3, 2014

Berbuat Baik Walau Susah...

Ada pernyataan tua yang berbunyi: " Berbuat baik itu tak pernah kenal waktu dan zaman". Artinya kebajikan akan melekat sepanjang manusia itu hidup dan masih menghirup udara segar dunia.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita  dihadapkan pada banyak sekali persoalan. Ada persoalan besar maupun yang kecil yang melanda kehidupan kita, dan semua itu mau tidak mau kita sebagai mahluk hidup harus melewatinya dengan baik. Karena menyelesaikan persoalan hidup merupakan bagian dari amal perbuatan yang bajik di sisi Tuhan. Betapa pentingnya berbuat bajik ini, sampai Tuhan pun berfirman dalam surah al Ashr ayat 2-3 : " Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh (perbuatan kebajikan)".

Penjelasan mengenai apa itu perbuatan bajik, saya kira kita semua tahu apa saja yang termasuk dalam kategori perbuatan baik itu, bahkan Nabi yang Agung pun mengatakan dalam sabdanya bahwa senyum kita kepada saudara kita adalah merupakan bagian dari sedekah (baca ibadah). Dan membuang duri di tengah jalan agar tidak diinjak oleh orang lain pun merupakan bagian dari perbuatan bajik itu. Betapa mudah dan sederhananya berbuat kebajikan ini bagi mereka yang mempunyai kejernihan hati untuk melakukannya. Sebab walaupun senyum dan membuang duri di jalanan itu merupakan perbuatan yang mudah dan sederhana, namun tidak sedikit dari kita yang susah memberikan senyumannya kepada orang lain. Kenapa sebagian kita sulit untuk berbagi senyuman? Jawabannya, karena senyuman itu pekerjaan hati dan mereka yang hatinya jernihlah yang bisa selalu senyum walaupun dalam kondisi pahit dan derita.

Memiliki hati yang bersih (jernih) itu adalah kebahagiaan tersendiri yang harus disyukuri oleh setiap orang yang beriman. Karena dengan bersihnya jiwa, maka akan semakin mudah dan ringan bagi manusia untuk melakukan amal kebajikan dalam hidupnya, sekalipun mereka sedang dihadapkan dalam kondisi yang sulit. 

Menurut para kaum sufi, ketika batin manusia itu bersih dan hanya diperuntukkan bagi Tuhannya, maka Tuhan yang akan memberikan rejeki kepada mereka dalam kemarau maupun hujan tanpa perantara, tanpa harus bersusah payah atau pertolongan selain Tuhan. Dan sebaliknya, ketika batin manusia jauh dari Tuhan, maka rejekinya tidak akan datang kecuali dengan usaha susah payahnya siang dan malam. 

Pernyataan kaum sufi di atas, bisa dibilang menjadi buah dari perbuatan bajik manusia yang melakukannya dengan cara kuntinyu atau berkelanjutan (baca istiqomah). Sebab hanya orang-orang yang pandai memelihara tradisi kebajikanlah yang mampu meraih kenikmatan hakiki seperti yang diungkapkan para sufi tersebut. Yaitu mereka yang selalu berusaha sekuat tenaga dan pikiran untuk menyuguhkan segala kebajikan untuk umat manusia dan disertai dengan kejernihan jiwa dan batinnya. Maka Tuhan mereka pun tidak tanggung-tanggung membalasnya dengan hadiah-hadiah yang tiada bandingannya di dunia dan akhirat.

Berbuat baiklah walau sedang susah.... Karena Tuhan sedang menyiapkan sebuah hadiah yang tidak pernah diketahui oleh manusia buat mereka hamba-hambaNya yang selalu menjaga dan memelihara amal kebajikannya walau sebesar biji zarrah.

Allahu a'lamu

 

Monday, March 3, 2014

Cerita Seorang Pengasah 'Mutiara'

Written by Kahfi Dirga Cahya

Anak-anak Sekolah Rakyat Bogor dalam kegiatan belajar/DokAnak-anak Sekolah Rakyat Bogor dalam kegiatan belajar/DokNun jauh di sana, lahir seorang anak bertubuh mungil dengan bakat yang tak bisa diremehkan. Bima merupakan tempat anak ini tumbuh besar—tepatnya di daerah Rasabao, Nusa Tenggara Barat. Rasabao sendiri artinya adalah Kampung Baru.
Di kampungnya, anak ini digembleng menjadi seorang yang cukup dekat dengan agama Islam. Bahkan, ada istilah bahwa ‘maling pun harus bisa mengaji.’ Berkat itu pula, kampungnya tak pernah sepi dari suara mengaji—terutama saat waktu Maghrib tiba.
Ia adalah Munawar M. Ali. Laki-laki yang penuh semangat membara jika sedang berbicara pendidikan. Hal ini berkat semangat yang terbentuk di masyarakat kampungnya tentang pendidikan. Di mana hampir semua orang tua mengharuskan anak-anaknya untuk sekolah yang tinggi. Sekali pun harus berhutang untuk biaya pendidikan.
Besar di keluarga yang cukup relijius, Munawar kecil merupakan anak yang diimpikan oleh ayahnya untuk menjadi Qori Internasional. Prestasinya dalam dunia Qori dimulai sedari ia menjadi Qori Nasional termuda di Indonesia pada tahun 1988. Saat itu umurnya genap menginjak usia 14 tahun.
Dari ambisi ayahnya, ia kemudian ditempatkan di Perguruan Tinggi Ilmu Quran di Jakarta. Namun, tak bertahan lama—setahun setelah itu, ia akhirnya memutuskan untuk keluar dari kampus itu. Alasannya, kampus tersebut tidak menyediakan wadah yang luas untuk bekreasi.
“Cuma saya memang tidak terlalu sreg dengan PTIQ. Tidak terlalu semangat lihat kampus. Kampusnya kurang menghidupkan anak-anak untuk belajar,” jelas Munawar saat ditemui TNOL di Jakarta Selatan, Kamis 27 Februari lalu.
Keputusannya untuk keluar dari PTIQ harus dibalas dengan konsekuensinya menganggur selama lima tahun lamanya. Tapi, selama menganggur dirinya tetap aktif di berbagai seminar dan tempat kursus. Salah satunya—Al-Manaf—tempat kursus Bahasa Arab yang dimiliki Anis Matta.
Berkat kecerdikan dan bakatnya dalam mengaji, ia juga akhirnya mengabdikan diri untuk menjadi guru ngaji di beberapa rumah.
“Ngajar mengaji itu kadang saya jalan kaki,” kenang Munawar. Ia menuturkan setidaknya ada lima rumah yang ia singgahi untuk mengajar ngaji. Tiap rumah itu ia diberi gaji Rp 50-100 ribu rupiah per bulannya.
“Gaji ngajar mengaji itu untuk kuliah,” ucap Munawar. Akhirnya di tahun 1998 ia memutuskan kembali ke bangku pendidikan lewat tabungan yang dimiliki saat menjadi guru mengaji.
“Saya masih ingat, tabungan saya tiga juta lima ratus. Alhamdulilah, dari uang ini saya tabung untuk melanjutkan kuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta jurusan Pendidikan Tarbiyah,” cetusnya.
Potret kehidupan yang pahit
Sewaktu Munawar menginjak masa Aliyah, ia memiliki kegiatan rutin tiap minggunya. Munawar yang tinggal di rumah bibinya sembari sekolah itu, harus pulang ke kampung untuk mengambil kayu bakar dan beras tiap minggunya sebagai bekal dia tiap harinya di sana.
“Kami punya kebiasaan tiap hari minggu ambil kayu bakar di gunung. Karena hampir semua masyarakat memasak dengan kayu bakar,” cerita Munawar yang jarak antara rumah bibinya dan kampungnya berkisar 40 Kilometer.
Di keluarganya, ia sudah terbiasa makan tanpa lauk. Sekali pun ada lauk, itu harus dibagi sama rata. Karena gaji ayahnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak mencukupi menutupi sembilan anaknya.
“Saya ingat biasanya ayah sering memberi tahu kita sebagai anak-anaknya untuk makan pakai garam. Itu terjadi berhari-hari—tidak ada lauk. Salah satu yang menarik, yaitu makan pakai telur satu dibelah empat atau lima,” tutur Munawar yang kerap kali mendapat sumbangan beras dari kakak pertamanya, Nuraeni.
Hal itu pula yang membuat Munawar memutuskan untuk merantau ke Jakarta—cukup tahan untuk tidak makan di Ibu Kota. Baginya, itu merupakan sebuah kisah hidup dan pelajaran penting. Ia mengungkapkan bahwa pahit merupakan potret hidupnya. “Pahit sudah biasa dari potret hidup saya,” kenang Munawar.
Satu hal yang biasa ia amini dalam hidup yaitu perkataan Bunda Theressa, ‘kalau ingin menjadi orang besar, hargailah orang miskin—bahkan termiskin sekali pun’. Itu yang kemudian mengilhami Munawar untuk membuat suatu perubahan di salah satu daerah di Bogor.
Munawar juga menyontohkan perkataan dari Kiyai di film ‘Sang Pencerah’ bahwa orang besar adalah orang-orang dengan ilmu yang dimiliki. Rela membaktikan dirinya memberi pengajaran kepada anak-anak di gunung, kolong jembatan dan tidak punya akses pendidikan. “Besar itu memiliki kapasitas untuk membantu banyak orang,” kata Munawar.
Sekolah Rakyat
Sebuah momentum penting bagi hidupnya saat ia mulai memutuskan untuk bergelut di pembangunan dunia pendidikan. Awalnya, ia mulai membuat sebuah sekolah di Desa Tangil, Bogor.
“Banyak sekali anak-anak perempuan nikah di usia dini. Selain itu, anak-anak lainnya juga tidak bersekolah,” cerita Munawar.
Dengan melihat kondisi masayarakat seperti itu, pada tahun 2002 Munawar dengan teman-temannya berinisiatif untuk membuat sekolah gratis. Mulanya, mereka belum mempunyai gedung untuk menampung anak-anak. Namun itu teratasi, sesaat setelah mencoba mendekati sebuah yayasan untuk meminjamkan gedungnya—Daarul Funun.
Awalnya, Sekolah Rakyat ini menerima 35 anak untuk bersekolah di tingkat Sekolah Menengah Pertama. Setelah itu, perkembangannya cukup pesat. Ia mengadakan Jambore Sekolah Rakyat se-Bogor.
“Akhirnya teman-teman pada ngumpul. Kemudian tercetus gagasan untuk memformalkan lembaganya menjadi Yayasan Sekolah Rakyat Bogor,” kata Munawar yang mengatakan Sekolah Rakyat sudah berkembang di 23 titik di Kabupaten Bogor.
Kegiatan sosial ini kemudian tercium oleh pengelola Sekolah Rakyat Indonesia. Munawar kemudian berinisiatif mengundang Sekolah Rakyat Indonesia untuk bertemu di Panji Masyarakat yang sempat menjadi kantor Munawar.
“Awalnya saya diminta untuk jadi mitra di titik Bogor. Kemudian saya dipercaya untuk menjadi koordinator Kabupaten Bogor,” cerita Munawar yang menuturkan sekarang sudah ada 20 kabupaten yang ikut mendirikan Sekolah Rakyat di daerahnya.
Hambatan Sekolah Rakyat Bogor
Mereka adalah 'mutiara' yang siap bersinar Mereka adalah 'mutiara' yang siap bersinar Memulai sesuatu yang asing memang membutuhkan perjuangan dalam menghadapi rintangannya. Tak terkecuali pembentukan Sekolah Rakyat di Bogor. “Hampir setiap kali kami membuka TKBM (Tempat Kegiatan Belajar Mandiri), Halangan yang luar biasa datang dari pihak informal leader—tokoh masyarakat,” kata Munawar.
Ia beralasan, Bogor yang masih beranggapan sebagai wilayah pesantren—sehingga anggapan beberapa Kyai Ajengan bahwa sekolah yang diakui hanya pesantren dan mengajar Al-Quran. “Jadi yang kita alami adalah para Ajengan tidak merestui. Itu pun karen mereka belum paham dan saling kenal,” kata Munawar.
“Dalam teori perubahan kan ada defends-nya. Tapi kami sadar betul, teman-teman kita kasih pemahaman bahwa itu sebenarnya sesaat saja,” kata Munawar yang akhirnya mendapatkan dukungan mereka pada program Sekolah Rakyat ini.
Munawar menjelaskan bahwa biasanya ia dan teman-temannya sebelum melakukan TKBM mengajak obrol terlebih dahulu RT, RW dan kelurahan setempat. Jika mereka setuju, maka akan ada pembekalan calon wali murid dari Munawar.
“Penyuluhannya tentang pendidikan untuk anak-anak mereka. Jadi tidak selamanya anak-anak yang disuruh sekolah merugikan orang tua,” kata Munawar yang beralasan, biasanya para orang tua beranggapan anak-anak yang sekolah tidak bisa membantu orang tua di ladang untuk menghasilkan uang.
Namun, hal itu lama kelamaan mulai menghilang. Banyak orang tua yang paham akan pentingnya dunia pendidikan bagi anak-anak mereka. “Banyak teman-teman yang numpang sekarang banyak yang membangun gedung karena dikasih tanah wakaf,” Munawar meyakinkan.
Munawar sendiri menuturkan bahwa ciri perubahan berkaitan dengan manusia itu sendiri, tiga diantaranya yakni; Orang yang belum apa-apa sudah bertahan. Bahkan dia memasang badan untuk tidak boleh;  Ada orang yang ‘oke gue akan bantu’ tapi itu sebatas omongan; Ada orang yang membela mati-matian. Orang ini biasanya akan menghadapi semua jenis rintangan yang dihadapi.
“Untuk menemukan orang yang tipe ini tidak mudah. Kalau bahasa saya ‘kiriman Tuhan’,” kata Munawar yang beralasan bahwa orang ini biasanya datang ketika ia kehabisan akal.
Selain itu, ia juga sering menghadapi masalah dengan sekolah induk—salah satunya saat pemberian Dana BOS (Biaya Operasional Sekolah) dari pemerintah. Munawar mengatakan bahwa beberapa sekolah induk belum memahami arti sekolah mandiri Sekolah Rakyat.
“Yang dimaksud mandiri itu adalah terbentuknya sekolah gratis dari masyarakat. Bukan biayanya yang mandiri,” jelas Munawar yang mengatakan Sekolah rakyat merupakan program pemerintah.
Ia menuturkan, adanya Sekolah Rakyat merupakan kepanjangan dari pemerintah untuk meyediakan pendidikan kepada yang masyarakat yang tinggal di pedalaman. “Undang-Undang sisdiknas (sistem pendidikan nasional) memberikan garansi pada kami untuk begerak di lapangan,” katanya menjelaskan.
Masalah sumber daya manusia untuk mengajar juga merupakan masalah yang dialami oleh Munawar saat permulaannya. Pada akhir tahun 2006 ia kemudian on air di Radio Republik Indonesia (RRI) dalam mengampanyekan Sekolah Rakyat Bogor. Berkat itu, banyak para warga di daerah lain—terutama Jakarta—mengkhususkan dirinya datang ke Sekolah Rakyat Bogor untuk menjadi pengajar.
Munawar mengungkapkan bahwa Sekolah Rakyat Bogor juga tidak berlandaskan pada uang. Sehingga, para pengajar yang datang pun sukarela membantu. Namun, terkadang ia menemukan para pengajar yang meminta uang transportasi.
“Kalo orang bergerak karena uang, biasanya mereka gak tahan lama,” kata Munawar menanggapi permasalahan itu.
Berbuat nggak harus jadi orang kaya
Munawar pendiri Sekolah Rakyat di Bogor/Foto: KahfiMunawar pendiri Sekolah Rakyat di Bogor/Foto: KahfiKegiatan sosial itu biasanya akan bertahan dari tahun pertama sampai dengan tahun kelima. Itu pula yang melandaskan Munawar dalam Sekolah Rakayt Bogor ini. “Di tahun itu (satu sampai dengan lima) gangguannya banyak. Kalau gak sabar, ya kabur,” Munawar meyakinkan.
Ia menambahkan tidak mudah bergerak di bidang sosial. Banyak teman-temanya yang mengatakan, ‘kok hebat banget, begrekan di bidang sosial. Bukannya kalau mau bergerak di bidang sosial harus kaya dulu’.
Menanggapi hal tersebut, munawar menjawabnya dengan santai, “Saya jawabnya gampang, kalo nunggu kaya dulu. Kapan bergeraknya. Apakah ada jaminan, Munawar jadi orang kaya,” ujarnya bertanya.
Ia mengatakan bahwa kaya itu terminologinya banyak. Kaya ilmu, kaya jiwa, kaya spiritual, kaya harta—semua itu bagian dari kaya.
Ia mengatakan, bahwa apakah orang kaya punya kepekaan sosial dan kemauan tinggi. Ia menambahkan banyak orang kaya, namun tidak memiliki kepekaan sosial dan empati sosial. “Di negeri ini banyak orang kaya, tapi gak punya empati sosial,” kata Munawar.
Ia menjelaskan bahwa kegiatannya ini mencoba menyentuh hati mereka. “Kenapa Umar mau membantu orang? Karena ada Muhammad yang menyentuhnya. Kenapa Abu Bakar menjadi orang dermawan, karena ada Muhammad yang menyentuhnya,” Munawar menyontohkan.
Menurutnya, masing-masing manusia ada pembagian tugasnya. Jadi, kalo paradigma ‘nunggu kaya raya dulu harus bisa berbuat’ itu merupakan hal yang keliru. Ia menyontohkan lagi bagaimana Bunda Theressa bilang ke Lady Di untuk mengenal Tuhan.
“Bunda Theressa mengajarkan untuk mencintai orang-orang atau anak anak yang gak makan, terlantar di pinggir jalan. Dia tidak pernah mengatakan ini lho Tuhan. Tapi Bunda Teresa paham betul, bahwa jelmaan Tuhan di bumi adalah orang miskin,” contoh Munawar.  Ia menambahkan, itu pula yang dikatakan oleh Nabi Muhammad dan Ibrahim.
Anak-anak penuh semangat
Banyak yang tidak paham bahwa Sekolah Rakyat merupakan bagian dari sekolah negeri. Bedanya, hanya kelasnya yang terletak di gunung. “Kita punya nis (nomor induk siswa), raport dan mereka ikut Ujian Nasional. Ijazahnya adalah dari induk,” Munawar meyakinkan.
Ia menyontohkan lewat TKBM amanah batasa yang berada di Caringin. Induknya ada di SMPN 1 Cigombong. Jadi SMP 1 Cigombong inilah yang akan mengeluarkan ijazahnya. Mereka juga tercatat namanya di SMPN1 Cigombong.
Mereka semua terjamin. Makanya Munawar selalu membesarkan jiwa mereka dengan kata-kata, “kalian tuh sama dengan anak-anak yang di kota.”  Harapannya agar anak-anak tidak minder dan seperti di bawah.
Awal dibukanya sekolah ini, anak-anak muridnya banyak yang malu menatap muka orang yang baru mereka kenal. Biasanya mereka selalu menunduk. Namun, hal itu dengan cepat teratasi lewat program yang dilakukan oleh Sekolah Rakyat Bogor.
“Mereka punya mimpi besar jadi dokter, pengusaha besar. Kita selalu mengakomodirnya lewat program rutin kelas profesi,” ujar Munawar. Jadi, Munawar menambahkan ada beberapa profesi yang dihadirkan ke kelas-kelas.
“Misal, ingin jadi polisi, kita hadirkan polisinya. Lengkap dengan seragam dan materi yang mereka punya,” Munawar menyontohkan.  Ia mengungkapkan kelas ini berguna agar ilmunya dapat dengan cepat terserap di otak para anak-anak.
“Esensinya adalah ilmu yang disampaikan pada anak-anak itu langsung menempel ke otak kanan. Kalau mengantarkan jadi orang suskes, kasih coaching,” kata Munawar yang percaya bahwa cara belajar seperti itu sangat cepat.
Belajar itu sendiri seperti yang dilontarkan Socrates dan Plato merupakan mengulang kembali yang ada di dalam diri kita. “Kenapa kita berani membetulkan pernyataan orang lain. Jawabannya, karena memang sudah ada dalam diri kita,” kata Munawar.
Belajar merupakan kegiatan mengulangi yang ada di dalam diri setiap orang. Jadi, sambung Munawar, jika memakai terminologi ini, tidak ada anak yang bodoh. Dari terminologi itu, sangat jelas bahwa manusia memiliki potensi yang sama untuk maju.
“Semua berpotensi jadi mutiara. Kalau mau mutiaranya bersinar, ya lumpurnya dihilangin. Manusia adalah mutiara yang sesungguhnya. Pendidikan punya tugas untuk mengasah mutiara kecil agar berkilau dan bersinar,” ungkap Munawar meyakinkan.(Sbh)

Friday, February 28, 2014

Munawar: Negeri Ini Butuh Pemimpin yang Paham Pendidikan

Penulis: Kahfi Dirga Cahya

Munawar, Inisiator Sekolah Rakyat Bogor/ Foto: KahfiMunawar, Inisiator Sekolah Rakyat Bogor/ Foto: KahfiTak dapat dipungkiri, dunia pendidikan merupakan gerbang untuk membangun bangsa yang lebih baik. Semua berbekal sumber daya yang mumpuni guna menciptakan suatu hal yang bersifat pembaruan. Tidak hanya itu, tapi juga berguna bagi pembangunan negara, dalam hal ini Indonesia.
Setiap negara ihwalnya punya rancangan sendiri terkait sistem pendidikannya. Dimana hal itu akan menentukan kemana arah output hasil pendidikan tersebut. Dan, itu yang kemudian membuat suatu bangsa besar. Sumber daya manusia yang punya kapabilitas.
Biasanya, rancangan pendidikan dibuat oleh pemimpin di sebuah negara. Idealnya, mereka akan menetapkan secara pasti, terkait sistem apa yang akan dipakai. Bangsa yang mapan tentunya tak akan berani mengganti sistem pendidikan yang sudah mapan.
Namun, yang terjadi—bangsa di luar itu, akan mudah berganti sistem pendidikan. Sehingga hasilnya jauh dari harapan. Hal ini pun terjadi di Indonesia. Negara yang dipijak oleh kita, belum punya standarisasi yang jelas mengenai sistem pendidikan. Alhasil, yang didapat jauh dari harapan.
Untuk itu, mendekati pemilu 2014 ini perlu dilihat bersama bahwa memilih pemimpin bukan sekadar berorientasi pembangunan (gedung dan ekonomi) semata. Tapi, bagaimana menghasilkan sumber daya manusia yang baik lewat pendidikan.
Majukan pendidikan
Inisiator Sekolah Rakyat Bogor, Munawar M. Ali mengatakan pada TNOL (28/2) bahwa perlu seorang pemimpin yang paham tentang dunia pendidikan. Sehingga masyarakat pada akhirnya dapat menuai hasil dari pendidikan dengan memuaskan.
“Poinnya, salah satunya adalah untuk bisa melahirkan dunia pendidikan yang bagus butuh pemimpin yang mengerti dunia pendidikan,” ujar Munawar yang mempersembahkan sekolahnya untuk masyarakat umum secara gratis.
Dunia pendidikan di Indonesia nyatanya memang perlu pembenahan dari berbagai sisi. Terutama dari segi ‘pengetuk palu’—dalam hal ini pemerintah. Sampai sekarang, pemerintah menurut penilaian Munawar tidak punya political will untuk memajukan pendidikan.
“Mendikbud (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) itu seharusnya orang yang memiliki political will. Sehingga pada akhirnya dapat memajukan dunia pendidikan Indonesia,” jelas Munawar.
Pasalnya, pemerintah di Indonesia dalam dunia pendidikan hanya berpikir keuntungan semata. Munawar sendiri melihat pendidikan di Indonesia merupakan bagian dari penerapan konsep komersialisasi pendidikan.
“Dunia pendidikan di Indonesia hanya mencari bagaimana bisa dapat keuntungan finansial. Maka, komersialisasi pendidikan di Indonesia luar biasa,” Munawar menilai.
Ia menuturkan banyak teman-temanya yang kuliah di luar negeri kemudian berkunjung ke Indonesia merasa kaget dengan sistem dan biaya pendidikan di sini. Salah satunya adalah mahalnya biaya untuk mendapatkan ilmu.
“Teman-teman saya yang kuliah di luar, terkaget-kaget dengan dunia pendidikan Indonesia yang sangat mahal,” cerita Munawar.
Di Indonesia sendiri banyak pendapat yang berkembang bahwa kalau ingin mendapatkan ilmu perlu biaya yang cukup tinggi. Hal itu juga diamini oleh Munawar. “Kalau mau mendapatkan pendidikan kualitas bagus, maka harus bayar mahal,” jelas Munawar.
Termasuk dia sendiri yang juga harus mengeluarkan biaya mahal untuk sekolah anaknya. Hanya untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang bagus tentunya.
“Saya juga harus bayar mahal untuk mendapatkan pendidikan yang bagus bagi anak saya,” ucapnya mengkritisi.
Belajar dari Negeri sebrang
Jepang tentunya merupakan negara yang harus dicontoh dalam dunia pendidikan. Pasalnya, negara matahari terbit itu pernah diguncang oleh bom besar, namun tindakan yang dilakukan untuk menyelematkan negaranya adalah lewat dunia pendidikan.
“Setelah kejadian itu, Kaisar Jepang langsung mengumpulkan para guru yang ada untuk dikuliahkan lagi agar bisa membangun Jepang,” cerita Munawar.
Selain itu, Malaysia yang pernah dikirim guru oleh Indonesia di tahun 70-an merupakan contoh lain yang perlu diikuti. Nyatanya, sekarang malah negaranya jauh lebih maju di sistem pendidikannya. Salah satunya lewat program Mahatir Muhammad yang menyuruh untuk menguliahkan para guru.
Lebih miris lagi, sekarang Indonesia malah jadi salah satu pengimpor TKI (Tenaga kerja Indonesia) ke Negara Itu. “Kemarin saya diundang ke Malaysia, saya menggelengkan kepala, pendidikannya sangat bagus,” tutur Munawar.
Banyak persepsi yang tidak mengenakkan dari proses pendidikan di Indonesia. “Pendidikan di Indonesia berjalan di tempat. Kalo dikatakan mundur, iya,” kata Munawar.
Karenanya, ia menawarkan bahwa harus ada inventarisasi terhadap tokoh-tokoh—terutama anak-anak muda Indonesia yang cerdas. “Kalo meminjam kata Muhammad Natsir, kita harus melakukan inventarisasi tokoh-tokoh kita,” harapnya.
Ia juga menilai bahwa banyak anak-anak muda Indonesia yang cerdas. Apalagi anak-anak muda yang ada di luar. Mereka dibajak di luar oleh kepentingan asing, dalam kata lain Negara lain. “Kenapa presiden gak panggil mereka. Siapkan tempat buat mereka berkreasi. Besarkan bangsa sendiri,” jelas Munawar menyayangkan.
Ia berharap di era sekarang ini, Indonesia lebih meperhatikan lagi pendidikan sebagai ujung tombak pembangunan. “Di era reformasi, coba kita jadikan pendidikan sebagai ujung tombak pembangunan,” tutup Munawar memastikan.(Sbh)

Thursday, February 27, 2014

Arti Anak Buat Orang Tua

Anak adalah amanah (titipan) Allah buat orang tuanya. Karena dia merupakan titipan, maka sudah sewajarnya bagi orang tua yang dititipi amanah harus menjaga, memelihara dan mengayominya agar mereka tumbuh dan besar sesuai harapan yang telah memberi amanah, yaitu Allah Ta'ala.

Di samping itu anak membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya, sebagaimana Tuhan telah menyayangi dan mencintai para HambaNya. Bahkan ada yang bilang: "Anak adalah harta yang mahal buat orang tuanya". Artinya anak merupakan future (masa depan) buat orang tua dan keluarganya.

Sehubungan dengan persoalan di atas, Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah pernah berkata: " Didiklah anak anakmu dengan ilmu yang sesuai dengan zamannya.Karrena mereka hidup bukan pada zaman kalian". Pernyataan Imam Ali di atas, mempunyai makna yang jauh ke depan (visioner), di mana orang tua dituntut untuk mendidik dan membimbing putra putrinya dengan ilmu pengetahuan dan berusaha keras untuk memperkenalkan Tuhan kepada anak-anaknya. Dengan demikian anak-anak kita akan tumbuh ddan berkembang menjadi anak yang paham akan makna dan tujuan hidupnya dan yang lebih penting adalah mereka mengenal Sang Penciptanya - yaitu Allah SWT. Alhasil, orang tua yang mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang akan berhak mendapatkan predikat sebagai orang tua yang baik. Dan akan mendapatkan rahmat dan kasih sayang dari Tuhannya di akhir hayatnya. Sebagaimana bunyi doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw. yang berbunyi:" Ya Tuhanku...Ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku dan sayangilan mereka berdua sebagaimana mereka telah menyanyangiku di waktuku kecil".

Dari teks doa tersebut sangat terlihat bahwa orang tua yang akan mendapatkan kasih sayang dan ulurang tangan anak-anaknya di masa tuanya adalah mereka yang telah menginvestasikan kasih sayangnya untuk anak-anaknya di waktu mereka masih kecil. Itulah poin penting yang bisa kita petik dari substansi doa yang selalu kita pintakan buat kedua orang tua kita selama ini.

Doa yang yang sudah turun temurun ini, mengajarkan kepada kita bahwa betapa pentingnya memperlakukan anak dengan penuh kasih sayang dalam kehidupan mereka, agar mereka tumbuh menjadi anak-anak yang tahu berbalas budi alias berakhlak mulian kepada orang tuanya atau lingkungan sekitarnya.

Sebliknya orang tua yang memperlakukan anak-anak mereka dengan kekerasan atau dengan perilaku yang tidak baik atau kasar, maka anak-anak mereka pun akan tumbuh dan besar menjadi anak-anak yang memiliki perangai yang tidak baik pula.  Di sini akan berlaku hukum causalitas - hukum sebab akibat. Meminjam ungkapan Kahlil Gibran: "Anak adalah ibarat anak panah yang dilepas dari busurnya". Artinya orang tua mempunyai andil yang besar dalam mengarahkan dan membidik anak panah dari busurnya, sehingga dapat mengenai sasaran denga tepat dan jitu. Dengan kata lain, perilaku atau akhlak  anak-anak kita sangat bergantung bagaimana bimbingan dan didikan orang tua dan lingkungannya.

Sebagai penutup, Anak-anak kita adalah masa depan atau "sejarah masa depan" kita sebagai orang tuanya. Oleh karenanya, mereka harus mendapatkan hak-hak hidupnya sebagai anak-anak. Biarkan mereka tumbuh dan berkembang dengan alamiah dan fitrahnya sebagai anak-anak yang cerdas secara intelektual, cerdas secara emosional dan cerdas secara spiritual.

Wallahu a'alam..

Tuesday, February 25, 2014

Semangat Ilmu untuk Membantu Masyarakat...

Alkisah seorang murid yang sudah belajar bertahun-tahun pada seorang guru di sebuah gunung. Pada suatu malam gurunya berkata, "Kamu boleh pergi sekarang dan kembalilah ke dunia kehidupanmu sehari-hari".

Sang murid menjawab, Tuan guru, saya sungguh belum mempunyai rencana seperti itu dan bahkan tidak mengharapkan hal itu akan terjadi. Saya masih ingin terus tinggal di gunung yang sepi dari kebisingan kehidupan kota sehingga bisa terus belajar meditasi dan menyempurnakan diri di bawah bimbingan guru".

Tetapi sekarang justeru tiba-tiba gurunya yang mengubah semua itu.

Gurunya melanjutkan, "kembalilah ke dunia dan amalkan ilmu yang telah kamu pelajari untuk kebaikan masyarakat".

Dialog singkat sang Guru dengan muridnya di atas, adalah cerminan buat siapa pun yang pernah menuntut ilmu, untuk kemudian ilmu yang telah didapat bisa diamalkan dengan baik dan bermanfaat banyak untuk membantu manusia lain. Itulah prinsip dasar yang harus dilakukan oleh orang yang menuntut ilmu di mana pun mereka berada, yaitu menjalankan ilmunya untuk kepentingan masyarakat luas.

Dari cerita pendek di atas, mengingatkan saya kepada pesan Imam Syafii kepada pengikutnya, : "Sebelum menjadi pemimpin, maka belajarlah yang banyak, karena kalau kalian sudah menjadi pemimpin, maka tidak ada lagi waktu untuk belajar". Artinya ketika kita sudah menjadi pemimpin, waktu kita akan habis untuk melayani masyarakat siang dan malam. Karena hakikat jadi pemimpin adalah menjadi pelayan bagi rakyat yang dipimpin.

Sangat benar apa yang disampaikan oleh Imam Syafii dan sang Guru tadi, bahwa setiap kita diharuskan untuk mencari ilmu sebanyak mungkin selagi belum menerima amanah untuk memimpin masyarakat. Namun ketika ilmu sudah didapat, ada kewajiban untuk menyampaikannya untuk kemaslahatan umat dan bangsa.

Intinya adalah... Semangat ilmu hanya untuk membantu dan mensejahterakan manusia.

Selamat berkarya untuk kemajuan diri dan masyarakat luas!



Saturday, November 30, 2013

Acara Bedah Buku Sekolah Rakyat di UNMA Banten

Kamis, 28 November 2013 sekitar pukul 14.00 wib, ratusan mahasiswa memadati aula Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNMA Banten, mereka seksama mengikuti acara bedah buku Sekolah Rakyat. Acara yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia (HIMASABA) FKIP UNMA Banten ini menghadirkan pembicara Ira D. Aini (penulis buku), Munawar M. Ali (Ketua Umum Yayasan Sekolah Rakyat Bogor) dan Yeti Ursel (Dosen FKIP UNMA Banten), serta moderator oleh Suaedi Kurdiatna (Wadek III FKIP UNMA Banten).

Buku Sekolah Rakyat ini seakan menjadi risalah anak-anak bangsa dalam mewujudkan pendidikan gratis di negeri ini. Melalui fragmen catatan perjalanan penulis Ira D. Aini memotret pejuang pendidikan di pelosok kampung guna berjuang mengajak dan menyadarkan masyarakat akan pentingnya pendidikan untuk anak-anak mereka kelak. Misal, sebutlah di antara nama para pejuang itu ada Pak Cecep dan Pak Soleh.

Pak Cecep dan pak Soleh, adalah potret manusia yang memiliki komitmen yang sangat tinggi terhadap kelanjutan generasinya. Betapa tidak, mereka harus menempuh perjalanan yang sangat melelahkan tiap mendidik siswanya. Belum lagi menghadapi penentangan dari masyarakat dan tokoh setempat yang menganggap kegiatan mengadakan pendidikan umum diharamkan, karena yang boleh berkembang hanya pendidikan agama seperti pesantren.

Seperti dituturkan salah satu pembicara Munawar M. Ali bahwa sering kita dengar, bahwa pendidikan adalah hak setiap anak bangsa, namun yang mampu mewujudkan kalimat ini adalah orang sederhana seperti pak Cecep dan pak Soleh. Mereka memiliki dedikasi dan pengorbanan yang sangat tinggi untuk merealisasi sepenggal kalimat yang tertuang dalam UUD 45 itu. “Pendidikan adalah hak setiap anak bangsa”. Kenyataannya masih jutaan anak Indonesia yang berada di pelosok-pelosok negeri yang belum bisa mengenyam bangku sekolah. Ini realitas yang harus dijawab bersama oleh kita semua dengan cara berbuat sekecil apapun bentuknya untuk memberi akses kepada anak-anak negeri agar bisa tetap sekolah.

Peserta yang hadir merespon positif diselenggarakannya acara bedah buku ini. “Kegiatan semacam ini tentu dapat mencerdaskan mahasiswa, apalagi buku ini terkait dengan problematika pendidikan di tanah air yang akan bermanfaat bagi mahasiswa UNMA Banten, khususnya di FKIP,” ujar Arif.

“Buku ini bagus karena menceritakan nilai pengorbanan dalam melahirkan tunas-tunas baru yang mampu menjadi penerang kegelapan yang bernama kebodohan,” ungkap Fauziah salah satu peserta.
Di akhir acara, Munawar M. Ali selaku Ketua Umum Yayasan Sekolah Rakyat mengajak peserta untuk peduli dan terlibat aktif memajukan pendidikan dimulai dari lingkungan terdekat.

“Hemat saya, semakin banyak orang yang peduli terhadap pendidikan anak-anak pedalaman dan miskin ini, maka semakin besar juga peluang buat mereka untuk mendapatkan akses pendidikan. Dan dengan cara ini pula dunia pendidikan kita akan bisa terangkat dan maju. Kepedulian kita, akan menjadi lilin yang bisa menerangi lingkungan anak-anak Indonesia yang terabaikan nasib pendidikannya selama ini,” tutup Munawar. ***

Tuesday, March 19, 2013

Lomba Cerdas Cermat TKB Mandiri Sekolah Rakyat Bogor

Sabtu, 16 Maret 2013 merupakan hari yang menyenangkan bagi anak-anak didik Pengelola Tempat Kegiatan Belajar Mandiri (TKBM) Yayasan Sekolah Rakyat Bogor. Mereka datang dari berbagai kecamatan yang ada di Kabupaten Bogor untuk mengikuti Lomba Cerdas Cermat yang diadakan oleh Pengurus Yayasan Sekolah Rakyat Bogor. Untuk tahun ini dimulai di TKB Mandiri Mutiara Bangsa yang berlokasi di Desa Pagelaran Kec. Ciomas Kab. Bogor di bawah pengelolaan H. Saeful Millah.

Kegiatan ini akan diadakan satu kali dalam dua bulan. Atau empat kali dalam satu tahun. Mata lombanya beragam, ada cerdas cermat, futsal, hafalan surat pendek, pidato dalam bahasa Inggeris, kesenian, dan lain-lain. Program ini bertujuan untuk memotivasi para siswa agar lebih semangat dalam menempuh pendidikan di sekolah mereka masing-masing. Program seperti ini sangat ditunggu oleh anak-anak kami, karena selain dapat menambah semangat belajar, juga merupakan ajang perkenalan antar siswa yang ada di bawah naungan Yayasan Sekolah Rakyat Bogor. Bagi mereka kegiatan yang melibatkan orang yang banyak sangat diminati karena buat mereka pasti membawa kesenangan tersendiri.

Sebagai tahap awal, kegiatan lomba antar TKB Mandiri se Kabupaten Bogor ini, diikuti oleh 9 sekolah gratis dari 23 TKBM yang ada.  Sementara yang lainnya belum bisa mengikuti kegiatan karena jarak mereka yang jauh dan ditambah dengan biaya transport yang juga tidak sedikit. Biasanya dua kendala ini kerap menjadi kendala di setiap kegiatan yang kami adakan buat anak-anak kami. Mereka berharap ke depan akan ada jalan keluar agar mereka bisa ikut serta dalam mata lomba berikutnya yang rencananya akan diadakan di Kecamatan Rumpin Kab.Bogor.

Sementara pemenang lomba kali ini adalah, juara pertama diraih oleh TKB Mandiri Attin yang berlokasi di Desa Cibedug Kec. Ciawi, juara kedua diraih oleh TKB Mandiri Amerta yang berlokasi di Megamendung Bogor dan juara tiga diperoleh TKB Mandiri Amanah Batasa yang berlokasi di Desa Tangkil Kecamatan Caringin Bogor. Sebagai penghargaan dari Pengurus Yayasan Sekolah Rakyat Bogor, mereka yang menjadi juara diberi hadiah Piala dan Sertifikat. Harapan kami sebagai pengurus, semoga kegiatan ini dapat meningkatkan semangat belajar di kalangan siswa yang berada di bawah naungan Yayasan Sekolah Rakyat Bogor.

Salam perubahan untuk pendidikan Indonesia yang jauh lebih berkualitas!



Wednesday, March 13, 2013

Yuk! Bantu Kami Selesaikan Gedung SMA Gratis Sekolah Rakyat Bogor

Pembangunan gedung SMA Gratis Sekolah Rakyat Bogor, alhamdulillah sudah mencapai 70%. Ini semua bisa terselenggara atas bantuan dan partisipasi dari para Dermawan yang telah menyalurkan dana zakat maupun infaqnya melalui Yayasan Sekolah Rakyat Bogor.

Gedung ini selain untuk sarana belajar siswa, juga diharapkan bisa bermanfaat sebagai sarana ibadah buat siswa dan guru-guru yang mengajar di Yayasan Sekolah Rakyat Bogor. Karena selama ini para siswa dan guru yang ingin shalat lima waktu biasanya menumpang di rumah salah satu pengelola TKB Mandiri Attin yang kebetulan juga berfungsi sebagai sekretariat Yayasan Sekolah Rakyat Bogor.

HArapan kami gedung Mushalla dan ruang belajar Siswa SMA Gratis Sekolah Rakyat Bogor ini akan bisa selesai sebelum bulan Juni 2013 ini, karena kami akan menerima siswa baru untuk tahun ajaran kedua. Saat ini siswa SMA Gratis kami berjumlah 23 Orang yang sebentar lagi akan naik ke kelas dua SMA. Dan sangat membutuhkan ruang kelas tambahan untuk belajar. Semoga saja di antara teman dan saudara yang membaca blog ini akan bisa membantu dan bisa bekerjasama dalam menyelesaikan pembangunan sarana pendidikan buat anak-anak SMA Gratis Yayasan Sekolah Rakyat Bogor tersebut.

Untuk kontribusi bisa menghubungi nomor pengurus di bawah ini Hp. 0822.2828.2889

Terimakasih atas partisipasi dan kontribusi positif teman-teman dan sahabat semua. Semoga gedung ini bisa selesai sesuai dengan harapan kami.

Wassalam,


Pengurus



Sunday, March 10, 2013

Sekolah Rakyat Perjuangan Mewujudkan Pendidikan Gratis

Buku sederhana ini sengaja dibuat untuk menceritakan bagaimana perjuangan dan sukses story para Pengelola Tempat Kegiatan Belajar Mandiri Yayasan Sekolah Rakyat Bogor. Selain itu tujuan penulisan buku ini adalah memberikan informasi kepada masyarakat Indonesia tentang bagaimana pengelolaan sekolah gratis untuk masyarakat pedalaman di berbagai pelosok negeri.

Dalam buku ini diungkap bahwa pendidikan adalah hak setiap anak. Oleh karena itulah mereka terus berjuang untuk bisa memberikan akses pendidikan yang mereka cita-citakan buat anak-anak didiknya. Mereka tak peduli seberapa panjang usaha yang diperlukan. Yang ada di benak mereka hanya bagaimana mendapatkan sekolah gratis bagi anak-anak yang selama ini terabaikan secara pendidikan, yang kemudian diberi nama Sekolah Rakyat.

Buku ini menjadi curahan hati para pengelola TKB Mandiri yang berada di bawah naungan Yayasan Sekolah Rakyat Bogor tentang apa yang telah mereka lakukan, peluang dan hambatan, apa yang mereka butuhkan, dan bagaimana hasil dari usahanya. Ada juga cerita dari para Guru-guru yang diminta untuk membantu mengajar. Guru tanpa tanda jasa. Dengan gaji yang tak layak dan bahkan kadang disumbangkan lagi untuk membeli kapur dan ATK sekolah. Untuk menghibur dirinya, para guru biasanya mereka mengatakan: "Allahlah yang akan menggaji kami".

Ada juga cerita dari murid-murid. Rata-rata ketika mulai masuk sekolah umurnya di atas sepuluh tahun. Ibarat tanaman, dahannya sudah mulai mengeras sehingga agak sulit untuk dibentuk.Ada juga cerita siswa yang dijemput orang tuanya sedang asyik belajar bersama teman-temannya di kelas untuk membantu orang tuanya di ladang atau sawah. Semua itu terjadi karena terbatasnya pemahaman orang tua mereka akan pentingnya arti pendidikan bagi masa depan anak-anak mereka.

Bagi sang Ayah, anak membantu di ladang adalah keharusan, karena dianggap mampu memberi tambahan pemasukan keuangan buat keluarga di rumah. Sementara kalau mereka belajar di sekolah, hanya menghabiskan waktu dan tidak menghasilkan tambahan keuangan buat keluarga. Namun ada yang dilupakan oleh sang Ayah, bahwa anak-anak mereka harus berpacu dengan zaman yang semakin "keras" dan untuk memenangkan persaingan di masa depan adalah tidak mungkin tanpa ilmu pengetahuan yang memadai.

Makna penting buku ini, adalah mampu memberikan informasi yang real bagi masyarakat Indonesia bahwa di berbagai pelosok negeri masih terdapat banyak sekali anak-anak usia sekolah yang belum mendapatkan akses pendidikan dengan layak. Dan yang lebih mengagetkan adalah, itu semua adanya di Kabupaten Bogor, yang notabene letaknya radius dua jam perjalan dari ibu kota Negara Republik Indonesia yaitu Jakarta.

Di sisi lain, banyaknya anak yang putus sekolah juga disebabkan oleh tidak terdistribusinya dengan baik anggaran pendidikan kita yang begitu besar itu.Hal ini disebabkan oleh banyaknya kasus korupsi yang terjadi di hampir semua lini pemerintahan kita, sehingga anak-anak kita menjadi korban dan terhalang cita-citanya untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Hak mereka dimakan dan dirampok oleh para koruptor yang berdasi itu. 

Sekali lagi, pendidikan anak-anak Indonesia adalah tanggungjawab bersama yang harus dikelola dan diawasi bersama. Akhirnya saya ingin katakan, semoga buku sederhana ini bisa menginspirasi anak muda Indonesia agar mau berbuat sesuatu bagi kemajuan pendidikan anak-anak di lingkungan mereka yang belum mengenyam bangku sekolah.

Salam perubahan!

Tuesday, October 30, 2012

Anak Putus Sekolah

7.041 Anak di Depok Tidak Sekolah

Marieska Harya Virdhani
Senin, 29 Oktober 2012 18:13 wib
Ilustrasi: anak-anak usia wajib belajar. (Foto: dok. Okezone)
Ilustrasi: anak-anak usia wajib belajar. (Foto: dok. Okezone)
DEPOK - Sebanyak 7.041 anak usia tujuh sampai 13 tahun di Kota Depok diketahui tidak sekolah. Padahal dalam penilaian Adipura, Kota Depok masuk dalam kategori sebagai Kota Metropolitan atau Kota besar.

"Benar, ada 7.041 anak usia sekolah tidak bisa sekolah. Ini merupakan tanggung jawab bersama. Perlu partisipasi dari semua elemen masyarkat untuk menanggulanginya," ujar Wakil Wali Kota Depok Idris Abdul Shomad, Senin (29/10/2012).

Karena itu, Idris telah memerintah seluruh stakeholder mulai dari camat, lurah, guru dan masyarakat melakukan inventarisasi untuk mendata keberadaan anak yang tidak sekolah tersebut. "Saya instruksikan camat, lurah, dan guru untuk segera mendata anak-anak tersebut," pinta Idris.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok Muhammad Nurdin mengatakan, pihaknya tengah melakukan pendataan dan akan memetakan terlebih dahulu menjadi dua kelompok, yaitu yang masuk pendidikan normal, dan nonformal. Untuk nonformal biasanya sudah melewati batas usia 19 tahun. Kategori nonformal akan dimasukkan dalam program pendidikan paket A dan C. Sedangkan yang formal akan dimasukkan dalam kegiatan proses kegiatan belajar mengajar biasa. "Kita minta para kepala UPT bersama kelurahan dan kecamatan mendata terlebih dahulu. Kalau sudah konkret baru kita selesaikan," janji Nurdin.

Saat ini, kata Nurdin baru dilakukan pemetaan, dan belum ada data riilnya. Salah satu contoh ditemukan di RW 03, Kelurahan Leuwinanggung, sebanyak 25 warga tidak sekolah. Namun setelah dilakukan pendataan ternyata 20 orang berusia 70 tahun, sedangkan sisanya sebanyak 15 orang berusia di bawah 40 tahun.

"Jadi, hanya 15 orang yang kami bina," tuturnya.(rfa)

Tuesday, October 9, 2012

Melihat Sisi Sosial dari Ajaran Agama




Layaknya sebuah agama, Islam memiliki dua dimensi yang kerap diangkat di permukaan. Yaitu sisi individu pengikutnya dengan Tuhan dan sisi sosialnya kepada sesama makhluk-Nya. Sisi Individu biasanya berupa hubungan vertikal seorang hamba secara langsung kepada Sang Khalik, sementara dimensi sosial lebih mengarah kepada bagaimana pengejawantahan nilai-nilai ke-Tuhanan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui tulisan singkat ini, saya ingin mengangkat mengenai pentingnya umat beragama, khususnya umat Islam untuk mengedepankan dimensi sosial dari ajaran agamanya. Sehingga agama akan kelihatan fungsinya sebagai alat perubahan untuk kesejahteraan umat manusia secara universal.
Dalam ayat Al Qur’an (Al Ma’un: 1-2) misalnya, Tuhan mengutuk orang yang beragama tanpa menghiraukan kondisi lingkungannya, sebagai orang yang telah mendustakan agama. Bahkan Dia – Tuhan mengutus para nabi untuk mengajarkan umatnya masing-masing tentang pentingnya memperhatikan dan mengayomi sesamanya. Maka dalam sebuah hadis yang masyhur, Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat buat orang lain”.

Menarik bila kita merenungi sabda nabi di atas. Beliau tidak katakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak rakaat shalatnya. Namun nabi lebih mengarahkan pandangannya kepada kemanfaatan umatnya kepada lingkungan social - kemasyarakatannya. Itu menandakan bahwa yang dimaksudkan oleh nabi adalah manusia yang unggul – manusia yang utama,  yaitu mereka yang banyak berkontribusi untuk kemaslahatan umat manusia dan makhluk Tuhan lainnya.

Di dalam Islam sebenarnya telah memberikan porsi yang sangat besar bagi mereka yang tidak mampu untuk mendapatkan pertolongan dan kasih sayang.  Layaknya manusia lainnya, mereka berhak untuk menikmati fasilitas yang sama yang telah dibentangkan oleh Tuhan di atas muka bumi-Nya ini. Misalnya yang berkaitan dengan Anak Yatim, Al Qur’an menyinggungnya sampai 23 ayat. Yang intinya agar setiap umat Islam mencurahkan kasih sayang, membantu, mendidik serta memeilihara mereka sebagaimana anak-anak mereka sendiri.  Al Qur’an menyebutkan bahwa berbuat baik kepada anak yatim dan dhu’afa merupakan salah satu tanda dari keimanan seseorang. Oleh karena itu, kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan pertolongan atau uluran tangan merupakan kewajiban social dalam Islam.

Adalah KH. Ahmad Dahlan, pendiri ormas besar Islam Muhammadiyah di Indonesia, ketika mengkaji dan mengajarkan tentang surah Al Ma’un kepada para santrinya, beliau tak segera pindah ke surah yang lain. Pada hal murid-muridnya merasa sudah menghafal, dan meminta untuk lanjut ke surah berikutnya. Apa jawab Pak Kiai? Baik, kalian memang benar  telah menghafal dan tau maknanya. Tetapi, bukankah surah ini memiliki arti khusus? Bahkan bernada mengancam kepada setiap orang yang beragama sebagai “Pendusta Agama” bila menelantarakan anak yatim dan fakir miskin. Apakah ada di antara kita semua yang sudah betul-betul mengamalkan surah Al Ma’un ini? Semuanya terdiam dan tak ada satu pun yang berani menjawab. Betapa pentingnya sebuah tindakan sosial dalam beragama, sehingga KH. Ahmad Dahlan mewanti – wanti kepada para santrinya untuk benar-benar mengamalkan isi dan kandungan dari surah Al Ma’un ini. Karena dengan cara itulah menurut Pak Kiai Dahlan, umat Islam akan bisa bebas dari ancaman Tuhan sebagai “Pendusta Agama”.

Hampir semua anjuran ibadah dalam Islam mengandung nilai sosial di dalamnya. Misalnya ayat yang mewajibkan ibadah shalat, selalu digandengkan dengan perintah menunaikan zakat. Itu menandakan bahwa ibadah shalat yang sifatnya vertikal, pada akhirnya harus membawa pelaksananya kepada kesalehan sosial, yaitu membantu manusia lain yang kurang beruntung melalui zakat, sedekah dan infak. Selanjutnya, ibadah puasa Ramadhan yang sifatnya sangan individual, juga diakhiri atau ditutup dengan kewajiban menunaikan zakat fitrah (zakat yang diwajibkan bagi setiap orang Islam, kecil maupun tua). Begitu pula, ketika kita melaksanakan perintah ibadah haji, juga diakhiri atau ditutup dengan ibadah qurban (menyembelih hewan qurban) sebagai bukti kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya. Dan ada lagi ibadah-ibadah lainnya yang bisa kita kaji secara mendalam tentang keterkaitan antara ibadah yang sifatnya individual dengan yang sifatnya sosial.

Bisa kita garis bawahi, bahwa berbuat kebajikan terhadap sesama manusia atau kepada makhluk lainnya, sama bobotnya dengan mendirikan shalat, berpuasa, dan menunaikan ibadah haji. Karena essensi dari semua ibadah yang telah dianjurkan oleh Tuhan, akan bermuara kepada penghargaan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal. Di situlah makna penting sabda Nabi Saw. di atas, bahwa “Sebaik-baiknya manusia, adalah mereka yang bermanfaat buat manusia lainnya”.  Allahu a’lam.





Wednesday, July 18, 2012

Lomojari Keterampilan Nasional SMP Terbuka 2012 Sekolah Rakyat Indonesia

Kotak Masuk

Sekolah Rakyat sekolah.rakyat@ymail.com
17 Jul (1 hari yang lalu)

ke abdurokhman, achmad_m, ahmad.haris, apriyadi, arfan.damari, ARIF, arismailku, Ariyadi, aromli41, arya.fajar, asep, baitulmaal_buk., Bu, datapura, Dinar, hendra.permana, jawir.jariyanto, kholifatullah, Anugerah, roli.hamso, syamsudin, warehaouse, widodo_66, yanuar_2000, Yayan
Selasa, 17 Juli 2012 - 12:03:36 WIB
LOMOJARI Keterampilan Nasional SMP Terbuka 2012
Diposting oleh : Shofi
Kategori: Berita - Dibaca: 29 kali
Lomba Motivasi Belajar Mandiri (LOMOJARI) Keterampilan Tingkat Nasional Siswa SMP Terbuka merupakan kegiatan rutin tahunan yang diadakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kegiatan ini bertujuan untuk memotivasi dan menyemangati para siwa SMP Terbuka untuk menunjukkan hasil keterampilan yang diperolehnya di bangku sekolah.

Sebanyak 50 SMP Terbuka mengikuti Lomojari keterampilan ini. Diantara seluruh peserta tersebut, terdapat 4 sekolah yang merupakan TKB Mandiri Yayasan Sekolah Rakyat Indonesia. Mereka adalah TKBM Al Fajri Kabupaten Bogor, TKBM Cahaya Kota Bogor, TKBM Habiburahman Tanggerang, dan TKBM Montong Buwuh NTB.

Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 9-11 Juli 2011 ini menampilkan beberapa jenis keterampilan. Mulai dari keterampilan tata boga, tata busana, griya,dan salon kecantikan.

TKBM Cahaya Kota Bogor menampilkan produk tata boga yaitu minuman sari buah. TKBM Al Fajri Kabupaten Bogor menampilkan pajangan kedaerahan dari barang bekas dan sablon. TKBM Habiburahman Tanggerang menampilakan produk tata busana yaitu sablon kaos dan menjahit. TKBM Montong Buwuh NTB menampilakan produk griya yaitu kerajinan lidi.

Alhamdulillah Siswa kami dari Tempat Kegiatan Belajar Mandiri (TKBM) Al Fajri keluar sebagai juara kedua dalam LOMOJARI Keterampilan SMP Terbuka Tingkat Nasional ini. Selamat ya buat anak-anak SMP Gratis, khususnya anak-anak kami dari Kabupaten bogor.









Sunday, June 10, 2012

Menggerakkan Masyarakat Lewat Program Sederhana

Gambar Pembangunan Gedung SMA Sekolah Rakyat Bogor
Untuk melakukan perubahan terhadap masyarakat, hemat saya tidak perlu dengan program yang sifatnya elitis. Namun bisa juga dengan mengajak masyarakat untuk ikut ambil bagian dalam setiap program yang kita ingin lakukan. Artinya, untuk mengajak masyarakat untuk berubah, kita tidak bisa menunggu adanya program yang besar dan ideal baru berbuat. Dengan melakukan hal-hal yang sederhana dan kecil pun, sebenarnya akan mampu membawa perubahan kepada orang lain. Asalkan dilakukan dengan konsisten, atau meminjam istilah agama yaitu istiqamah (baca komitmen dan disiplin).

Dalam sebuah hadisnya yang populer, Rasulullah Saw. pernah bersabda: "Jangan kalian menunda pekerjaan yang bisa dilakukan hari ini untuk dikerjakan esok hari". Hadis ini memberi pencerahan kepada kita semua, akan pentingnya pola hidup yang konsisten dan disiplin yang tinggi. Tidak menunda pekerjaan yang bisa dilakukan sekarang untuk dilakukan esok hari adalah cara terbaik dan sederhana untuk merubah dan membenahi kondisi masyarakat menuju kondisi yang jauh lebih baik.

Ada dua ukuran yang sering dipakai oleh masyarakat dunia, ketika menilai maju tidaknya suatu negara, yaitu dengan melihat kualitas pendidikannya dan kualitas kesehatan masyarakatnya. Menjadikan dua hal ini sebagai alasan, kiranya tidak berlebihan saya menganggap bangsa Indonesia masih perlu peningkatan dan pengembangan yang cukup ekstra. Dengan memperhatikan masih banyaknya anak usia sekolah yang belum mengenyam pendidikan di beberapa daerah di Indonesia. Begitu pula dengan kondisi kesehatan masyarakatnya yang masih banyak dan belum menikmati layanan kesehatan murah di mana-mana. Kasus terakhir yang mencuat ke khalayak ramai, membuktikan bahwa tidak sedikit masyarakat miskin dan tidak mampu yang kena busung lapar, TBC, malaria, DBD, dan lain-lain. Dan banyak di antara mereka yang meninggal dunia karena tidak mampu membayar biaya rumah sakit dan memilih tidak berobat ke dokter dengan alasan biaya obat yang mahal. Demikian juga yang terjadi di dunia pendidikan, anak-anak usia sekolah itu pun memilih untuk tidak sekolah lantaran harus membantu orang tua di sawah dan ladang demi sesuap nasi.

Pengalaman kami mengelola kegiatan di Yayasan Sekolah Rakyat Bogor selama sepuluh tahun, memberi jawaban bahwa menggerakkan masyarakat agar mau sekolah memang tidak mudah. Tapi dengan kesungguhan dan keuletan dan dengan selalu melibatkan masyarakat dalam setiap kegiatan yang dilakukan, menjadi jawaban tersendiri untuk mencapai apa yang dinginkan. Seiring dengan perjalanan waktu, sebuah kegiatan sederhana dan dianggap kecil mungkin oleh sebagian besar orang, tapi karena dilakukan dengan sungguh-sungguh dan fokus, sehingga mampu menjadi mahnet tersendiri dalam upaya mencerdaskan anak-anak tidak mampu untuk bisa sekolah. Tidaklah berlebihan kalau saya menuangkan dalam tulisan sederhana ini, bahwa pada tahun ajaran baru 2012/2013 ini kami akan membuka lagi SMP Gratis Sekolah Rakyat sebanyak 15 sekolah lagi dari 18 sekolah yang sudah berjalan selama sepuluh tahun terakhir ini. Bahkan sebagai kelanjutan dari lulusan SMP Gratis yang sudah tamat, kami sedang membangun gedung SMA untuk menampung anak-anak lulusan dari SMP Gratis kami agar bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Kiranya kalau banyak orang yang ikut ambil bagian dalam menggerakkan masyarakat untuk membuka sekolah-sekolah gratis untuk masyarakat miskin yang berada di pedalaman wilayah Indonesia, pasti akan banyak anak-anak usia sekolah yang akan tertolong dan bisa mengenyam bangku sekolah.

Sebagai penutup dari tulisan sederhana ini, saya mengajak dan menghimbau kita semua agar juga mau mengulurkan tangannya untuk membantu dan memiliki kepedulian sekecil apapun agar mereka yang kurang beruntung di dekat kita bisa tetap sekolah. Dengan menyelenggarakan dan membuka SMP Gratis untuk mereka di area Anda.

Saturday, June 9, 2012

Mimpi Membangun Indonesia Lewat Pendidikan


Foto Acara Young Leader Summit GPF dan SRB
Ada ungkapan bahwa belajar tidak mengenal kata berhenti, ada juga hadis Nabi yang berbunyi: "Tuntutlah ilmu dari buaian ibu sampai ke liang lahat". Ungkapan barat juga berbunyi: "Long Life Education" yang artinya belajar sepanjang hidup.

Ungkapan-ungkapan di atas, menunjukkan kepada kita semua bahwa tugas mencari ilmu tidak boleh berhenti selama manusia itu masih bisa menghirup udara. Artinya pendidikan sangatlah penting bagi kelanjutan hidup umat manusia di muka bumi ini, begitu pula bagi anak-anak Indonesia yang berada di berbagai pelosok negeri.

Kemajuan suatu bangsa tidak boleh hanya diukur dari banyaknya sumber daya alam (SDA) yang dimiliki oleh mereka, akan tetapi kembali kepada bagaimana kualitas sumber daya manusianya (SDM). Sebab  manusia yang berkualitas, akan mampu membawa bangsanya menuju tempat yang terhormat dalam persaingan global. Tengoklah beberapa negara yang memiliki SDM yang berkualitas, seperti Singapura, negara yang berpenduduk lebih kurang empat juta jiwa dengan luas wilayah yang tidak luas, mampu menjadi bangsa yang disegani dan diperhitungkan oleh negara-negara lainnya dalam percaturan pergaulan Internasional. Begitu pula Malaysia, negara kecil yang dengan kebijakan pemerintahnya memajukan pendidikan, sekarang mereka mampu menjadi "macan" Asia Tenggara yang cukup disegani. Baik karena lompatan ekonominya dan juga SDM nya yang berkualitas.

Ada banyak negara dengan kebijakan dan keberanian elit pemerintahannya untuk memajukan dunia pendidikan, maka dalam kurun waktu 20-30 tahun mereka mengalami kemajuan yang signifikan. Misalnya India, China, Jepang, dan lainnya. Nah, dalam konteks Indonesia, sudah saatnya memiliki Political Will (Kemauan Politik) untuk memberi orientasi pada perubahan pembangunan dan sistem pendidikan kita yang jauh lebih baik secara komperehenship. Seperti hal-hal di bawah ini:

1. Menjadikan Pendidikan sebagai panglima dalam melakukan reformasi atau perbaikan bangsa ke depan.
2. Mengelola dana untuk pendidikan dengan efisien dan tepat sasaran. Sehingga anak-anak miskin yang berada di berbagai pelosok negeri bisa mendapatkan akses pendidikan dan tetap bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi (minimal lulus SMA).
3. Membersihkan birokrasi pendidikan dari praktek-praktek koruptif dan mafia di dunia pendidikan yang selama ini merajalela dari diknas pusat sampai daerah (kabupaten).
4.  Memberikan training atau pelatihan buat guru-guru atau pengelola lembaga pendidikan secara berkala, sehingga mampu menjalankan manajemen sekolah dengan baik dan benar.

Demikian beberapa hal yang sederhana yang bisa kita jalankan bersama dalam menata dan memperbaik kondisi pendidikan kita ke depan. Sebab Indonesia adalah milik kita yang harus diperbaiki bersama untuk kejayaan anak cucu kita kelak. Dan hemat saya, jawabannya adalah dengan memperbaiki sistem pendidikan dan pelaksanaannya dengan baik di lapangan.

Allahu 'alam.



Friday, June 1, 2012

Wisata Bombo Ncera, Kecamatan Belo - Kabupaten Bima


Bombo Desa Ncera merupakan salah satu obyek wisata alam menarik di Kabupaten Bima. Lokasinya sekitar 45 km dari Kota Bima tepatnya di Desa Ncera, Kecamatan Belo Kabupaten Bima.

Bombo Ncera mempunyai beberapa air terjun yang ketinggiannya mencapai sekitar 5 meter. Airnya hijau dan sejuk. Pemandangan alam yang sangat menakjubkan. Selain itu terdapat kolam renang alami yang berdinding batu alam dan tebing. Kolam-kolam tersebut terbagi dalam beberapa kategori disesuaikan dengan umur, atau kemahiran dalam berenang antara lain :
  • Bombo To’i (Bombo Kecil), yaitu tempat mandi anak-anak, 
  • Bombo Woha (Bombo Tengah) tempat mandi para muda mudi yang belum mahir berenang, karena kolam ini airnya hanya sebahu orang dewasa, kemudian 
  • Bombo Na’e (Bombo Besar) tempat mandi orang-orang yang sudah mahir berenang. Bombo Na’e merupakan kolam paling besar yang lebarnya sekitar 4 m dan panjangnya sekitar 10 m. Dulu sekitar Tahun 1980an Bombo Na’e adalah kolam paling digemari oleh anak-anak muda, karena biasanya disinilah ajang adu pantun Bima dilakukan. 


Biasanya kalau ada yang lagi kasmaran atau ada yang berebutan pacar mereka saling “Patu Cambe” satu sama lain, tapi setelah melakukan itu mereka tetap mandi bersama dalam kolam itu tanpa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. akan tetapi saat ini kebiasaan itu semakin memudar seiring perkembangan jaman.
Untuk mencapai obyek wisata Bombo Ncera kita bisa menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum. (khusnulhatimah)

Sunday, May 27, 2012

Mengenal Mutiarani, Siswi dengan Nilai UN Tertinggi se-Indonesia

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Minggu, 27/05/2012 06:10 WIB.
Mutiarani / Angling


Semarang, Mutiarani, murid kelas XII Akuntansi 1 SMKN 2 Semarang mendapatkan nilai tertinggi dalam kelulusan tingkat SMA/SMK/MA tahun 2012. Meski hidup dalam kesederhanaan, ia tidak pernah setengah-setengah dalam menempuh pendidikan.

Siswi yang dikenal pendiam tersebut tinggal bersama Ibu dan dua kakaknya yang sudah bekerja. Ibu Mutiarani, Sutarmi bekerja sebagai penjaga rumah milik pengusaha minyak di dekat rumahnya di desa Sutak RT6 RW4, Pudak Payung, Semarang. Sementara itu ayahnya, Juwarto meninggal sejak tahun 2007 lalu akibat penyakit ginjal.

Dengan penghasilan ibunya yang hanya Rp 600 ribu/bulan, tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti pelajaran di bimbingan belajar selain sekolah. Namun demikian ia mengakali hal tersebut dengan belajar rutin mulai pukul 19.00 WIB.

"Sampai rumah biasanya pukul 15.00 WIB terus istirahat sebentar setelah itu membantu ibu. Terus pukul 19.00 WIB disempatkan belajar," kata Mutiarani di sekolahnya, jalan Dr. Cipto, Semarang, Sabtu (26/5/2012).

Sementara itu kakak Mutiarani, Tri Utami mengatakan, adiknya setiap kali belajar tidak pernah jauh dari televisi. Meski demikian pihak keluarga tidak melarangnya.

"Kalau belajar tidak pernah jauh dari televisi. Tapi kami sekeluarga percaya kalau adek (Mutiarani) bersungguh-sungguh," katanya.

Mutiarani mengaku senang menonton televisi apalagi jika ada jadwal pertandingan sepak bola. Bahkan ia mengaku rela begadang setelah belajar jika tim favoritnya yaitu Barcelona berlaga.

"Tapi waktu ujian kemarin enggak bisa nonton soalnya remote televisi disembunyikan ibu," ungkapnya sambil tersenyum.

Selain itu, meskipun jarak antara rumah dan sekolah Mutiarani yang mencapai 18 Kilometer dan harus ditempuh menggunakan angkutan kota, Mutiarani mengaku tidak pernah satu kalipun terlambat ke Sekolah.

"Saya berangkat dari rumah pukul 05.45 WIB, jadi enggak pernah terlambat," aku Mutiarani.

Mutiarani dikenal sebagai murid pendiam dan kurang menonjol di sekolahnya. Meski demikian, menurut Kepala Jurusan Akuntansi SMKN 2 Semarang, Sri Sulasmi, Mutiarani termasuk murid yang selalu mendapatkan nilai pelajaran baik.

"Anak yang tadinya diperkirakan mendapatkan prestasi malah kalah oleh Mutiarani. Tidak menyangka karena anaknya pendiam," katanya.

Mutiarani lulus dengan nilai akumulatif bahasa Indonesia 9,5 lalu nilai bahasa Inggris 9,5, Matematika 9,7 dan Kompetensi 9,6. Nilai itulah yang membuat Mutiarani memiliki nilai tertinggi ujian nasional tahun 2012.

Dara kelahiran 27 November 1994 tersebut juga mengaku terkejut dengan hasil ujian yang sangat membanggakan tersebut.

"Tidak menyangka karena saat tryout banyak yang nilainya lebih tinggi," akunya.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin mengaku akan mengawal jika ada siswa berprestasi dan jika diperlukan pihaknya juga akan membuat surat rekomendasi.

"Kami akan mengawal siswa yang berprestasi dan jika perlu kami akan membuat rekomendasi bahwa siswa tersebut berprestasi," ungkap Bunyamin.


(mpr/mpr)

Wednesday, May 23, 2012

Mahalnya Pendidikan Masa Kini

Rabu, 23 Mei 2012, 18:22 WIB
Blogspot.com
Mahalnya Pendidikan Masa Kini
Pendidikan tinggi (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID,CIPAYUNG -- Apa sih ukuran pendidikan Indonesia? Pendidikan unggul dipandang dari sisi pengelola bila sarana belajar mengajar terbaik, materi ilmu pengetahuan diajarkan termaju, dan motivasi belajar.

Untuk mengukur keunggulan relatif suatu pendidikan formal seperti sekolah dan universitas atau pendidikan non formal seperti pelatihan dan seminar, bisa dengan mempertanyakan tiga unsur esensial yang saling berkaitan. Bangunan sekolah reyot atau alat praktek tak ada, ilmu pengetahuan diajarkan ketinggalan, atau guru sering tidak masuk mengajar, semua pasti buruk hasilnya. Karenanya ada dana operasional memperbaiki sarana sekolah dan uji kompetensi untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi.

Di Indonesia cukup banyak sekolah dan universitas masuk kriteria memiliki sarana bagus, kurikulum pelajaran mencontoh negara maju dan jumlah pengajar dengan gelar bergengsi lulusan luar negeri.
Sehingga nampaknya terlihat pendidikan Indonesia sudah unggul.

Namun dalam hal apa pun, termasuk pendidikan, ukuran keunggulan sesungguhnya adalah kualitas, bukan kuantitas. Jika hanya copy-paste ilmu pengetahuan dan teknologi dari negara atau pengajar lain kemudian diajarkan kembali, tidak mungkin unggul dibanding negara atau pengajar asalnya. Tanpa mencari sesuatu hal yang baru .

Contoh, dari hasil penelitian, tak sedikit mahasiswa yang hanya mencari gelar dengan jalan pintas seperti, membeli skripsi dengan membayar uang sebesar lima juta. Sedangkan dalam konteks pelajar SMA dalam menghadapi Ujian Nasional tak sedikit dari mereka yang bersantai-santai karena hanya mengandalkan kunci jawaban yang mereka beli dengan harga Rp 75.000 sampai Rp 100.000.

Masalah yang sering menimpa siswa-siswi di kota-kota besar yakni minat belajar. Jika di daerah-daerah pelosok siswa-siswinya mempunyai semangat yang besar untuk belajar walau dengan fasilitas minim, di kota-kota besar kebalikannya.

Di kota-kota besar mayoritas sarana pendidikannya lebih bagus, komplit serta nyaman. Akses yang bagus serta tenaga pendidik yang berkualitas. Tetapi justru dengan sarana “mewah” tersebut siswa-siswi-nya mayoritas tak memiliki minat belajar yang tinggi.

Ini bisa dilihat dari beberapa faktor, pertama siswa-siswi tersebut terlalu asik dengan kemajuan teknologi sehingga menurunkan minatnya akan belajar. Lalu dari sisi lain, terdapat siswa-siswinya yang lebih memilih membantu kedua orang tuanya mencari nafkah ketimbang untuk pergi sekolah, dikarenakan kondisi ekonomi. Tentunya hal ini sangatlah aneh, yang di daerah terpencil dengan fasilitas minim mati-matian berjuang demi pendidikan mereka tetapi yang di kota malah kurang sekali minat belajarnya.
Penulis: Dian Nugraha (SMAN 22), Steffani Agustin (SMAN 12), Lilis Uswatun Hasanah (SMAN 58), Yuliani dwi Pratiwi (SMAN 88)

Redaktur: M Irwan Ariefyanto
Sumber: SMA se Jakarta Timur

Tuesday, May 15, 2012

Mari Peduli Pendidikan!

Hari ini, selasa pagi (15/05) kami Yayasan Sekolah Rakyat Bogor yang berlokasi di Desa Cibedug Kecamatan Ciawi Bogor mendapat kunjungan tamu yang sekaligus teman lama saya waktu di Youth Islamic Study Club (YISC) Al Azhar dulu. Namanya Yulia Astuti Owner dari Moz5 Salon Muslimah yang sukses mengembangkan usaha salonnya di berbagai daerah.

Kawan saya ini, dibilang sukses di bidang kecantikan atau usaha salon muslimahnya dengan sistem franchise. Terbukti dengan berdirinya beberapa cabang usahanya di berbagai daerah. Sebutlah misalnya di Jabodetabek (13 lokasi), Banten (2 lokasi), Jawa Barat ( 4 lokasi) , Jawa Timur (4 lokasi) , Sumatera ( 2 lokasi) dan Kalimantan
 ( 1 lokasi).

Kedatangan mbak Yuli dan crewnya di Sekolah Rakyat Bogor adalah untuk bersilaturrahmi dan ingin berbagi bersama Guru-guru dan siswa kami, dengan memberikan layanan gratis berupa perawatan kecantikan dan refleksi kepada tenaga pengajar SMP Gratis SR Bogor dengan tema: "Berbagi Kebahagiaan dari Moayu Salon Muslimah untuk Guru". Sebagaimana diungkapkan Yuli kepada saya, kegiatan ini rutin dilakukan sebagai "bentuk bakti kami kepadamu guru". Karena gurulah maka saya bisa sukses dan menjadi seperti sekarang, ucap Yuli.

Pada kegiatan ini Moz5 Salon Muslimah yang mempunyai motto: "Untuk Kecantikanmu Hari ini dan Selamanya", juga memberikan sumbangan dana untuk pembangunan ruang kelas SMA Gratis yang sedang dibangun oleh pengurus Yayasan Sekolah Rakyat Bogor. Rencananya SMA Gratis ini sengaja disiapkan untuk menampung lulusan SMP Gratis yang baru saja tamat belajar tahun ini dan tahun sebelumnya.

Hemat saya, semakin banyak orang yang peduli terhadap pendidikan anak-anak pedalaman dan miskin ini, maka semakin besar juga peluang buat mereka untuk mendapatkan akses pendidikan. Dan dengan cara ini pula dunia pendidikan kita akan bisa terangkat nilai APK (Angka Partisipasi Kasar) nya, khususnya di Kabupaten Bogor dan daerah pedalaman lainnya di seluruh Indonesia.

Kepedulian kita, akan menjadi lilin yang bisa menerangi lingkungan anak-anak Indonesia yang terabaikan nasib pendidikannya selama ini.

Monday, May 14, 2012

Sumber Ilmu dan Keutamaannya

Dalam tulisan sederhana ini ijinkan saya menjelaskan sedikit dari mana sumber ilmu tersebut dan keutamaan ilmu dalam Islam. Secara singkat bisa dipaparkan dengan gamblang melalui pembahasan dua hal tersebut di bawah ini:

1. Sumber Ilmu

Ketika kita membahas masalah ilmu dalam pandangan Islam, terasa belum sempurna kalau belum menyinggung dari mana asal atau sumber ilmu tersebut. Persoalan ini dianggap penting untuk dikemukakan karena Islam memiliki pandangan tersendiri mengenai dari mana ilmu itu bersumber.

Di bawah ini ada beberapa pendapat yang bisa dijadikan acuan terkait dengan sumber ilmu dalam perspektif Islam, yaitu sebagai berikut:

a. Pendapat Afzalur Rahman dalam bukunya Qur'anic Science: "Bahwa al Qur'an merupakan sumber ilmu pengetahuan, yang telah memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pendidikan kebudayaan umat manusia". Pengaruhnya itu antara lain ialah penemuan-penemuan ilmiah dan pertumbuhan ilmu pengetahuan yang sangat pesat di dunia Islam abad ke-7 sampai dengan abad ke-14 M. Demikian pula lahirnya abad kebangkitan di benua Eropa yang memperkenalkan bangsa Eropa pada unsur-unsur pokok dalam kehidupan dan kebudayaan (yaitu pengetahuan, penelitian, penalaran, dan kebebasan) sehingga memungkinkan kterciptanya penemuan-penemuan modern dalam ilmu pengetahuan.

b. Pendapat Imam Al Ghazali dalam bukunya Ihya 'Ulum al-Din: "Jika seseorang ingin memiliki pengetahuan masa lampau dan pengetahuan modern, selayaknya dia merenungkan al Qur'an," selanjutnya al Ghazali menambahkan:"Seluruh ilmu tercakupdi  dalam karya-karya dan sifat-sifat Allah, dan al Qur'an adalah penjelasan esensi sifat-sifat dan perbuatan-Nya". Di sinilah adanya indikasi pertemuan antara al Qur'an dengan ilmu-ilmu yang ada.

c. Dalam bukunya Jawahir al Qur'an ( Mutiara-mutiara al Qur'an), yang ditulis setelah Ihya, lebih jauh al Ghazali mengatakan pada bab "Munculnya ilmu-ilmu klasik dan modern dari al Qur'an" sebagai berikut: " Prinsip ilmu-ilmu ini, yang telah kami jelaskan dan yang belum kami klarifikasikan, bukanlah di luar al Qur'an, karena seluruh ilmu ini diraih dari salah satu lautan pengetahuan-Nya, yaitu lautan karya-Nya".

d. Pendapat al Suyuthi (wafat 911 H/1505 M) dalam bukunya al Itqan fi 'Ulum al Qur'an: yang memiliki pandangan yang sama, bahwa al Qur'an mencakup seluruh ilmu-ilmu. Lebih lanjut al Suyuthi mengatakan: "Kitab Allah itu mengandung segala sesuatu. Tidak ada bagian atau problem dasar suatu ilmu pun yang tidak ditunjukkan dalam al Qur'an, seseorang dapat menemukan aspek-aspek menakjubkan pada ciptaan-ciptaan dimensi spiritual langit dan bumi, apa yang ada dalam bagian-bagian teragung pada cakrawala, dan yang ada di bawah lumpur, awal mula penciptaan".

2. Keutamaan Ilmu

Hemat saya, Islam dan al Qur'an sebagai kitabnya sangat tinggi menghargai ilmu pengetahuan, mendorong untuk mencarinya, dan memuji orang-orang yang menguasainya, termasuk di dalamnya menjelaskan tentang ilmu dan pengaruhnya di dunia dan akhirat kelak. Ini menunjukkan keutamaan ilmu dibandingkan dengan kebodohan (kegelapan).

Imam al Ghazali dalam bukunya Ihya 'Ulum al Din, pada bab tentang ilmu mencoba memberikan komentar terhadap sebuah ayat dalam al Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan ilmu dan orang yang berilmu, yang bersaksi di hadapan Allah. KAta al Ghazali:" MAka lihatlah bagaimana Allah SWT memulai dengan diri-Nya, keduanya dengan malaikat dan ketiganya orang-orang ahli ilmu. Dengan ini cukuplah bagimu untuk mengetahui kemuliaan, keutamaan, kejelasan dan kelebihan ilmu serta orang-orang ahli ilmu".

Ibnu Abbas ra. berkata:" Para ulama memperoleh beberapa derajat di atas kaum mukminin dengan tujuh ratus derajat, yang mana antara dua derajat itu ditempuh dalam perjalanan lima ratus tahun lamanya".

Di bawah ini beberapa alasan yang menunjukkan keutamaan ilmu dan orang yang berilmu dari Ibnu Qayyim al Jauziyyah sebagai berikut:
Pertama, Mereka yang diminta Allah Ta'ala untuk bersaksi terhadap keesaan-Nya adalah orang-orang yang berilmu, dan bukan kelompok manusia yang lain.

Kedua, Allah mengkonjugasi (menggabungkan) kesaksian orang-orang yang berilmu dengan kesaksian-Nya.

Ketiga, Allah mengkonjugasi (menggabungkan) kesaksian orang-orang yang berilmu dengan kesaksian orang-orang yang berilmu dengan kesaksian malaikat-malaikat-Nya.

Keempat, Allah mensifati mereka sebagai orang-orang yang berilmu. Ini menunjukkan bahwa ilmu itu diperuntukkan bagi mereka dan mereka adalah pemilik ilmu dan sahabat-sahabat ilmu.

Kelima, Allah SWT meminta diri-Nya "Saksi teragung" bersaksi kemudian meminta makhluk-makhluk-Nya yang terbaik untuk bersaksi, yaitu para malaikat dan orang-orang yang berilmu di antara hamba-hamba-Nya. (mnwr)